
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Pasar saham yang tercermin dalam Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih belum menunjukkan kekuatan. Ini terlihat dari IHSG yang terus nyaman bertahan di zona merah selama delapan hari perdagangan beruntun.
Pada perdagangan Kamis (21/5/2026), IHSG longsor 223,55 poin atau 3,54% ke posisi 6.094,94. Pelemahan IHSG kali ini terjadi di tengah penguatan sejumlah bursa Asia. Indeks Kospi (Korea Selatan), misalnya menguat 8,42% ke level 7.815, indeks Nikkei 225 (Jepang) melaju 3,14% ke 61.684 dan indeks Taiex (Taiwan) melesat 3,37% ke 41.368.
Retail Research Analyst Sinarmas Sekuritas, Cindy Alicia Ramadhania mengatakan pelemahan IHSG saat ini masih dipengaruhi sejumlah sentimen domestik, terutama penantian pasar terhadap keputusan MSCI dan FTSE.
PTPP Catat Nilai Kontrak Rp 6,88 Triliun per April 2026, Cek Rekomendasi Sahamnya
Selain itu, kenaikan suku bunga cenderung memberikan sentimen yang kurang positif. Adanya kebijakan terkait badan ekspor juga masih memberikan kekhawatiran pelaku pasar akan membatasi margin yang diperoleh oleh perusahaan batubara dan minyak sawit.
Selanjutnya, saham saham yang dikeluarkan oleh MSCI pekan lalu masih menjadi pemberat IHSG. Sejak dikeluarkan, TPIA turun 52%, DSSA turun 44%, BREN turun 29%, dan AMMN turun 23%.
Dalam kesempatan terpisah, Praktisi Pasar Modal sekaligus Founder WH-Project, William Hartanto, menilai sumber utama pelemahan IHSG saat ini berasal dari BEI dan MSCI.
Menurutnya, sentimen tersebut menjadi persoalan paling krusial bagi pasar modal Indonesia sepanjang 2026, dipicu oleh isu transparansi data yang memunculkan ancaman downgrade terhadap Indonesia.
“Sejak saat itu sampai sekarang, IHSG berantakan sekali,” ujar William.
Suku Bunga Acuan Naik, Investor Perlu Cermat Rebalancing Portofolio Saham
William bahkan menyebut dampak sentimen tersebut lebih besar dibandingkan pengaruh tensi geopolitik perang Amerika Serikat dan Iran terhadap pasar.
Tak hanya itu, pelemahan nilai tukar rupiah turut memperburuk keadaan, ditambah langkah agresif Bank Indonesia yang menaikkan suku bunga sebesar 50 basis poin. Meski bertujuan menjaga stabilitas, kebijakan tersebut dinilai sekaligus memberi sinyal kepanikan sehingga memperdalam tekanan di pasar modal.
“Saya kira penyelesaiannya adalah pada saat masalah dengan MSCI ini bisa berakhir. Kalau mereka sudah enggak membekukan indeks, di situ optimisme pasar bisa kembali,” ucap William.
Namun, menurutnya tekanan terhadap IHSG sebenarnya bukan disebabkan oleh menurunnya optimisme pasar secara keseluruhan, melainkan lebih karena faktor bobot indeks. Saham-saham yang menjadi penekan utama merupakan emiten dengan kapitalisasi pasar besar, mayoritas berasal dari kelompok konglomerasi.
IHSG Anjlok, Analis: Masih Rawan Koreksi pada Jumat (22/5)
Nah, karena saham-saham tersebut kini dinilai kurang menarik, pelaku pasar ramai-ramai melakukan aksi jual sehingga banyak yang mengalami auto reject bawah (ARB) selama beberapa hari. Kondisi inilah yang kemudian membebani pergerakan IHSG. Sementara itu, saham-saham lain yang tidak terdampak sentimen tersebut dinilai masih berada dalam kondisi yang relatif aman.
Ada Potensi Pelemahan
Cindy bilang IHSG sempat menembus area gap di level 6.094. Apabila gagal bertahan di atas support terdekat pada level 6.081, IHSG berpotensi melanjutkan pelemahan dengan menguji support berikutnya di area 5.882.
Saat ini, Cindy mengemukakan bahwa pelaku pasar cenderung masih wait and see terlebih dahulu karena ada agenda yang menjadi perhatian pelaku pasar.
Salah satunya pada Jumat (22/5), pelaku pasar menantikan keputusan FTSE terkait pengumuman review kuartalan FTSE Global Equity Index Series (GEIS) dan juga di bulan Juni pelaku pasar menantikan hasil evaluasi MSCI terkait apakah Indonesia statusnya masih dibekukan atau tidak.
Sementara itu, William menilai penguatan IHSG akan sangat bergantung pada seberapa cepat reformasi pasar modal mampu memulihkan kembali kepercayaan investor asing. Aspek tersebut menjadi faktor penentu utama bagi pergerakan pasar ke depan.
Rupiah Melemah ke Rp 17.667 per Dolar AS, Pasar Skeptis Efektivitas BI Rate
Dengan kondisi saat ini, William juga tidak menutup kemungkinan IHSG dapat kembali melemah hingga menembus level 6.000 dalam waktu dekat.
“Proyeksi kami bisa ke 5.400,” jelas William.
Cindy merekomendasikan speculative buy sejumlah saham, antara lain MAPI, JPFA, GGRM dan WIIM di target harga masing-masing Rp 1.570, Rp 2.800, Rp 17.100 dan Rp 1.890 per saham.