Rupiah menguat ke Rp 17.333, begini arah rupiah (8/5) jelang rilis data cadev

Scoot.co.id JAKARTA. Nilai tukar rupiah menunjukkan performa yang mengesankan dengan penguatan signifikan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada Kamis (7/5/2026). Sentimen positif dari pasar global, terutama terkait potensi de-eskalasi konflik di Timur Tengah, menjadi motor utama penguatan mata uang Garuda.

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah di pasar spot sukses menguat 0,31% secara harian, menembus level Rp 17.333 per dolar AS. Tren serupa juga terlihat dari data Jisdor Bank Indonesia (BI), di mana rupiah tercatat menguat 0,24% secara harian, mencapai Rp 17.362 per dolar AS.

Chief Analyst Doo Financial Futures, Lukman Leong, mengonfirmasi penguatan rupiah ini didorong oleh harapan yang meninggi akan tercapainya kesepakatan damai antara Iran dan AS dalam waktu dekat, yang berpotensi membuka kembali Selat Hormuz. “Apabila hal ini terjadi, rupiah berpotensi kembali terus menguat ke depannya,” jelas Lukman kepada Kontan pada Kamis (7/5/2026).

Pabrik Raksasa Chandra Asri (TPIA) 66% Rampung, Siap Dongkrak Industri Kimia RI

Untuk pergerakan rupiah esok hari, Lukman memprediksi pasar akan mencermati sejumlah data ekonomi penting. Dari dalam negeri, fokus investor tertuju pada rilis data cadangan devisa Indonesia, sementara dari ranah internasional, data tenaga kerja Non-Farm Payroll (NFP) AS akan menjadi perhatian utama. Lukman memperkirakan rupiah pada Jumat (8/5/2026) akan bergerak dalam rentang Rp 17.250 hingga Rp 17.400 per dolar AS.

Senada, Analis Mata Uang, Ibrahim Assuaibi, juga menyoroti sinyal de-eskalasi konflik di Timur Tengah sebagai pemicu penguatan rupiah. Iran dilaporkan tengah mengkaji proposal perdamaian dari AS, dengan harapan tanggapan akan diberikan dalam 48 jam ke depan. Hal ini dianggap sebagai terobosan terdekat dalam upaya damai sejak konflik dimulai. “Adanya optimisme atas kemungkinan berakhirnya perang di Timur Tengah,” ujar Ibrahim pada Kamis (7/5/2026).

IHSG Rebound ke 7.174, Peluang Bullish Terbuka Jika Konflik Global Mereda

Mengulas prospek rupiah untuk esok hari, Ibrahim menjelaskan bahwa fokus pasar akan beralih pada data klaim pengangguran awal AS serta pidato-pidato dari para pejabat Federal Reserve (The Fed). Para pelaku pasar juga dengan antusias menantikan laporan ketenagakerjaan AS untuk bulan April yang akan dirilis pada Jumat, karena data tersebut sangat krusial dalam menentukan arah kebijakan suku bunga The Fed selanjutnya. Ibrahim memproyeksikan rupiah akan bergerak fluktuatif, namun berpotensi ditutup menguat di kisaran Rp 17.300 hingga Rp 17.340 per dolar AS.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *