
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Sejumlah emiten Grup Bakrie kompak menggelar aksi rights issue untuk menghimpun dana dari pasar modal. Emiten tersebut antara lain PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR), PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG), PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk (VKTR), dan PT Graha Andrasentra Propertindo Tbk (JGLE).
Salah satu yang menjadi sorotan adalah BNBR yang berencana menerbitkan 86,7 miliar saham baru dengan harga pelaksanaan Rp12 per saham dan rasio 2:1. Sebagian besar dana yang dihimpun akan digunakan untuk pelunasan utang.
Head of Research KISI Sekuritas, Muhammad Wafi, menilai aksi rights issue tersebut didorong oleh kebutuhan fundamental perusahaan, khususnya untuk memperbaiki struktur keuangan.
Kembali Cetak Rekor Terlemah di Rp 17.424, Ini Sudah Melampaui Fundamental Ekonomi
“Lebih ke kebutuhan fundamental, yakni deleveraging, survival, dan repositioning bisnis. Khusus BNBR, tujuan pelunasan utang jadi prioritas utama, sehingga urgensinya cukup tinggi,” ujarnya kepada Kontan, Selasa (5/5/2026).
Senada, Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas, Imam Gunadi, melihat aksi korporasi ini memiliki benang merah yang sama, yaitu memperbaiki neraca keuangan sekaligus mencari sumber pertumbuhan baru.
Menurutnya, BNBR berfokus pada restrukturisasi utang, sementara ENRG dan VKTR lebih diarahkan untuk ekspansi bisnis. Adapun JGLE memanfaatkan dana rights issue untuk akuisisi aset, termasuk pengembangan Jungleland.
“Jadi secara garis besar, ini kombinasi antara deleveraging dan pencarian growth engine baru,” jelasnya.
Dari sisi potensi dana, BNBR diperkirakan menjadi emiten dengan penghimpunan dana terbesar mengingat jumlah saham baru yang diterbitkan mencapai puluhan miliar lembar.
Wafi menyebut, efektivitas penggunaan dana akan sangat bergantung pada alokasi masing-masing emiten. Jika difokuskan untuk pelunasan utang, dampaknya bisa langsung terlihat pada penurunan beban bunga dan perbaikan arus kas.
“Untuk ENRG dan VKTR, jika dana digunakan untuk ekspansi, efektivitasnya akan sangat tergantung pada eksekusi proyek dan kondisi industri,” tambahnya.
Rupiah Kian Loyo, Pemerintah Sebut Pemicunya Musim Haji dan Pembayaran Dividen
Imam juga menilai keberhasilan rights issue akan sangat ditentukan oleh eksekusi masing-masing emiten. BNBR, misalnya, berpotensi mengalami perbaikan signifikan jika mampu menurunkan rasio utang secara drastis.
Sementara itu, ENRG dan VKTR akan diuji dari kemampuan mengonversi belanja modal menjadi pertumbuhan pendapatan. Adapun JGLE akan bergantung pada keberhasilan monetisasi aset yang diakuisisi.
Dari sisi struktur permodalan, kedua analis sepakat bahwa rights issue ini berpotensi memberikan dampak positif.
“Dampaknya cenderung positif, DER turun, likuiditas membaik, dan risiko finansial lebih terkendali,” kata Wafi.
Namun demikian, aksi ini juga membawa konsekuensi berupa dilusi saham yang cukup besar, terutama karena dilakukan pada harga pelaksanaan yang relatif rendah.
Akibatnya, dalam jangka pendek laba per saham atau earnings per share (EPS) berpotensi tertekan, meskipun dalam jangka menengah dapat membaik jika proses deleveraging berjalan sukses.
Dari sisi pasar, respons investor terhadap rights issue dinilai akan cenderung beragam.
“Biasanya mixed. Di satu sisi positif karena memperbaiki neraca, tapi di sisi lain tekanan dilusi dan potensi oversupply saham bisa menekan harga dalam jangka pendek,” ungkap Wafi.
Pasar Obligasi Fluktuatif, OJK Sebut Yield SBN Turun dan Asing Mulai Masuk
Imam menambahkan, untuk BNBR, sentimen pasar akan sangat dipengaruhi oleh keberhasilan restrukturisasi utang. Sementara itu, ENRG dan VKTR berpotensi mendapatkan respons yang lebih konstruktif karena didorong oleh cerita pertumbuhan bisnis.
“Untuk JGLE cenderung lebih spekulatif, tergantung persepsi pasar terhadap valuasi dan potensi asetnya,” ujarnya.
Dari sisi rekomendasi, Wafi menyarankan investor untuk bersikap wait and see terhadap saham-saham Grup Bakrie tersebut. Sementara itu, Imam menilai BNBR lebih cocok untuk investor dengan profil risiko tinggi yang membidik potensi turnaround, dengan dua skenario entry yakni saat break di Rp 240 dengan target Rp264, atau saat pullback ke area Rp100–Rp116 dengan target sekitar Rp130.
Untuk ENRG, ia melihat profil risk-reward yang lebih seimbang dengan area beli di kisaran Rp1.675–Rp1.745 dan target di sekitar Rp1.945. Adapun VKTR dinilai menarik dari sisi tema kendaraan listrik, dengan area entry di Rp900–Rp920 dan target di kisaran Rp1.000, meskipun masih dibayangi risiko eksekusi karena berada pada tahap awal pengembangan.