Faktor domestik, rupiah jadi mata uang terlemah di antara mata uang Asia

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Pelemahan rupiah kian dalam hingga mencetak rekor terlemah sepanjang sejarah dan tertinggal dibandingkan pergerakan mata uang kawasan 

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah melemah 0,17% ke level Rp 17.424 per dolar Amerika Serikat (AS) pada akhir perdagangan Selasa (5/5/2026). 

Pelemahan ini terjadi seiring tekanan pada mata uang kawasan, yakni ringgit Malaysia turun 0,18%, baht Thailand melemah 0,07%, dan dolar Singapura terkoreksi tipis 0,01%.

Gelar RUPST, Indosat (ISAT) Ganti Susunan Direksi Komisaris Serta Bagi Dividen

Namun demikian, secara kinerja sepanjang tahun berjalan, rupiah tercatat tertinggal dibandingkan mata uang regional.

Nilai tukar ringgit terhadap rupiah berada di level 4.395,82 dari sebelumnya 4.111, sementara dolar Singapura naik ke posisi 13.649 dari 13.104.

Adapun baht Thailand relatif lebih stabil, dengan nilai tukar terhadap rupiah berada di kisaran 531,61 dibandingkan posisi awal tahun di 534,8.

Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Rizal Taufikurahman menilai kondisi ini mencerminkan peran signifikan faktor domestik dalam menekan rupiah.

Ia menjelaskan, apabila pelemahan semata dipicu faktor global, maka pergerakan mata uang di kawasan seharusnya relatif seragam. Namun, rupiah justru mengalami pelemahan lebih dalam.

“Rupiah melemah lebih dalam karena adanya repricing risiko terhadap Indonesia, terutama terkait ketahanan fiskal, ketergantungan impor energi, serta persepsi pasar terhadap arah kebijakan ekonomi ke depan,” ujar Rizal kepada Kontan, Selasa (5/5/2026).

Kondisi tersebut juga tercermin dari premi risiko Indonesia yang diukur melalui credit default swap (CDS) tenor 5 tahun. CDS Indonesia berada di level 90,57, jauh di atas Singapura 23,25, Malaysia 38,04, dan Thailand 53,56.

Rights Issue Grup Bakrie Bisa Perbaiki Fundamental, Begini Rekomendasi Sahamnya

Menurut Rizal, tingginya CDS menunjukkan pasar menilai risiko sovereign Indonesia relatif lebih besar dibandingkan negara kawasan.

“Ini mengindikasikan bahwa pasar melihat risiko Indonesia meningkat, bukan karena fundamental yang rapuh, tetapi akibat kombinasi tekanan fiskal, volatilitas nilai tukar serta kebutuhan pembiayaan yang meningkat,” kata Rizal.

Dengan demikian, pelemahan rupiah saat ini tidak semata dipicu faktor eksternal, tetapi juga mencerminkan meningkatnya kehati-hatian pasar terhadap risiko domestik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *