
Scoot.co.id JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan bergerak fluktuaktif dan cenderung volatil pada perdagangan Jumat (22/5/2026).
Pengamat Pasar Modal sekaligus Founder Republik Investor Hendra Wardana mengatakan, sentimen pasar masih akan dipengaruhi oleh pergerakan rupiah, arus dana asing, perkembangan konflik geopolitik Amerika Serikat (AS)-Iran, serta respons pasar terhadap kebijakan ekonomi domestik.
Jika rupiah kembali melemah dan tekanan jual asing berlanjut, maka IHSG berpotensi kembali menguji area support 6.000 dan area resistance 6.215 pada hari ini.
IHSG Berpotensi Lanjut Koreksi, Cek Saham Rekomendasi Analis, Senin (18/5)
Namun di sisi lain, setelah koreksi yang sangat dalam dalam beberapa hari terakhir, peluang IHSG untuk rebound teknikal jangka pendek juga mulai terbuka.
Ini dengan catatan apabila muncul bargain hunting pada saham-saham big caps yang sudah mengalami jenuh jual (oversold).
“Pasar juga akan mencermati stabilitas harga minyak dunia serta arah yield obligasi AS yang masih menjadi indikator penting bagi aliran dana global ke emerging market,” ujar dia dalam keterangannya, Kamis (21/5).
Dalam jangka pendek, lanjut Hendra, investor sebaiknya mulai fokus pada saham-saham defensif dan emiten dengan fundamental kuat yang relatif tahan terhadap tekanan eksternal.
Saham seperti TLKM menarik dicermati dengan strategi buy on weakness di area Rp 2.860 per saham dan target jangka pendek menuju Rp 3.200 per saham seiring valuasi yang mulai murah dan potensi rebound sektor telekomunikasi.
TLKM Chart by TradingView
IHSG Berpotensi Rebound, Cermati Saham Pilihan Analis untuk Selasa (19/5)
Selain itu, saham CPIN masih layak untuk trading buy dengan target Rp 4.500 per saham yang didukung sentimen pembagian dividen dan prospek konsumsi domestik yang tetap solid.
Sementara itu, saham INDF menarik untuk speculative buy sebagai saham defensif consumer dengan target penguatan menuju area Rp 7.000 per saham.
Dari sektor komoditas, saham TINS juga mulai menarik untuk speculative buy dengan target Rp 3.700 per saham memanfaatkan potensi rebound harga timah global, meski volatilitas sektor komoditas masih cukup tinggi sehingga investor tetap perlu menerapkan manajemen risiko yang ketat.
Sebelumnya, IHSG ditutup anjlok 3,54% ke level 6.094,94 dan sekaligus menembus area psikologis 6.100 pada Kamis (21/5). Pelemahan ini menunjukkan tekanan pasar yang masih sangat besar, bahkan ketika mayoritas bursa Asia justru bergerak positif.
“Tekanan utama datang dari kombinasi sentimen domestik dan global,” tukas Hendra.
IHSG Berpeluang Menguat Terbatas, Cermati Saham Rekomendasi Analis, Kamis (21/5)
Dari dalam negeri, pasar merespons negatif meningkatnya ketidakpastian kebijakan pemerintah terkait rencana pembentukan badan pengatur ekspor sumber daya alam yang dinilai dapat memperpanjang birokrasi dan menurunkan daya saing ekspor nasional.
Kekhawatiran tersebut diperparah oleh pelemahan rupiah yang masih berada di kisaran Rp 17.600 per dolar AS, serta derasnya arus keluar dana asing yang sejak awal tahun sudah mencapai lebih dari Rp 51 triliun.
Dari eksternal, pasar juga masih dibayangi sikap hawkish The Fed setelah risalah FOMC menunjukkan kekhawatiran inflasi AS yang berpotensi membuat suku bunga tinggi bertahan lebih lama.
IHSG Diproyeksi Kembali Tertekan, Cermati Saham Rekomendasi Analis, Rabu (20/5)
Akibatnya, sektor berbasis komoditas dan energi mengalami tekanan paling besar, sementara investor cenderung menghindari aset berisiko di emerging market termasuk Indonesia.