Konflik Timur Tengah dorong harga minyak bumi tetap tinggi pada 2026

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Harga minyak dunia diperkirakan masih bergerak fluktuatif sepanjang 2026 di tengah tingginya risiko gangguan pasokan global akibat tensi geopolitik di Timur Tengah.

Berdasarkan data Bloomberg pada Senin (11/5) pukul 15.05 WIB, harga minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) naik 3,83% dalam sehari menjadi US$ 99,07 per barel. Sementara itu, minyak Brent naik 3,51% menjadi US$ 104,85 per barel.

Founder Traderindo, Wahyu Laksono, memperkirakan volatilitas harga minyak masih akan tinggi sepanjang tahun ini. 

Bahkan, ia memproyeksikan harga minyak Brent berpotensi menyentuh kisaran US$ 125 hingga US$ 130 per barel pada kuartal II-2026.

Rupiah Melemah, Reksadana Berdenominasi Dolar AS Makin Dilirik Investor

“Lonjakan ini didorong oleh puncak ketegangan geopolitik dan risiko gangguan pasokan di jalur perdagangan utama,” kata Wahyu kepada Kontan, Senin (11/5/2026).

Sementara itu, harga minyak WTI diproyeksikan bergerak di rentang US$ 115 hingga US$ 120 per barel pada periode yang sama.

Menurut Wahyu, kondisi ini mencerminkan tingginya permintaan domestik di AS serta ketatnya margin ekspor di tengah ketidakpastian global. Namun, ia menilai harga minyak berpotensi mulai mengalami normalisasi pada semester II-2026 seiring penyesuaian produksi global dan kemungkinan pelepasan cadangan minyak strategis oleh negara-negara konsumen besar.

Wahyu memperkirakan rata-rata harga Brent pada semester II-2026 hingga akhir tahun berada di kisaran US$ 85 hingga US$ 95 per barel.

Sedangkan harga WTI diproyeksikan bergerak pada rentang US$ 80 hingga US$ 90 per barel pada periode tersebut.

Meski demikian, risiko lonjakan harga dinilai masih terbuka apabila konflik di Timur Tengah meluas dan mengganggu distribusi energi global dalam waktu lama.

“Jika konflik di Timur Tengah meluas secara regional dan menutup Selat Hormuz secara permanen selama lebih dari satu bulan, skenario bullish ekstrem bisa membawa harga minyak ke level historis di atas US$ 150 – US$ 200 per barel,” kata Wahyu.

Senada, Presiden Komisaris HFX International Berjangka, Sutopo Widodo memperkirakan harga minyak masih berada dalam tren bullish dengan volatilitas tinggi.

Ia menilai harga minyak WTI berpotensi bertahan di atas US$ 100 per barel apabila gangguan distribusi di Selat Hormuz terus berlanjut.

Sutopo menambahkan, International Energy Agency (IEA) bahkan menyebut kondisi saat ini sebagai salah satu guncangan pasokan terbesar dalam sejarah pasar energi global.

Menurut dia, peningkatan produksi dari Arab Saudi maupun negara-negara anggota OPEC+ lainnya belum mampu secara cepat menggantikan potensi kehilangan pasokan akibat gangguan logistik di kawasan Timur Tengah.

“Jika negosiasi di Beijing gagal menghasilkan kesepakatan konkret, harga minyak berpotensi bergerak ke kisaran US$ 110 hingga US$ 120 per barel pada kuartal ini,” kata Sutopo.

Ini Deretan Proyek yang Bakal Topang Pendapatan KBAG pada 2026

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *