Emiten raih kredit dari bank, cermati efeknya ke kinerja

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Sejumlah emiten lintas sektor tercatat memperoleh fasilitas kredit dari perbankan sepanjang periode Mei 2026. 

Emiten tersebut antara lain PT Sinar Eka Selaras Tbk (ERAL), PT Ifishdeco Tbk (IFSH), PT Newport Marine Services Tbk (BOAT), PT DCI Indonesia Tbk (DCII), PT Citra Nusantara Gemilang Tbk (CGAS), serta PT Cakra Buana Resources Energi Tbk (CBRE).

Secara rinci, ERAL memperoleh kredit dari bank BCA senilai Rp 245 miliar dengan bunga 6,75% dan tenor hingga 13 Mei 2027 mendatang. Selain itu, emiten di sektor ritel ini juga meraih tambahan fasilitas time loan senilai Rp 450 miliar dengan tenor hingga 13 Mei 2027 dan bunga 6,75% per tahun. Lalu, perusahaan juga meraih kredit investasi sebesar Rp 148 miliar dengan masa tenor tiga tahun.

Di samping itu, ERAL mendapatkan multi credit facility senilai US$ 10 juta, 3,5 juta dolar Singapura dan Rp 190 miliar, serta fasilitas forex forward line senilai US$ 6 juta dan 200 juta Yuan China. Kemudian, BOAT telah menandatangani perjanjian fasilitas kredit modal kerja dengan bank BNI Rp 9 miliar. 

Wall Street Dibuka Menguat, Indeks Dow Jones Sentuh Rekor Tertinggi

Selanjutnya, IFSH memperoleh fasilitas kredit lokal dan time loan revolving dengan masing-masing kredit sebesar Rp 100 miliar dan Rp 300 miliar dari bank BCA. 

Adapun bank BCA juga menyalurkan fasilitas kredit investasi dengan nilai total limit kredit mencapai Rp 17 triliun untuk DCII. Perusahaan data center ini memberikan agunan kredit, meliputi bidang tanah dan bangunan, mesin dan peralatan data center serta rekening giro perusahaan. 

Selanjutnya, Bank Mandiri menyiapkan tambahan fasilitas pembiayaan bagi CGAS. Fasilitas yang ditawarkan meliputi tambahan standby letter of credit (SBLC) sebesar US$ 3,16 juta, kredit investasi 3 senilai Rp 17,5 miliar, dan kredit investasi 4 sebesar Rp 10 miliar. 

Lebih lanjut, emiten di sektor transportasi dan logistik, CBRE memperoleh fasilitas kredit dalam bentuk pinjaman berjangka dengan Bank Maybank Indonesia senilai US$ 45 juta Mayoritas fasilitas kredit dari para emiten itu bertujuan untuk menambah modal kerja, sehingga nantinya bisa memperkuat kinerja perusahaan.

Direktur PT Reliance Sekuritas Indonesia Tbk, Reza Priyambada mengatakan sejumlah fasilitas kredit yang diterima oleh para emiten tersebut  akan digunakan untuk mendukung kegiatan operasional, sehingga nantinya juga akan mempengaruhi kinerjanya. 

IHSG Turun 8,35% Sepekan, Simak Reviewnya

Pelaku pasar juga dapat mencermati sejauh mana penggunaan utang produktif berdampak terhadap kinerja perusahaan. Sebagai contoh, seperti ERAL yang merupakan anak usaha Erajaya Swasembada, penggunaan fasilitas kredit dimanfaatkan untuk mendukung kebutuhan transaksi valas. 

“Nantinya investor akan lihat apakah dari aktivitas tersebut seberapa besar akan berdampak pada potensi peningkatan kinerja mereka,” ucap Reza.

Reza menambahkan, terkait fasilitas kredit tersebut perlu dicermati apakah skema suku bunga yang digunakan bersifat fixed atau floating. 

Jika menggunakan bunga fixed, perubahan suku bunga acuan dinilai tidak akan memberikan dampak signifikan sehingga perseroan masih dapat memperkirakan besaran beban bunga yang harus ditanggung. Namun, apabila menggunakan bunga floating, kenaikan suku bunga acuan berpotensi meningkatkan beban bunga perusahaan.

Dari sisi volume dan likuiditas, saham CBRE, CGAS, dan ERAL dinilai cukup menarik untuk perdagangan jangka pendek, sembari mencermati perkembangan sentimen yang bergerak di pasar.

Analis Kiwoom Sekuritas Adrian Djie mengatakan lingkungan suku bunga yang masih relatif tinggi berpotensi meningkatkan biaya pendanaan dan beban bunga bagi emiten yang melakukan ekspansi berbasis utang. 

Dari sisi makro, ekspektasi pasar yang memperkirakan Fed Funds Rate masih bertahan pada level relatif tinggi hingga akhir 2026 juga dapat mempengaruhi arah kebijakan BI Rate, sehingga kondisi ini tetap perlu menjadi perhatian investor.

Adrian berpendapat bahwa DCII dan CBRE merupakan dua emiten yang fasilitas kreditnya berpotensi memberikan dampak terhadap kinerja fundamental ke depan. 

Bagi DCII, fasilitas kredit sekitar Rp 17 triliun direncanakan untuk mendukung belanja modal pembangunan data center yang dapat memperkuat kapasitas dan menopang pertumbuhan bisnis dalam jangka menengah.  

“Dari sisi prospek jangka panjang, kami melihat DCII cukup menarik untuk dicermati karena memiliki eksposur terhadap tema pertumbuhan struktural seperti Artificial Intelligence dan layanan cloud,” ucap Adrian. 

Permintaan terhadap infrastruktur digital yang terus meningkat berpotensi menjadi katalis pertumbuhan dalam jangka menengah hingga panjang. 

Meski begitu, investor tetap perlu memperhatikan kemampuan perusahaan dalam menjaga profitabilitas di tengah peningkatan beban bunga. 

Sementara itu, CBRE berencana memanfaatkan fasilitas kredit untuk pelunasan armada Gunanusa Hai Long 106 guna meningkatkan kapasitas operasional dan mendukung aktivitas bisnis ke depan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *