IHSG berpotensi kembali terkoreksi, berikut proyeksi analis, Jumat (22/5)

Scoot.co.id  JAKARTA. Tekanan terhadap pasar saham domestik belum mereda. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali ambruk pada perdagangan Kamis (21/5/2026), turun 3,54% ke level 6.094,94 di tengah derasnya aksi jual investor asing.

Berdasarkan data perdagangan, investor asing membukukan penjualan bersih (net sell) sebesar Rp 544,85 miliar. Pelemahan ini memperpanjang tekanan IHSG yang dalam beberapa hari terakhir terus bergerak di zona merah.

Head of Retail Research MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, mengatakan koreksi IHSG dipicu kombinasi sentimen domestik dan global.

Salah satu faktor utama berasal dari tekanan pada saham-saham berkapitalisasi besar (big caps) yang sebelumnya dikeluarkan dari indeks MSCI.

IHSG Berpeluang Teknikal Rebound pada Selasa (19/5), Ini Proyeksi Analis

Selain itu, keputusan Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan sebesar 50 basis poin menjadi 5,25% turut membebani sentimen pasar karena dinilai berpotensi menahan pertumbuhan kredit perbankan dan aktivitas ekonomi.

“Dampaknya bisa menahan laju pertumbuhan kredit perbankan,” ujar Herditya.

Dari eksternal, pasar juga masih mencermati risalah Federal Open Market Committee (FOMC) Amerika Serikat yang memberi sinyal suku bunga AS akan bertahan tinggi lebih lama seiring tekanan inflasi yang belum sepenuhnya mereda.

Kondisi ini membuat arus dana global cenderung berhati-hati terhadap pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.

Secara teknikal, Herditya menilai IHSG masih berisiko melanjutkan pelemahan pada perdagangan Jumat (22/5). Menurut dia, level 6.000 menjadi area support penting, sementara resistance berada di kisaran 6.132.

Pandangan serupa disampaikan Pengamat Pasar Modal sekaligus Founder Republik Investor, Hendra Wardana.

Ia menilai tekanan pasar masih besar karena investor merespons negatif ketidakpastian sejumlah kebijakan domestik, termasuk rencana pembentukan badan pengatur ekspor sumber daya alam.

IHSG Melemah, Ini Saham Pilihan Analis yang Layak Dicermati

Menurut Hendra, rencana kebijakan tersebut memunculkan kekhawatiran akan bertambahnya birokrasi dan potensi penurunan daya saing ekspor nasional, sehingga memicu aksi jual di pasar saham.

Secara teknikal, Hendra menilai tren IHSG masih bearish dan belum menunjukkan sinyal pembalikan arah yang kuat. Jika level 6.000 ditembus, IHSG berpotensi melanjutkan pelemahan ke kisaran 5.880-5.900.

Meski demikian, peluang rebound jangka pendek masih terbuka apabila mulai muncul aksi bargain hunting pada saham-saham big caps yang telah terkoreksi dalam.

   

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *