PTPP catat nilai kontrak Rp 6,88 triliun per April 2026, cek rekomendasi sahamnya

Scoot.co.id JAKARTA. Kinerja PT PP Tbk (PTPP) mulai masuk ke tren pemulihan di tahun 2026, meskipun masih berat.

Per April 2026, PTPP mengantongi nilai kontrak baru sebesar Rp 6,88 triliun. Perolehan kontrak baru di periode ini didominasi oleh proyek dengan sumber dana pemerintah sebesar 82%, diikuti proyek BUMN sebesar 10%, serta proyek swasta sebesar 8%. 

Berdasarkan lini bisnis, kontribusi terbesar berasal dari sektor Jalan dan Jembatan sebesar 35%, Disaster Response sebesar 26%, Rumah Sakit sebesar 16%, Smelter dan Pertambangan sebesar 10%, Gedung sebesar 6%, Pelabuhan sebesar 3%, Sumber Daya Air sebesar 3%, serta Infrastruktur Air sebesar 2%. 

Salah satu proyek yang diperoleh di bulan April 2026 yang berkontribusi terbesar nilai kontrak yaitu Pembangunan Jalan Kspean Wanam- Muting Segmen 1 senilai Rp1,77 triliun. 

Kenaikan Suku Bunga BI Berpotensi Tekan Kinerja Emiten Farmasi

Corporate Secretary PTPP, Joko Raharjo menyampaikan, pelemahan rupiah, kenaikan suku bunga, serta dinamika geopolitik global diakui memberikan tantangan terhadap industri konstruksi, khususnya pada komponen biaya alat berat, logistik, dan pembiayaan proyek. 

“Perseroan terus melakukan monitoring dan review secara berkala terhadap dampaknya terhadap operasional maupun margin proyek,” ujarnya kepada Kontan, Kamis (21/5/2026).

Head of Research KISI Sekuritas, Muhammad Wafi berpendapat, kondisi PTPP di awal tahun 2026 ini belum bisa disebut pemulihan penuh. Namun, cukup untuk memberi sinyal bahwa pipeline proyek mulai gerak lagi setelah periode penyesuaian belanja infrastruktur. 

“Yang lebih penting bukan cuma nilai kontrak, tapi kualitas kontraknya,” ujarnya kepada Kontan, Kamis (21/5/2026).

Senior Equity Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Sukarno Alatas sependapat, bahwa raihan kontrak baru PTPP dapat menjadi indikasi awal pemulihan nilai kontrak, meski pertumbuhannya masih terbatas. 

“Ini menunjukkan aktivitas proyek mulai bergerak, namun keberlanjutan pemulihan tetap bergantung pada percepatan tender dan realisasi proyek pemerintah maupun swasta,” ujarnya kepada Kontan, Kamis.

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta melihat, suku bunga Bank Indonesia (BI) yang naik 50 basis poin (bps) ke 5,25% dan pelemahan rupiah bisa menjadi tantangan utama bagi PTPP di tahun ini.

Namun, harapannya PTPP bisa lanjut mendapatkan proyek strategis dengan dukungan Danantara yang bisa memberi kemudahan akses pembiayaan.

Suku Bunga Acuan Naik, Investor Perlu Cermat Rebalancing Portofolio Saham

Selain itu, aksi divestasi anak usaha juga bisa menjadi pendorong kinerja lantaran memberikan arus dana segar ke kas grup PTPP.

Asal tahu saja, PT PP Presisi Tbk (PPRE) berencana melepas saham atau divestasi anak usahanya, PT Lancarjaya Mandiri Abadi (LMA) senilai Rp1,61 triliun. 

PPRE mau menjual 331.500 atau 51% saham LMA kepada pemegang saham PT Lancarjaya Investama Abadi (LIA), yang telah menggenggam 41% saham LMA. 

Dengan demikian, LIA yang tidak terafiliasi dengan PPRE akan menjadi pemegang saham tunggal LMA. Langkah ini diakui PPRE menjadi bagian dari perbaikan struktur modal, terutama akibat tingginya utang perseroan.

“Merger BUMN karya juga bisa mengefisiensikan biaya operasional dan menghilangkan kanibalisasi tender sesama BUMN,” ujarnya kepada Kontan, Kamis.

Wafi bilang, PTPP memang masih ada di fase transisi untuk sepanjang tahun 2026. Sentimen positif datang dari potensi percepatan proyek strategis, proyek swasta, industrial estate, serta monetisasi aset. 

Divestasi aset juga bisa berdampak cukup positif karena bisa membantu likuiditas dan memperbaiki struktur neraca. 

“Namun tantangannya kompetisi proyek makin ketat, tekanan margin konstruksi, cash flow, dan ketidakpastian arah restrukturisasi/merger BUMN karya,” katanya.

Dari sisi valuasi PTPP terlihat murah, tapi pasar memberikan diskon karena isu kualitas laba, leverage, dan arus kas. Jadi, saham ini belum bisa hanya dilihat murah secara PBV/PE. 

“Katalis kenaikan yang lebih penting adalah perbaikan cash conversion, pertumbuhan kontrak baru yang konsisten, dan kepastian restrukturisasi BUMN karya,” katanya.

Wafi merekomendasikan trading buy untuk PTPP dengan target harga Rp 310 per saham.

Sukarno bilang, kinerja PTPP di tahun 2026 masih bergantung pada kemampuan perusahaan mempercepat penyelesaian proyek dan memperbaiki arus kas. 

Sentimen positif datang dari potensi proyek infrastruktur dan dana segar hasil divestasi aset PPRE yang dapat membantu likuiditas.

”Namun tantangannya berasal dari kenaikan suku bunga, beban utang, serta risiko transisi jika merger BUMN karya terealisasi, yang berpotensi menekan kinerja jangka pendek,” ungkapnya.

Peluang penguatan saham PTPP ke depan akan lebih terbuka jika raihan kontrak baru meningkat konsisten, cash flow membaik, dan restrukturisasi BUMN karya berjalan positif. 

“Investor perlu mencermati utang, profitabilitas, serta progres proyek berjalan,” katanya. Rekomendasi Sukarno untuk saham PTPP adalah wait and see karena baru menyentuh all time low di level Rp 210 per saham.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *