Laba Dyandra (DYAN) melonjak 54%, tapi masih rentan tekanan daya beli

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Kinerja PT Dyandra Media International Tbk (DYAN) mencatatkan lonjakan laba bersih sebesar 54% menjadi Rp 30,4 miliar pada kuartal I tahun 2026.

Pertumbuhan tersebut ditopang dominasi bisnis event organizer (EO) yang menyumbang 91,99% atau Rp 377,6 miliar dari total pendapatan, serta efisiensi beban operasional sebesar 5,97%.

Head of Research KISI Sekuritas, Muhammad Wafi, menilai kualitas pertumbuhan emiten penyelenggara acara ini cukup positif karena tidak hanya didorong peningkatan aktivitas bisnis, tetapi juga perbaikan struktur biaya.

Begini Rekomendasi Teknikal Saham ASII, DEWA, PTBA untuk Jumat (22/5)

“Peningkatan laba di tengah efisiensi menunjukkan operating leverage mulai bekerja. Namun, perlu dicermati apakah pertumbuhan ini berasal dari event yang bersifat recurring atau masih dipengaruhi low base effect tahun lalu,” ujarnya kepada Kontan, Kamis (21/5/2026).

Senada, Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia, Adrian Djie, menilai pertumbuhan kinerja DYAN tergolong solid.

“Peningkatan laba bersih yang disertai efisiensi beban mencerminkan kemampuan manajemen dalam melakukan ekspansi margin secara efektif,” jelasnya.

Meski demikian, dominasi segmen EO dinilai menjadi pedang bermata dua bagi perseroan. Wafi menyebut, posisi kuat DYAN di industri event dan MICE menjadi keunggulan, namun juga meningkatkan sensitivitas terhadap kondisi ekonomi.

“Ketergantungan yang tinggi membuat kinerja lebih sensitif terhadap siklus ekonomi,” tambahnya.

Adrian juga menilai hal serupa. Menurut dia, kontribusi EO yang mencapai hampir seluruh pendapatan membuat profil risiko DYAN cenderung siklikal.

Harga Nikel di LME dan Shanghai Turun, Kebijakan Ekspor Satu Pintu Jadi Pemicu

“Dalam kondisi inflasi tinggi atau pelemahan daya beli, anggaran pemasaran dan belanja rekreasi berpotensi tertekan, sehingga dapat memengaruhi permintaan terhadap layanan perseroan,” jelasnya.

Memasuki Kuartal II-2026, prospek DYAN dinilai masih cukup konstruktif. Sejumlah agenda seperti pameran otomotif, event korporasi, konser, hingga aktivitas MICE diperkirakan mulai meningkat.

“Momentum konsumsi domestik yang masih terjaga dapat mendukung permintaan event ke depan,” kata Wafi.

Adrian menambahkan, potensi pertumbuhan tetap akan sangat bergantung pada tingkat okupansi acara, skala penyelenggaraan, serta kondisi ekonomi secara umum.

Di sisi lain, event berskala besar dinilai dapat menjadi katalis utama kinerja jangka pendek. “Model bisnis DYAN berbasis volume dan skala event, sehingga event besar berpotensi menjadi pendorong utama pertumbuhan,” ujar Wafi.

Adrian juga sepakat bahwa akselerasi pada segmen EO akan memberikan dampak signifikan terhadap kinerja secara keseluruhan, dengan catatan daya beli masyarakat tetap terjaga.

Untuk rekomendasi, Wafi memberikan rating buy dengan target harga Rp125 per saham. Sementara itu, Adrian cenderung lebih konservatif dengan rekomendasi wait and see, sembari mencermati perkembangan pasar, dengan level Rp 90 sebagai area yang perlu diperhatikan dalam jangka pendek.

Rupiah Melemah ke Rp 17.667 per Dolar AS, Pasar Skeptis Efektivitas BI Rate

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *