Ringkasan Berita:
- Rupiah tembus Rp 18.000 per dollar AS akibat faktor eksternal
- Konflik Timur Tengah membuat harga minyak dunia tetap tinggi, meningkatkan risiko inflasi global dan mendorong investor menarik dana dari negara berkembang, termasuk Indonesia
- Selain faktor global, tekanan terhadap rupiah berasal dari tingginya kebutuhan valuta asing untuk repatriasi dividen perusahaan dan pembayaran utang luar negeri
Scoot.co.id Tekanan terhadap rupiah kembali menjadi sorotan setelah nilai tukar mata uang Indonesia menyentuh level Rp 18.000 per dollar AS.
Di tengah meningkatnya kekhawatiran pasar global, Bank Indonesia menilai pelemahan rupiah tidak terjadi dalam ruang hampa, melainkan dipengaruhi kombinasi faktor eksternal dan domestik yang berlangsung bersamaan.
Kondisi ini muncul saat pasar keuangan dunia dibayangi ketidakpastian geopolitik, lonjakan harga energi, dan meningkatnya kebutuhan valuta asing di dalam negeri.
BI pun menegaskan akan terus hadir di pasar untuk menjaga stabilitas nilai tukar agar tetap sejalan dengan fundamental ekonomi nasional.
Ketegangan AS-Iran Jadi Pemicu Utama
Menurut Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti, eskalasi konflik di Timur Tengah menjadi salah satu faktor utama yang menekan rupiah.
Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran mendorong harga minyak dunia bertahan pada level tinggi, sehingga meningkatkan risiko inflasi global dan memicu arus modal keluar dari negara-negara berkembang.
“Pelemahan nilai tukar masih dipengaruhi oleh tensi geopolitik Timur Tengah yang kembali tereskalasi dan menghambat prospek damai,” ujar Destry dalam keterangannya, Kamis (4/6/2026).
BI melihat situasi geopolitik tersebut membuat investor global lebih berhati-hati terhadap aset negara berkembang, termasuk Indonesia.
Permintaan Dollar AS di Dalam Negeri Meningkat
Selain faktor eksternal, tekanan terhadap rupiah juga datang dari dalam negeri. BI mencatat tingginya kebutuhan valuta asing untuk berbagai keperluan korporasi, termasuk repatriasi dividen perusahaan dan pembayaran utang luar negeri, ikut meningkatkan permintaan terhadap dollar AS.
Kondisi ini memperbesar tekanan di pasar valas domestik dan mempercepat pelemahan rupiah ketika sentimen global sedang negatif.
BI Janji Perkuat Intervensi Pasar
Meski tekanan meningkat, BI menegaskan akan terus melakukan langkah stabilisasi. Bank sentral menyatakan siap meningkatkan intensitas intervensi agar mekanisme pasar tetap berjalan baik dan volatilitas nilai tukar dapat diredam.
“Bank Indonesia akan terus hadir di pasar dan meningkatkan intensitas intervensi untuk memastikan mekanisme pasar berjalan dengan baik dan stabilitas nilai tukar rupiah terjaga sesuai dengan fundamentalnya,” ucapnya.
Intervensi tersebut dilakukan melalui berbagai instrumen, mulai dari transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore, transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik, hingga pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder.
“Koordinasi dan komunikasi dengan korporasi dan pelaku pasar lainnya terus dilakukan secara intensif,” kata Destry.
Dorong Transaksi dengan Mata Uang Lokal
Di tengah dominasi dollar AS, BI juga terus memperluas penggunaan mata uang lokal dalam perdagangan dan investasi lintas negara melalui skema Local Currency Transaction (LCT). Saat ini kerja sama tersebut telah berjalan dengan sejumlah negara mitra, termasuk China, Jepang, Malaysia, Thailand, Korea Selatan, dan Uni Emirat Arab.
Langkah ini ditujukan untuk mengurangi ketergantungan terhadap dollar AS sekaligus memitigasi risiko volatilitas nilai tukar.
“Diversifikasi transaksi perdagangan melalui skema LCT ini terus mengalami peningkatan di bulan April mencapai sekitar 22,7 miliar dollar AS vs full year tahun lalu yang sekitar 25,7 miliar dollar AS,” tuturnya.
Cadangan Devisa Masih Kuat
Meski rupiah melemah, BI menilai fondasi eksternal Indonesia masih relatif terjaga. Cadangan devisa Indonesia pada akhir April 2026 tercatat sebesar 146,2 miliar dollar AS, level yang dinilai memadai untuk mendukung stabilisasi nilai tukar dan menjaga ketahanan sektor eksternal.
Secara year to date (ytd), rupiah tercatat melemah sekitar 7,44 persen, namun BI menilai pergerakan tersebut masih sejalan dengan tren mata uang negara-negara kawasan yang juga menghadapi tekanan serupa akibat ketidakpastian global.
Apa yang menekan rupiah menurut BI?
- Ketegangan geopolitik AS-Iran
Meningkatkan harga minyak dunia, memicu inflasi global, dan mendorong arus modal keluar dari emerging markets.
- Tingginya kebutuhan valuta asing domestik
Repatriasi dividen dan pembayaran utang luar negeri meningkatkan permintaan dollar AS di dalam negeri.
- Respons Bank Indonesia
Intervensi melalui NDF, DNDF, pasar spot, dan pembelian SBN untuk menjaga stabilitas nilai tukar.
- Strategi jangka menengah
Mendorong transaksi lintas negara menggunakan mata uang lokal (LCT) guna mengurangi ketergantungan pada dollar AS.
- Cadangan devisa tetap memadai
BI menilai cadangan devisa sebesar 146,2 miliar dollar AS pada akhir April 2026 masih kuat untuk mendukung stabilisasi dan ketahanan eksternal.
***
(TribunTrends/Kompas)