Danantara jadi pemegang saham BEI, Pandu ingin tiru Hong Kong dan India

JAKARTA — Danantara Indonesia, melalui Chief Investment Officer (CIO) Pandu Sjahrir, secara resmi mengungkapkan ambisinya untuk menjadi salah satu pemegang saham di Bursa Efek Indonesia (BEI). Langkah strategis ini, menurut Pandu, terinspirasi oleh keberhasilan model serupa yang telah diterapkan di pasar modal Hong Kong dan India, menunjukkan visi untuk transformasi dan penguatan ekosistem investasi nasional.

Pandu Sjahrir menekankan pentingnya belajar dari pengalaman global dalam membangun pasar modal yang tangguh dan kompetitif. “Kita harus belajar dari apa yang telah dilakukan India. Kita juga harus belajar dari Hong Kong. Mereka telah melakukannya dengan sangat baik,” ujar Pandu dalam acara China Conference: Southeast Asia (CCSEA) 2026 SCMP yang diselenggarakan bersama Danantara Indonesia dan Kadin Indonesia di The St. Regis Jakarta, Selasa (10/2/2026). Ia menambahkan, Hong Kong bahkan mencatat rekor global untuk penawaran umum perdana (IPO) tahun lalu, sebuah indikator performa pasar yang luar biasa.

Lebih lanjut, Pandu menjelaskan bahwa di kedua negara tersebut, sovereign wealth fund (SWF) berperan aktif sebagai pemegang saham di bursa efek masing-masing. Ini menjadi model yang ingin direplikasi oleh Danantara Indonesia. Pandu mengisyaratkan bahwa persentase saham Danantara di BEI nantinya tidak akan jauh berbeda dengan porsi kepemilikan SWF di bursa efek negara lain, mencerminkan komitmen yang sejalan dengan praktik terbaik global.

Salah satu pelajaran krusial yang dipetik dari Hong Kong adalah pemisahan tegas antara fungsi regulator dan pemegang saham. Pandu menjelaskan bahwa demutualisasi, yakni peralihan bursa menjadi perusahaan yang berorientasi penuh pada laba, adalah kunci dari model ini. Dalam konteks Hong Kong, hanya ada segelintir pemegang saham utama yang mayoritas merupakan investor keuangan, menegaskan fokus pada efisiensi dan tata kelola yang profesional.

Transformasi pasar modal Indonesia menuju model yang lebih modern dan efisien juga akan mengadopsi prinsip ini. Pandu mengungkapkan, “Kita akan, dalam arti tertentu, meniru dengan bangga. Semua hal baik yang telah dan akan kita gunakan.” Ia menambahkan, investor keuangan global yang berkeinginan memiliki lebih dari lima persen saham di bursa efek memerlukan restu dari regulator, sebuah mekanisme penting untuk menjaga integritas dan stabilitas pasar.

Sejak tahun lalu, Danantara Indonesia telah aktif berinvestasi di pasar modal. Meski demikian, Pandu Sjahrir memilih untuk tidak mengungkapkan nominal investasi yang telah disalurkan. Keputusan ini diambil untuk menghindari potensi distorsi pasar dan menjaga transparansi yang adil bagi semua pelaku. “Sudah tapi enggak bakal disebut, itu penting karena bisa nanti dianggap market distorsi, dan hal-hal yang lain, tapi kita investasi setiap hari,” terang Pandu.

Dalam menjalankan strateginya, Danantara Indonesia memastikan setiap alokasi dana di pasar modal didasarkan pada kajian komprehensif dan mendalam. Pandu Sjahrir menekankan pentingnya aspek fundamental dalam memilih investasi. Pendekatan ini tidak terbatas hanya pada saham Badan Usaha Milik Negara (BUMN), melainkan juga mencakup perusahaan-perusahaan swasta dengan fundamental yang kuat. “Jadi kita tuh tidak milih-milih gitu, kita melihat saham fundamental, bukan berarti hanya saham BUMN. Saham private juga perusahaan-perusahaan, kan banyak yang bagus-bagus, kita harus lihat mereka juga,” pungkasnya, menegaskan komitmen Danantara terhadap investasi berbasis nilai.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *