
Scoot.co.id JAKARTA. Emiten pelat merah, PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (MTEL) atau yang dikenal dengan Mitratel membukukan kinerja keuangan positif di kuartal I-2026.
Melansir laporan keuangan per 31 Maret 2026, MTEL meraup pendapatan sebesar Rp 2,29 triliun. Ini tumbuh 1,39% secara tahunan atau Year on Year (YoY) dari Rp 2,26 triliun.
Rinciannya, pendapatan dari sewa menara telekomunikasi berkontribusi sebesar Rp 2,11 triliun yang tumbuh 0,44% YoY dan jasa konstruksi Rp 164,90 miliar yang melonjak 12,69% YoY.
MTEL juga mengantongi pendapatan dari jasa dan sewa listrik sebesar Rp 10,51 miliar. Segmen ini tumbuh paling tinggi, yakni 54,62% secara tahunan dari Rp 6,80 miliar.
Dari bottom line, laba tahun berjalan Mitratel mencapai Rp 545,05 miliar di periode Januari–Maret 2026. Raihan tersebut tumbuh 3,56% YoY dari Rp 526,313 miliar.
Mitratel (MTEL) Cetak Kinerja Positif di Kuartal I-2026, Laba Tumbuh 3,56%
Raihan tersebut ditopang oleh kinerja operasional yang solid. Per Maret 2026, Mitratel mengelola 40.327 menara atau tumbuh 1,9% secara tahunan.
Kolokasi di Mitratel tumbuh 11,3% secara tahunan menjadi 23.006 unit, serta peningkatan tenancy ratio menjadi 1,57 kali pada periode Januari–Maret 2026.
Di sisi lain, jaringan fiber optic entitas usaha PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) ini tumbuh signifikan sebesar 17,3% secara tahunan menjadi 72.842 km billable length di kuartal I-2026.
Direktur Utama Mitratel Theodorus Ardi Hartoko menjelaskan transformasi bisnis MTEL tidak lagi terbatas pada pembangunan menara telekomunikasi, tetapi model Next Generation TowerCo.
Selain penguatan ekosistem Fixed Wireless Access (FWA) berbasis jaringan fiber optic, Mitratel juga tengah memperkuat ekosistem layanannya melalui usulan penambahan kegiatan usaha Power-as-a-Service (PaaS).
“Pengembangan ekosistem terintegrasi, termasuk FWA dan PaaS, merupakan langkah strategis untuk mendorong pemerataan konektivitas digital nasional,” jelas pria yang akrab dipanggil Teddy belum lama ini.
Menurutnya, MTEL berada pada posisi strategis untuk menangkap peluang dari akselerasi penggelaran jaringan 5G. Di mana, diversifikasi menara, penguatan fiberisasi dan pengembangan layanan PaaS akan menjadi fondasi.
MTEL Chart by TradingView
Equity Analyst Phillip Sekuritas Edo Ardiansyah masih mempertahankan prospek yang konstruktif terhadap sektor menara telekomunikasi Indonesia pada 2026.
“Permintaan struktural tetap kuat, didorong oleh implementasi 5G yang terus berjalan dan densifikasi jaringan, terutama di wilayah perkotaan dan area dengan trafik tinggi,” jelasnya.
Edo menilai inisiatif yang dipimpin pemerintah seperti Internet Rakyat (IRA) dan FWA yang memanfaatkan spektrum 1,4 GHz membuka peluang baru untuk ekspansi broadband, khususnya di wilayah yang belum terlayani dengan baik.
Menurutnya, MTEL berada pada posisi yang baik untuk menangkap pertumbuhan melalui alokasi modal yang disiplin dan efisiensi operasional, meskipun terdapat tekanan makro seperti ketidakpastian geopolitik.
Lebih lanjut, Phillip Sekuritas merekomendasikan beli MTEL dengan target harga di Rp 675 per saham. Ini mencerminkan rasio P/E di 2026 sebesar 23,3 kali, PBV 1,6 kali dan EV/EBITDA 11,4 kali.