Scoot.co.id – Suku bunga atau BI-Rate sebesar 50 basis poin atau 5,25 persen membawa dampak signifikan pada industri otomotif. Bahkan, hal ini dipercaya akan membuat harga kendaraan, baik itu motor ataupun mobil menjadi lebih mahal.
Kepala Pusat Industri, Perdagangan, dan Investasi INDEF, Andry Satrio Nugroho, menjelaskan, angka yang lebih mahal didapat dari biaya untuk membeli kendaraan yang menjadi lebih besar pasca naiknya suku bunga.
“Saya melihatnya memang lebih kepada biaya untuk mendapatkan atau membeli kendaraan. Itu pasti akan mahal gitu. Kalau itu semakin mahal maka produsen pada akhirnya juga mereka mau ekspansi juga susah juga,” kata Andry saat ditemui JawaPos.com di Jakarta, Kamis (21/5).
Dia menekankan hal ini bukan tanpa sebab. Pasalnya, pembelian dari konsumen ataupun permintaan pasar pasti akan menurun. Konsumen sendiri akan cenderung menyimpan uang dan tak menahan pembelian motor atau mobil baru.
“Uang yang mereka punya atau ditaruh di instrumen surat berharga gitu karena itu jauh lebih menguntungkan dibandingkan dibelanjakan,” ungkapnya.
Meski begitu, kenaikan BI-Rate dianggapnya tak akan membuat investor otomotif sampai angkat kaki. Hanya saja, mereka akan lebih menahan produksi. Sebab, market size Indonesia masih terhitung besar dan menjanjikan.
“Tinggal kita ingin mendorong dari sisi ekspornya, apakah kita bisa gitu. Cuman kan ada beberapa hal yang dalam hal ini investor atau para pelaku usaha juga jadi bertanya-tanya terkait dengan single entity ekspor yang kemarin dikeluarkan yg badan ekspor itu,” jelasnya.