Rights issue Grup Bakrie fokus perbaikan keuangan, cek rekomendasi analis

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Sejumlah emiten Grup Bakrie kembali menggelar aksi rights issue untuk menghimpun dana dari pasar modal.

Emiten tersebut meliputi PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR), PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG), PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk (VKTR), dan PT Graha Andrasentra Propertindo Tbk (JGLE).

Aksi korporasi ini dinilai lebih berfokus pada upaya perbaikan kondisi keuangan, khususnya melalui penurunan utang, dibandingkan ekspansi agresif.

IHSG Menguat 0,50% ke 7.092 pada Rabu (6/5), UNVR, MBMA, ESSA Jadi Top Gainers LQ45

Senior Analyst Kiwoom Sekuritas Indonesia, Sukarno Alatas, mengatakan rights issue ini terutama ditujukan untuk memperkuat neraca keuangan emiten, terutama BNBR.

Rights issue Grup Bakrie lebih untuk memperbaiki kondisi keuangan atau mengurangi utang, terutama BNBR, dengan tambahan rencana pengembangan bisnis terbatas di ENRG dan VKTR,” ujarnya kepada Kontan, Selasa (5/5/2026).

Dari sisi potensi dana, BNBR diperkirakan menjadi emiten dengan penghimpunan dana terbesar, dengan nilai yang bisa melampaui Rp1 triliun.

Sementara itu, ENRG, VKTR, dan JGLE akan menggunakan dana hasil rights issue untuk kombinasi pelunasan utang lama dan ekspansi bisnis, tergantung pada keberhasilan pelaksanaan aksi korporasi tersebut.

“BNBR berpotensi mengumpulkan dana terbesar untuk bayar utang, sementara emiten lain digunakan untuk gabungan bayar utang dan ekspansi,” jelasnya.

Dolar AS Terpukul Sentimen Damai Timur Tengah, Simak Prospek Valas Berikut

Dari sisi fundamental, rights issue ini dipandang dapat memberikan dampak positif terhadap struktur keuangan, terutama melalui penurunan rasio utang dan beban bunga.

Namun demikian, peningkatan jumlah saham beredar juga akan berdampak pada penurunan laba per saham dalam jangka pendek.

“Dampaknya positif ke keuangan, tapi laba per saham bisa turun sementara karena jumlah saham bertambah,” kata Sukarno.

Dari sisi pasar, respons investor terhadap rights issue ini diperkirakan cenderung terbatas hingga negatif pada tahap awal, seiring adanya efek dilusi.

Meski demikian, sentimen tersebut berpotensi membaik jika perbaikan kinerja keuangan dan laba dapat terealisasi.

Rupiah Spot Ditutup Menguat 0,21% ke Rp 17.387 per Dolar AS pada Rabu (6/5)

“Respons pasar cenderung biasa saja hingga negatif di awal karena efek dilusi, namun bisa membaik jika kondisi keuangan dan laba ikut pulih,” tambahnya.

Sukarno memberikan rekomendasi hold untuk ENRG dengan target harga Rp 2.100 per saham. Ia juga merekomendasikan trading buy untuk VKTR dengan target harga Rp1.090 per saham, sementara untuk saham lainnya investor disarankan mencermati perkembangan lebih lanjut terkait implementasi rights issue dan dampaknya terhadap kinerja keuangan masing-masing emiten.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *