Utang membengkak, Moody’s pangkas rating Indika (INDY) ke B1

Scoot.co.id SINGAPURA. Moody’s Ratings baru-baru ini mengambil langkah untuk menurunkan peringkat corporate family rating (CFR) PT Indika Energy Tbk (Indika) dari Ba3 menjadi B1. Selain itu, lembaga pemeringkat global tersebut juga memangkas peringkat surat utang senior tanpa jaminan milik Indika senilai US$ 455 juta yang akan jatuh tempo pada Mei 2029, dari Ba3 menjadi B1. Menariknya, di tengah penurunan peringkat ini, prospek atau outlook peringkat Indika justru direvisi menjadi stabil dari sebelumnya negatif.

Menurut Anthony Prayugo, Analis Moody’s, penurunan peringkat kredit ini merupakan cerminan dari rasio kredit Indika Energy yang sudah dalam tekanan dan diperkirakan akan semakin melemah. Pemicunya adalah peningkatan signifikan dalam anggaran belanja modal (capex) untuk proyek emas Awak Mas. Kondisi ini diperparah oleh harga batu bara termal yang masih menunjukkan tren pelemahan. Meskipun harga emas yang tinggi dan berkelanjutan diprediksi akan menjadi penopang peningkatan laba substansial setelah proyek Awak Mas beroperasi penuh, ruang bagi perseroan untuk menambah utang pada level peringkat sebelumnya kini menjadi sangat terbatas.

Moody’s memperkirakan anggaran belanja modal terbaru untuk proyek Awak Mas mengalami kenaikan sekitar US$ 100 juta hingga US$ 150 juta, menjadikan total biaya proyek mencapai US$ 567 juta. Mayoritas dari kebutuhan dana tambahan ini akan dibiayai melalui penambahan utang. Konsekuensinya, utang yang disesuaikan menurut perhitungan Moody’s diperkirakan akan membengkak menjadi sekitar US$ 1,4 miliar pada tahun 2026, dari US$ 1,1 miliar pada tahun 2025. Seiring dengan itu, total belanja modal diperkirakan melonjak menjadi sekitar US$ 380 juta pada tahun 2026, dengan sekitar US$ 300 juta dialokasikan khusus untuk proyek emas Awak Mas.

Pihak Indika Energy menjelaskan, kenaikan anggaran tersebut disebabkan oleh beberapa faktor. Salah satunya adalah keterlambatan dalam pembebasan lahan sepanjang tahun 2025, yang mendorong INDY untuk mempercepat konstruksi demi mencapai target penyelesaian pada akhir tahun 2026. Selain itu, perusahaan juga meningkatkan fasilitas kamp pekerja dan membangun jalan akses segala cuaca untuk menjamin kelancaran operasional saat produksi dimulai. Kenaikan biaya juga dipengaruhi oleh permintaan kontraktor akan pembayaran yang lebih tinggi untuk peralatan dan pengadaan, seiring dengan penguatan harga emas global.

Hingga Desember 2025, proyek Awak Mas dilaporkan telah mencapai sekitar 50% penyelesaian dan ditargetkan akan memulai produksi uji coba pada akhir tahun 2026. Dengan estimasi biaya all-in sustaining cost (AISC) awal sekitar US$ 1.150 per ons dan asumsi harga emas sebesar US$ 3.000 per ons, proyek pertambangan emas ini diperkirakan mampu menghasilkan EBITDA sekitar US$ 130 juta per tahun ketika produksi mencapai 100.000 ons per tahun.

Sebelum kontribusi signifikan dari Awak Mas terwujud, kualitas kredit Indika Energy masih akan sangat bergantung pada anak usahanya yang dimiliki 91%, yaitu PT Kideco Jaya Agung (Kideco), salah satu produsen batu bara terbesar di Indonesia. Namun, kinerja Kideco diperkirakan akan tetap tertekan akibat harga batu bara termal yang masih lemah. Meski begitu, Kideco memiliki fleksibilitas untuk menyesuaikan strip ratio sepanjang siklus industri guna meredam dampak pelemahan harga komoditas tersebut. Dengan asumsi harga jual rata-rata batu bara termal sekitar US$ 51 per metrik ton pada tahun 2026, Moody’s memperkirakan EBITDA Indika akan relatif stagnan dibandingkan tahun 2025, yakni sekitar US$ 200 juta.

Seiring dengan peningkatan utang dan kinerja laba batu bara yang lemah, rasio leverage Indika, yang diukur dari utang terhadap EBITDA versi penyesuaian Moody’s, diprediksi akan naik menjadi sekitar 7,0 kali pada Desember 2026 dari estimasi 6,0 kali pada Desember 2025. Kinerja laba diharapkan membaik setelah Awak Mas beroperasi secara komersial penuh pada awal tahun 2027, meskipun penurunan leverage menuju kisaran 4,0 kali kemungkinan baru akan terjadi pada tahun 2027.

Moody’s juga mencatat bahwa proyeksi ini belum memasukkan potensi risiko kebijakan, seperti kemungkinan perubahan regulasi pertambangan di Indonesia, termasuk penerapan pungutan ekspor batu bara yang dapat semakin menekan laba perusahaan. Dalam 12 hingga 18 bulan ke depan, Indika Energy dinilai masih memiliki likuiditas yang memadai, ditopang oleh saldo kas, fasilitas kredit komitmen yang belum ditarik, serta proyeksi arus kas operasi untuk memenuhi kebutuhan tunai.

Namun, peningkatan anggaran proyek Awak Mas akan mempersempit ruang terhadap pembatasan (covenant) utang, khususnya terkait rasio utang bersih terhadap EBITDA yang tidak boleh melebihi 3,75 kali pada tahun 2026, kecuali jika terjadi peningkatan laba signifikan atau divestasi aset. Meski demikian, Indika Energy sebelumnya pernah memperoleh pelonggaran atau pengabaian kovenan saat dibutuhkan.

Outlook stabil mencerminkan ekspektasi Moody’s bahwa risiko eksekusi proyek emas akan menurun, sehingga proyek tersebut dapat meningkatkan laba pada tahun 2027 dan mendukung perbaikan metrik kredit, sambil tetap menjaga likuiditas yang memadai. Peringkat Indika Energy dapat dinaikkan apabila Awak Mas mulai berproduksi, meningkatkan laba secara material, serta mendorong penurunan utang secara berkelanjutan. Indikator peningkatan peringkat antara lain rasio utang terhadap EBITDA di bawah 4,0 kali dan rasio EBIT terhadap beban bunga di atas 2,0 kali secara konsisten.

Sebaliknya, tekanan penurunan peringkat dapat muncul jika terjadi penundaan atau pembengkakan biaya lebih lanjut pada proyek emas Awak Mas, jika sumber kas internal tidak cukup memenuhi kebutuhan dalam 12–18 bulan mendatang, atau jika perusahaan melakukan investasi maupun distribusi kepada pemegang saham secara agresif. Indikator penurunan peringkat termasuk rasio utang terhadap EBITDA di atas 4,5 kali atau rasio EBIT terhadap bunga di bawah 1,5 kali setelah tambang emas beroperasi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *