
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Dolar Amerika Serikat (AS) melemah terhadap mayoritas mata uang global pada perdagangan Rabu (6/5/2026) seiring meredanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang menekan permintaan terhadap aset safe haven.
Berdasarkan data Trading Economics pada Rabu (6/5/2026) pukul 15.33 WIB, sejumlah mata uang utama mencatat penguatan terhadap dolar AS.
EUR/USD secara harian naik 0,43% ke level 1,17, GBP/USD menguat 0,51% ke 1,36, dan AUD/USD naik 0,86% ke 0,72.
Penguatan juga terjadi pada mata uang lainnya, seperti NZD/USD yang melonjak 1,18% ke 0,59. Sementara itu, yen Jepang juga menguat yang tercermin dari USD/JPY yang turun 1,12% ke level 156,11 serta USD/CHF melemah 0,32% ke 0,77.
NZD dan Yen Menguat, Tekanan terhadap Dolar AS Semakin Terlihat
Presiden HFX International Berjangka, Sutopo Widodo, menilai pelemahan kolektif dolar AS dipicu oleh meredanya ketegangan geopolitik di Selat Hormuz yang secara langsung mengikis permintaan terhadap aset lindung nilai.
“Ketika risiko konflik antara AS dan Iran bergeser ke jalur diplomasi, premi risiko yang sebelumnya menopang dolar menguap, sehingga memberi ruang bagi mata uang utama untuk menguat,” ujar Sutopo kepada Kontan, Rabu (6/5/2026).
Ia menjelaskan, penguatan signifikan terlihat pada dolar Selandia Baru (NZD) yang naik tajam seiring karakteristiknya sebagai mata uang komoditas yang sensitif terhadap pertumbuhan global.
Selain itu, data tenaga kerja Selandia Baru yang solid turut memperkuat daya tarik NZD di mata investor.
Di sisi lain, yen Jepang (JPY) juga mencatat penguatan didorong oleh penurunan harga minyak global yang meringankan tekanan pada neraca perdagangan Jepang.
Penguatan yen juga dipicu oleh aksi short covering setelah adanya spekulasi intervensi pasar oleh otoritas Tokyo.
Meski demikian, Sutopo menilai pergerakan ini masih bersifat jangka pendek dan merupakan respons pasar terhadap sentimen deeskalasi geopolitik, bukan sinyal pembalikan tren jangka panjang yang solid.
Rupiah Spot Ditutup Menguat 0,21% ke Rp 17.387 per Dolar AS pada Rabu (6/5)
Menurutnya, dolar AS masih ditopang oleh fundamental yang kuat, terutama imbal hasil obligasi yang relatif tinggi serta peningkatan proyeksi pinjaman pemerintah AS sebesar US$ 189 miliar pada kuartal II-2026.
Selain itu, pelaku pasar saat ini masih menantikan rilis data tenaga kerja Amerika Serikat, khususnya Non-Farm Payrolls (NFP) pada Jumat mendatang, untuk mengonfirmasi arah pergerakan dolar selanjutnya.
“Tanpa adanya pelemahan data ekonomi AS yang konsisten, dominasi dolar masih berpotensi bertahan di tengah kebijakan suku bunga The Fed yang tetap restriktif,” kata Sutopo.
Memasuki sisa Mei 2026, Sutopo memperkirakan pergerakan mata uang global akan sangat dipengaruhi oleh perbedaan arah kebijakan moneter antar bank sentral.
Euro diperkirakan tetap solid seiring meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga oleh Bank Sentral Eropa (ECB) pada Juni, di tengah inflasi yang masih tinggi.
Sementara itu, poundsterling berpotensi mengalami volatilitas lebih tinggi akibat ketidakpastian politik di Inggris pasca pemilu lokal.
Adapun dolar Australia (AUD) berpeluang melanjutkan penguatan didukung sikap hawkish Reserve Bank of Australia (RBA) yang telah menaikkan suku bunga ke level 4,35%.
Namun, reli mata uang non-dolar ini tetap rentan terhadap perubahan sentimen global, terutama jika ketegangan di Timur Tengah kembali meningkat atau tekanan inflasi global kembali menguat.
Secara teknikal, dalam jangka pendek satu hingga dua minggu ke depan, EUR/USD berpotensi menguji level 1,18, sementara GBP/USD diperkirakan bergerak di sekitar 1,36 jika hasil pemilu tidak menimbulkan gejolak politik yang ekstrem.
AUD/USD berpeluang mengarah ke 0,73 didorong oleh momentum kenaikan suku bunga RBA.
Sedangkan, USD/JPY diperkirakan berkonsolidasi di rentang 155–157 seiring pasar yang waspada terhadap intervensi lanjutan dari BoJ..
NZD/USD juga berpotensi menguji level psikologis 0,60, sementara USD/CHF diperkirakan bergerak terbatas di sekitar 0,77 seiring meredanya aliran dana ke aset safe haven.