
Scoot.co.id JAKARTA. Rupiah diproyeksikan bisa terus melemah sepanjang tahun 2026. Mengutip Bloomberg, rupiah spot ditutup pada level Rp 17.424 per dolar Amerika Serikat (AS) pada akhir perdagangan Selasa (5/5/2026), melemah 0,17% dari sehari sebelumnya yang ada di Rp 17.394 per dolar AS. Lagi-lagi rupiah mencetak rekor terlemah sepanjang sejarah.
Chief Analyst Doo Financial Futures Lukman Leong mengatakan, pelemahan tersebut umumnya disebabkan oleh sentimen eksternal. Yaitu, memanasnya tensi geopolitik di Timur Tengah dan harga minyak mentah yang masih di atas US$ 100 per barel.
Di sisi lain, data produk domestik bruto (PDB) yang dirilis siang ini sebenarnya lebih baik dari perkiraan dan bisa mendukung rupiah. Badan Pusat Statistik (BPS) sebut PDB tumbuh 5,61% year on year (YoY) pada kuartal I 2026.
Rosan Akui Danantara Sudah Masuk Jadi Pemegang Saham GOTO
“Pelemahan (rupiah) ini masih wajar,” katanya kepada Kontan, Selasa (5/5/2026).
Prospek pergerakan rupiah ke depan pun sangat tergantung pada perkembangan dinamika geopolitik di Timur Tengah. Terutama, dari harga minyak mentah yang apabila masih tinggi akan semakin membebani anggaran dan perekonomian.
Untuk mendukung penguatan rupiah, Pemerintah bisa sedikit mengurangi anggaran non esensial.
“Bank Indonesia (BI) idealnya bisa menaikkan suku bunga, tidak terlalu banyak dan bertahap, sekitar 10 hingga 15 basis poin (bps),” ungkapnya.
Pendaftaran Ditutup, OJK Terima Empat Calon Paket Direksi BEI Periode 2026–2030
Dengan asumsi harga minyak mentah masih di atas US$ 100 per barel, rupiah bisa mencapai Rp 18.000 per dolar AS di akhir tahun 2026.
“Namun, apabila situasi di Timur Tengah mereda dan harga minyak kembali di US$70, rupiah bisa kembali ke Rp 16.500 per dolar AS,” tuturnya.