Rupiah tembus Rp 18.000 per dolar AS, pemerintah diminta perbaiki kebijakan fiskal

Scoot.co.id – JAKARTA. Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali melemah pada Kamis (4/6/2026). Mengutip Bloomberg, rupiah di pasar spot melemah 0,46% secara harian ke Rp 18.049 per dolar AS. Secara year to date (ytd), rupiah telah terdepresiasi 7,91% dibanding posisi awal tahun di level Rp 16.725 per dolar AS. 

Achmad Nur Hidayat, Ekonom Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta menyoroti sikap pemerintah yang melihat pelemahan rupiah sebagai gangguan sentimen jangka pendek. Sementara pasar melihatnya sebagai cermin risiko jangka menengah. 

Achmad mengatakan, nilai tukar adalah termometer kepercayaan. Ketika termometer menunjukkan suhu yang terus meningkat, tugas dokter bukan sekadar berkata bahwa pasien masih sehat, melainkan mencari sumber demam yang sebenarnya. 

MYOR Kejar Penjualan Rp 41,85 Triliun dan Laba Rp 3,41 Triliun pada 2026

“Kalau kita mau jujur, sumber demam rupiah hari ini adalah fiskal. Pemerintah harus berhenti memperlakukan pelemahan rupiah sebagai gangguan komunikasi pasar semata,” ujar Achmad dalam keterangan tertulisnya, Kamis (4/6/2026). 

Achmad menyampaikan bahwa rupiah melemah karena pasar meragukan konsistensi kebijakan fiskal, disiplin belanja, kredibilitas pembiayaan, serta independensi kebijakan moneter. Selama akar fiskal ini tidak diperbaiki, intervensi Bank Indonesia hanya seperti menyiram lantai yang basah tanpa memperbaiki pipa yang bocor. 

Achmad juga membandingkan rupiah dengan mata uang Asia lainnya. Dia melihat hampir semua mata uang Asia memang tertekan oleh penguatan dolar, ketegangan geopolitik, kenaikan harga minyak, dan ekspektasi suku bunga Amerika Serikat yang bertahan tinggi. Namun, rupiah menjadi lebih rapuh karena faktor domestik memperbesar tekanan eksternal.

“Sepanjang tahun 2026, rupiah telah melemah lebih dari 7% terhadap dolar AS dan masuk kelompok mata uang emerging Asia dengan performa terburuk,” terang dia. 

Sementara itu, mata uang seperti dolar Singapura, ringgit Malaysia, baht Thailand, yuan China, dan won Korea Selatan juga tertekan, tetapi tidak semuanya mengalami tekanan sedalam rupiah. Ini menunjukkan bahwa pasar tidak hanya sedang membeli dolar, tetapi juga sedang menjual cerita Indonesia.

Cerita Indonesia yang dulu menarik adalah stabilitas makro, kehati-hatian fiskal, inflasi terkendali, dan Bank Indonesia yang kredibel. 

“Hari ini, cerita itu mulai retak. Moody’s dan Fitch telah menurunkan outlook Indonesia menjadi negatif,” kata Achmad. 

Achmad menyatakan bahwa pasar membaca kualitas angka dan arah kebijakan besok. Ketika pertumbuhan ekonomi banyak ditopang belanja pemerintah, sementara penerimaan negara tidak tumbuh sekuat kebutuhan belanja, pasar akan bertanya, dari mana semua janji program besar dibiayai. Masalahnya, APBN 2026 disusun dengan asumsi rupiah sekitar Rp 16.500 per dolar AS. 

Sebab itu, ketika kurs sudah menembus Rp 18.000 per dolar AS, berarti realitas pasar sudah sekitar 9% lebih lemah dari asumsi fiskal. Ini bukan selisih kecil. Ini selisih yang dapat mengubah hitungan subsidi, bunga utang, pembayaran valas, impor energi, dan kebutuhan pembiayaan.

“Rupiah melemah bukan hanya karena ada rumor. Rumor hanya pemantik. Kayu bakarnya adalah defisit yang melebar, utang yang mendekati Rp10.000 triliun, belanja bunga utang yang sangat besar, dan kekhawatiran bahwa APBN semakin dipakai sebagai mesin politik pertumbuhan, bukan instrumen stabilisasi ekonomi,” jelas Achmad.

IHSG Diproyeksi Cenderung Melemah pada Jumat (5/6), Simak Sentimen yang Membayangi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *