Risiko defisit fiskal, begini prospek obligasi pemerintah

Scoot.co.id – JAKARTA. Kinerja obligasi pemerintah diproyeksi berfluktuasi di tengah ketidakpastian geopolitik dan risiko fiskal.

Fixed Income and Macro Strategist Mega Capital Sekuritas Lionel Priyadi mengatakan, prospek pasar obligasi dalam jangka pendek positif akibat efek injeksi dana saldo anggaran lebih (SAL) sebesar Rp 100 triliun dari pemerintah. Namun ketidakpastian dari sisi geopolitik masih tinggi, walaupun Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump selalu mengirim sinyal campur aduk antara menginginkan damai atau melanjutkan perang.

“Sejauh ini investor global cukup puas dengan efek inflasi energi di AS yang lebih rendah dari ekspektasi,” ujar Lionel kepada Kontan, Kamis (16/4/2026).

TBS Energi (TOBA) Bagi Dividen Tunai US$ 8,88 Juta

Adapun untuk kasus Indonesia, kinerja obligasi pemerintah ke depan akan dipengaruhi sentimen defisit fiskal. Perhatian masih tertuju pada risiko defisit fiskal dengan target baru pemerintah sebesar 2,9%, naik dari rencana defisit fiskal sebelumnya yang sebesar 2,68%.

“Risiko defisit fiskal ini yang juga disoroti oleh investor asing,” ungkap Lionel.

Lionel melihat pemerintah berupaya meyakinkan investor asing dengan pertemuan yang terjadi belum lama ini. Akan tetapi investor asing cenderung bersikap taktis dengan memanfaatkan momentum positif SAL sembari bersikap wait and see terhadap realisasi defisit.

“Proyeksi yield SBN 10 tahun kami masih berfluktuasi di level tinggi 6,6% – 7% di kuartal kedua 2026, terutama mengingat efek tekanan depresiasi terhadap rupiah,” ucap Lionel.  

Rupiah Ditutup Menguat Tipis ke Rp 17.139 Per Dolar AS Hari Ini (16/4), Asia Perkasa

Sementara itu, Virine Tresna Sundari, Head of Fixed Income Samuel Sekuritas mencatat yield obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun berada di sekitar 4,25% pada hari Rabu (15/4/2026), setelah turun dalam perdagangan sebelumnya. Hal ini didukung optimisme solusi diplomatik konflik Timur Tengah yang meredakan kekhawatiran inflasi.

Penurunan harga minyak turut menekan risiko inflasi dan mengurangi peluang pengetatan lanjutan oleh The Fed, sehingga pasar memperkirakan suku bunga akan ditahan sepanjang tahun ini.

“Pelaku pasar juga tetap mencermati perkembangan geopolitik dan arah kebijakan moneter ke depan,” ucap Virine.

Virine juga mencatat pada segmen Fixed Rate (FR), pergerakan yield cenderung mixed di berbagai tenor acuan pada Rabu (15/4/202^6). FR0109 turun 2,2 bps ke 6,229%, FR0108 turun 1,2 bps ke 6,573%, FR0106 stagnan di 6,704%, sementara FR0107 naik 1,1 bps ke 6,679%, mencerminkan aliran dana yang relatif seimbang di sepanjang kurva.

Lalu, pada segmen SBSN, yield umumnya mengalami penurunan, dengan PBS030 turun 3,5 bps ke 5,951%, PBS040 tetap di 6,068%, PBS034 turun 4,1 bps ke 6,477%, dan PBS038 turun 2,4 bps ke 6,683%, menunjukkan sentimen yang mixed pada obligasi syariah.

Kenaikan Yield Mengubah Strategi Penerbitan Obligasi Korporasi

Dari sisi likuiditas, kondisi pasar menunjukkan perbaikan, dengan volume transaksi SUN meningkat 8,19% menjadi Rp35,01 triliun (dari sebelumnya Rp32,36 triliun), serta frekuensi transaksi naik 25,28% menjadi 3.856 transaksi (dari 3.078), mencerminkan peningkatan partisipasi investor.

Virine menyebut pergerakan mixed pada yield FR dan penurunan pada SBSN menunjukkan pasar berada dalam fase konsolidasi, dengan adanya permintaan selektif namun tanpa arah yang jelas. Pelemahan rupiah serta yield global yang stabil mengindikasikan pergerakan pasar cenderung sideways dalam jangka pendek.

Adapun, peningkatan volume dan frekuensi transaksi mencerminkan partisipasi yang lebih aktif, namun minimnya momentum menunjukkan investor masih berhati-hati dalam mengambil posisi.

“Ke depan, pasar diperkirakan tetap bergerak terbatas dengan preferensi pada seri FR benchmark yang likuid serta instrumen ber-yield tinggi secara selektif,” jelas Virine.

Terkait strategi, Virine menilai obligasi pemerintah tenor panjang (lebih dari atau sama dengan 10 tahun) masih berada di kuadran lagging, menunjukkan kinerja relatif yang lebih lemah dibandingkan obligasi benchmark 10 tahun. Beberapa tenor seperti obligasi pemerintah tenor 16 tahun, obligasi pemerintah tenor 20 tahun, dan obligasi pemerintah tenor 30 tahun cenderung bergerak lebih dalam ke area lagging tanpa tanda perbaikan.

Yield Mulai Terkerek, Biaya Utang Korporasi Berpotensi Naik pada Sisa 2026

Sebaliknya, obligasi tenor pendek hingga menengah (2 tahun – 7 tahun) sebagian besar berada di kuadran improving dan leading, mencerminkan kekuatan relatif yang lebih baik. Namun, beberapa tenor menengah seperti obligasi pemerintah tenor 7 tahun dan obligasi pemerintah tenor 5 tahun mulai bergerak menuju kuadran weakening, mengindikasikan adanya sedikit pelemahan momentum.

“Secara keseluruhan, tenor pendek masih outperform dibandingkan tenor panjang, meskipun momentumnya mulai melandai,” terang Virine.

Virine memproyeksikan yield SBN 10 tahun pada tahun 2026 berkisar 6,40% – 6,80%. Tren pasar yang lebih jelas akan bergantung pada arah yield global dan stabilitas nilai tukar rupiah.  

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *