Harta kekayaan Perry Warjiyo, Gubernur BI didesak DPR mundur usai rupiah anjlok, meroket jadi Rp72 M

Ringkasan Berita:

  • Perry Warjiyo tengah jadi sorotan karena diminta mundur oleh anggota DPR RI Primus Yustisio setelah nilai tukar Rupiah anjlok
  • Kekayaan Perry Warjiyo tercatat mengalami lonjakan yang sangat drastis sejak dirinya naik jabatan dari Deputi Gubernur menjadi Gubernur BI.
  • Perry Warjiyo telah menyentuh angka Rp72.693.371.439 (Rp72,6 miliar) tanpa catatan utang sama sekali.

Scoot.co.id – Mengintip harta kekayaan Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo, tengah menjadi pusat perhatian publik setelah didesak mundur oleh Anggota Komisi XI DPR RI, Primus Yustisio.

Perry dinilai gagal menjaga stabilitas mata uang Garuda setelah nilai tukar rupiah merosot hingga menembus angka Rp17.600 per dolar AS.

Di tengah riuhnya desakan mundur tersebut, sisi lain dari nakhoda bank sentral ini ikut memantik rasa penasaran publik, terutama mengenai isi pundi-pundi finansialnya.

Berdasarkan penelusuran melalui Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), kekayaan Perry Warjiyo tercatat mengalami lonjakan yang sangat drastis sejak dirinya naik jabatan dari Deputi Gubernur menjadi Gubernur BI.

Melonjak Drastis dari Rp7 Miliar Jadi Rp72 Miliar

Saat masih mengemban amanat sebagai Deputi Gubernur BI beberapa tahun lalu, total harta kekayaan Perry berada di angka Rp7 miliar.

Namun, setelah menduduki kursi nomor satu di BI selama dua periode, pundi-pundi kekayaannya meroket berkali-kali lipat.

Berdasarkan laporan LHKPN KPK terbaru yang diserahkannya pada 25 Maret 2025 (untuk periodik 2024), total harta kekayaan bersih milik pria kelahiran Sukoharjo ini telah menyentuh angka Rp72.693.371.439 (Rp72,6 miliar) tanpa catatan utang sama sekali.

Sumber terbanyak kekayaan Perry berasal dari tanah dan bangunan yang ia miliki senilai Rp52 miliar.

Disusul dari surat berharganya senilai Rp10 miliar.

Berikut rincian lengkap harta kekayaan terbaru milik Perry Warjiyo.

I. DATA HARTA

A. TANAH DAN BANGUNAN Rp. 52.326.069.532

1. Tanah dan Bangunan Seluas 253 m2/257 m2 di KAB / KOTA KOTA JAKARTA SELATAN , HASIL SENDIRI Rp. 7.200.000.000

2. Tanah dan Bangunan Seluas 250 m2/110 m2 di KAB / KOTA TANGERANG SELATAN, HASIL SENDIRI Rp. 1.450.000.000

3. Tanah Seluas 1.000 m2 di KAB / KOTA SUKOHARJO, Rp. 130.000.000

4. Tanah Seluas 799 m2 di KAB / KOTA SLEMAN, Rp. 1.200.000.000

5. Tanah dan Bangunan Seluas 436 m2/260 m2 di KAB / KOTA SLEMAN, Rp. 900.000.000

6. Bangunan Seluas 54 m2 di KAB / KOTA KOTA JAKARTA PUSAT, HASIL SENDIRI Rp. 1.100.000.000

7. Bangunan Seluas 76 m2 di KAB / KOTA KOTA JAKARTA PUSAT, HASIL SENDIRI Rp. 1.300.000.000

8. Bangunan Seluas 35 m2 di KAB / KOTA KOTA JAKARTA SELATAN, HASIL SENDIRI Rp. 1.100.000.000

9. Tanah dan Bangunan Seluas 700 m2/540 m2 di KAB / KOTA KOTA JAKARTA SELATAN, HASIL SENDIRI Rp. 24.000.000.000

10. Tanah dan Bangunan Seluas 96 m2/96 m2 di KAB / KOTA KOTA JAKARTA SELATAN, HASIL SENDIRI Rp. 4.500.000.000

11. Tanah dan Bangunan Seluas 55 m2/55 m2 di KAB / KOTA KOTA JAKARTA SELATAN, HASIL SENDIRI Rp. 2.750.000.000

12. Tanah dan Bangunan Seluas 55 m2/55 m2 di KAB / KOTA KOTA JAKARTA PUSAT, HASIL SENDIRI Rp. 3.874.189.532

13. Tanah Seluas 60 m2 di KAB / KOTA KARAWANG, HASIL SENDIRI Rp. 821.880.000

14. Tanah Seluas 255 m2 di KAB / KOTA KARAWANG, HASIL SENDIRI Rp. 2.000.000.000

B. ALAT TRANSPORTASI DAN MESIN Rp. 2.438.125.000

1. MOBIL, MERCEDES BENZ S450 Tahun 2023, LAINNYA Rp. 2.438.125.000

C. HARTA BERGERAK LAINNYA Rp. 1.032.000.000

D. SURAT BERHARGA Rp. 10.792.491.700

E. KAS DAN SETARA KAS Rp. 4.185.053.263

F. HARTA LAINNYA Rp. 1.919.631.944

Sub Total Rp. 72.693.371.439

II. HUTANG Rp. —-

III. TOTAL HARTA KEKAYAAN (I-III) Rp. 72.693.371.439

Profil Perry Warjiyo

Sebelum dipercaya memimpin institusi, Perry merupakan orang dalam yang meniti karier dari bawah di Bank Indonesia.

Pengalamannya mencakup berbagai posisi strategis, termasuk di bidang riset ekonomi dan kebijakan moneter.

Baca juga: Rupiah Anjlok Tertekan Dolar AS, Pengamat Ekonomi Beberkan Pemicu Global dan Solusi untuk Masyarakat

Perry Warjiyo menduduki posisi penting selama 2 tahun sebagai Direktur Eksekutif di International Monetary Fund (IMF), mewakili 13 negara anggota yang tergabung dalam South-East Asia Voting Group pada tahun 2007-2009.

Dalam kurun waktu 2009-2013, Perry Warjiyo juga menjabat sebagai Asisten Gubernur untuk kebijakan moneter, makroprudensial dan internasional, serta Direktur Eksekutif Departemen Riset Ekonomi dan Kebijakan Moneter Bank Indonesia. 

Perry Warjiyo menjabat sebagai Deputi Gubernur BI periode 2013-2018. 

Perry Warjiyo resmi ditetapkan menjadi Gubernur Bank Indonesia untuk kedua kalinya berdasarkan Keputusan Presiden RI No.38/P Tahun 2023 tanggal 5 Mei 2023, dan mengucapkan sumpah jabatan pada tanggal 24 Mei 2023.

Kemudian kembali ditetapkan menjadi Gubernur Bank Indonesia untuk periode 2023-2028.  

Didesak Mundur

Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo sedang menjadi sorotan masyarakat hingga anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI karena nilai tukar Rupiah yang terus melemah hingga menyentuh level Rp17.700-an per Dolar AS per 19 Mei 2026.

Desakan agar Perry Warjiyo mundur dari jabatannya datang dari anggota Komisi XI DPR RI Primus Yustisio.

“Kenapa rupiah kita ini lemah kalau dibandingkan dengan dolar? Tapi faktanya dan ironisnya, pelemahan ini terjadi terhadap semua mata uang. Kita melemah terhadap dolar Singapura, dolar Australia, ringgit (Malaysia), riyal (Arab Saudi), dolar Hong Kong, hingga Euro. Euro pada tahun 2006 lalu itu masih Rp7.000 per Euro, tapi sekarang sudah hampir menembus Rp20.000,” ungkap Primus Yustisio dalam rapat kerja bersama Komisi XI DPR RI, seperti dilansir dari Tribunnews.com, Selasa (19/5/2026).

Primus menegaskan bahwa kondisi moneter saat ini harus disikapi secara realistis, mengingat Bank Indonesia dinilai mulai kehilangan kepercayaan publik.

“Ini kan harus kita lihat dengan realita, Pak. Kita tidak bisa berdiam diri. Apa yang terjadi saat ini, menurut saya pribadi, Bank Indonesia sudah menghilangkan trust (kepercayaan) dan mengesampingkan kredibilitasnya. Dan Anda sebagai pimpinan Bank Indonesia, sebagai tokoh utamanya, harus gentleman, harus berani melawan. Ada apa ini?” cecar Primus.

Lebih lanjut, politikus Partai Amanat Nasional (PAN) ini memberikan contoh budaya pertanggungjawaban pejabat di negara luar seperti Jepang dan Korea Selatan, di mana meletakkan jabatan saat gagal mengemban tugas adalah sebuah sikap yang ksatria.

“Pak Perry yang saya hormati, kadang kalau kita mengambil tindakan gentleman itu bukan sebuah penghinaan, Pak. Saya berikan contoh, mungkin saatnya sekarang Bapak mengundurkan diri. Tidak ada salahnya, selanjutnya terserah Bapak. Tapi itu bukan sikap penghinaan, Anda justru akan lebih dihormati seperti (pejabat) di Korea atau di Jepang. Kalau Anda tidak bisa melakukan tugas Anda dengan baik, tidak ada salahnya,” lanjut Primus.

Di akhir interupsinya, mantan aktor laga ini bahkan sempat menyelipkan sebuah kutipan dalil agama sebagai pengingat keras bagi sang Gubernur BI.

“Terakhir, saya ingin mengutip sebuah hadis, karena saya melihat Anda adalah orang yang saleh. Hadis ini sangat familiar, yang artinya: ‘Apabila suatu urusan diserahkan kepada yang bukan ahlinya, maka tunggulah kehancurannya,'” pungkas Primus tegas.

Dalam forum tersebut, Gubernur BI Perry Warjiyo merespons kritik anggota dewan dengan menegaskan bahwa kondisi yang terjadi perlu dipahami sebagai bagian dari stabilitas nilai tukar, bukan semata-mata posisi kurs.

Ia menjelaskan bahwa rupiah masih berada dalam kondisi stabil jika dilihat dari pergerakan volatilitas yang tercatat dalam kisaran sekitar 5,4 persen dalam periode 20 hari terakhir.

Menurutnya, penting untuk meluruskan pemahaman publik bahwa stabilitas tidak selalu berarti penguatan nilai tukar, melainkan kestabilan dalam pergerakan yang tidak terlalu bergejolak.

Perry juga mengungkapkan bahwa posisi rupiah saat ini berada di atas rata-rata asumsi tahunan yang telah ditetapkan sebelumnya, yakni sekitar Rp16.900 per dolar AS. Dalam proyeksi tersebut, rupiah diperkirakan berada dalam rentang Rp16.200 hingga Rp16.800.

Ia menambahkan bahwa secara pola historis, rupiah cenderung mengalami tekanan pada periode April hingga Juni setiap tahunnya. Namun, Bank Indonesia melihat adanya potensi penguatan pada paruh kedua tahun, khususnya Juli hingga September 2026.

(*)

Baca berita Tribunsumsel.com lainnya di Google News  

Ikuti dan Bergabung di Saluran Whatsapp Tribunsumsel.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *