
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Reksadana berdenominasi dolar Amerika Serikat (AS) dinilai semakin menarik di tengah tekanan terhadap nilai tukar rupiah.
Instrumen ini dinilai mampu menjadi alternatif diversifikasi, baik untuk mengurangi risiko fluktuasi pasar domestik maupun risiko pelemahan mata uang.
Berdasarkan data Infovesta, salah satu reksadana dolar AS dengan pertumbuhan dana kelolaan alias Asset Under Management (AUM) tertinggi sepanjang Desember 2025 – April 2026 adalah Syailendra Russell IdealRatings Top 200 Islamic Technology Index USD dengan pertumbuhan AUM sebesar 41,70%.
Rupiah Loyo Rp 17.414 pada Awal Pekan, Harapan Damai AS-Iran Memudar
Melansir fund fact sheet per 30 April 2026, portofolio reksadana yang dikelola Syailendra Capital itu ditempatkan pada saham sebesar 93,58%, deposito 7,39%, serta kas dan setara kas minus 0,97%.
Adapun, alokasi terbesar portofolionya berada pada saham teknologi AS, yakni NVDA UW Equity sebesar 18,60%, AAPL UW Equity 16,00%, dan MSFT UW Equity sebesar 11,67%.
Fund Manager Syailendra Capital, Rendy Wijaya mengatakan pertumbuhan kinerja reksadana tersebut didorong oleh pergerakan saham-saham teknologi AS yang menjadi konstituen utama portofolio.
“Konstituen reksadana ini berisi saham teknologi yang berbasis di AS. Pertumbuhan laba yang solid dari emiten sektor teknologi US menjadi faktor pendorong pertumbuhan kinerja dari reksadana ini,” ujar Rendy kepada Kontan, Senin (11/5/2026).
Menurut Rendy, prospek reksadana saham global dan syariah berbasis dolar AS masih menarik ke depan.
Selain menawarkan eksposur terhadap pasar global, instrumen tersebut juga menjadi alternatif bagi investor yang ingin berinvestasi pada produk berbasis syariah.
Rendy menilai, di tengah ketidakpastian pasar yang masih tinggi, investor perlu memiliki alternatif investasi untuk melakukan diversifikasi risiko. Karena itu, momentum investasi pada reksadana dolar AS masih cukup menarik.
Ini Deretan Proyek yang Bakal Topang Pendapatan KBAG pada 2026
“Faktor utama yang menjadi daya Tarik bagi investor untuk membeli reksadana berdenominasi dolar AS tentunya menjadi salah satu alternatif untuk mendiversifikasi risiko, baik dari sisi risiko pasar modal dalam negeri, maupun risiko terhadap fluktuasi nilai tukar mata uang,” kata Rendy.
Meski demikian, investor tetap perlu memperhatikan profil risiko masing-masing produk.
Rendy menjelaskan, reksadana pendapatan tetap (RDPT) dan reksadana pasar uang (RDPU) memiliki risiko yang relatif lebih rendah dibandingkan reksadana saham. Namun, potensi imbal hasilnya juga cenderung lebih terbatas.
Sementara itu, untuk reksadana saham global dan syariah, risiko utama berasal dari komposisi portofolio yang mayoritas diisi saham perusahaan global yang belum tentu familiar bagi investor domestik.
Karena itu, investor perlu memahami konstituen dalam portofolio reksadana sebelum berinvestasi. Salah satu mitigasi risiko yang dapat dilakukan adalah dengan penempatan dana secara bertahap atau dollar cost averaging (DCA).
Investor juga perlu mencermati prospek pergerakan nilai tukar ke depan karena akan memengaruhi kinerja investasi berbasis dolar AS.
Rendy menambahkan, keuntungan investasi pada reksadana dolar AS tidak hanya berasal dari potensi imbal hasil, tetapi juga manfaat diversifikasi risiko mata uang.
IHSG Ditutup Turun 0,92% ke 6.905 pada Senin (11/5), BMRI, CUAN, ESSA Top Losers LQ45
“Dengan memiliki instrumen investasi dengan denominasi mata uang yang berbeda, hal ini dapat meminimalisir risiko mata uang di masa mendatang,” tutupnya.