Kenaikan 50 BPS BI rate jadi langkah jaga stabilitas inflasi

Jakarta, IDN Times – Bank Indonesia mulai mewaspadai dampak lonjakan harga komoditas global terhadap inflasi domestik, terutama bagi industri yang masih bergantung pada bahan baku impor dan kebutuhan pangan dari luar negeri. Meski begitu, BI memastikan tekanan imported inflation hingga saat ini masih relatif terkendali.

Deputi Gubernur Senior BI Aida S Budiman menjelaskan, imported inflation umumnya terjadi akibat pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS melalui mekanisme exchange rate pass-through. Namun, dampak pelemahan rupiah terhadap harga barang impor dinilai tidak sebesar sebelumnya.

Hal itu ditopang oleh semakin dalamnya pasar keuangan domestik, meningkatnya penggunaan instrumen lindung nilai (hedging), hingga konsistensi kebijakan BI dalam menjaga stabilitas rupiah.

“Karena kita sudah melakukan proses pendalaman pasar uang, kemudian transaksi hedging juga tersedia, dan terlebih lagi komitmen kebijakan BI dalam menjaga stabilisasi nilai tukar rupiah, maka angka exchange rate pass-through ini dari pengamatan kami semakin lama semakin kecil,” ujarnya AIda dalam konferensi pers RDG BI, Rabu (20/5/2026).

1. Harga komoditas mulai naik

Meski tekanan dari nilai tukar mulai mereda, BI justru melihat ancaman baru datang dari lonjakan harga komoditas akibat memanasnya geopolitik global dan terganggunya rantai pasok internasional.

Penutupan Selat Hormuz, eskalasi konflik di Timur Tengah, hingga distribusi logistik global yang belum sepenuhnya pulih membuat harga energi dan pangan terus merangkak naik. Kondisi ini dikhawatirkan dapat menekan biaya produksi industri nasional sekaligus memicu kenaikan harga komoditas.

“Harga minyak Brent pada awal minggu ini secara year to date sudah mencapai 93 dolar AS per barel dan trennya terus meningkat,” katanya.

2. Kenaikan harga komoditas berdampak ke sektor industri

Tak hanya minyak, harga LNG global juga mengalami kenaikan signifikan, termasuk pasokan dari Qatar yang menyumbang sekitar 18 persen dari kebutuhan LNG dunia. Kenaikan harga juga terjadi pada sejumlah komoditas lain seperti batu bara, crude palm oil (CPO), hingga nikel.

Kenaikan harga komoditas tersebut diperkirakan berdampak langsung terhadap sektor industri yang masih mengandalkan bahan baku impor, mulai dari industri manufaktur, makanan dan minuman, hingga transportasi dan energi.

Dari sisi inflasi, BI mencatat tekanan mulai terlihat pada kelompok administered prices seiring kenaikan harga BBM nonsubsidi dan avtur. Namun demikian, inflasi inti dan volatile food sejauh ini masih terjaga.

“Untuk inflasi inti dan volatile food ini masih terus terjaga,” ujarnya.

3. BI rate naik 50 basis poin untuk menjaga ekspektasi inflasi dan stabilkan rupiah

BI menilai ketidakpastian global masih akan berlangsung dalam beberapa waktu ke depan. Karena itu, bank sentral bersama pemerintah pusat dan daerah melalui Tim Pengendalian Inflasi Pusat dan Daerah (TPIP dan TPID) terus memperkuat koordinasi guna menjaga stabilitas harga dan daya beli masyarakat.

Sebagai langkah antisipatif, BI juga menaikkan BI Rate sebesar 50 basis poin untuk menjaga stabilitas rupiah sekaligus memastikan ekspektasi inflasi tetap terkendali.

“Kami memperkirakan inflasi selama 2026-2027 masih terjaga pada sasaran 2,5 persen plus minus 1 persen,” kata Aida.

Rupiah Menguat ke Rp17.653 per Dolar AS usai BI Naikkan BI Rate BI Naikkan Suku Bunga Acuan 50 Bps Jadi 5,25 Persen Bank Indonesia Dituntut Bertanggung Jawab Jaga Stabilitas Rupiah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *