
Scoot.co.id – JAKARTA. Nilai tukar rupiah kembali melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan awal pekan ini di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik global dan fokus pasar terhadap sejumlah data ekonomi penting dari AS.
Rupiah spot ditutup pada level Rp 17.414 per dolar Amerika Serikat (AS) pada akhir perdagangan Senin (11/5/2026), melemah 0,18% dari akhir pekan lalu yang ada di Rp 17.382 per dolar AS.
Sejalan, rupiah di Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia (BI) ada di level Rp 17.415 per dolar AS atau melemah 0,23% dari akhir pekan lalu yang ada di Rp 17.375 per dolar AS.
Rupiah Melemah, Reksadana Berdenominasi Dolar AS Makin Dilirik Investor
Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, mengatakan pelemahan rupiah dipicu meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap konflik antara AS dan Iran yang kembali memanas.
Menurut Ibrahim, Presiden AS Donald Trump menilai respons Iran terhadap proposal perdamaian AS sama sekali tidak dapat diterima, sehingga meredam harapan pasar terhadap deeskalasi konflik di kawasan Teluk dalam waktu dekat.
“Proposal asli AS dilaporkan menginginkan penghentian kegiatan pengayaan uranium Iran selama 20 tahun, penghapusan persediaan uranium yang sangat diperkaya, dan pembongkaran fasilitas nuklir utama sebagai imbalan atas pencabutan sanksi dan penghentian aksi militer,” ujar Ibrahim, Senin (11/5/2026).
Namun, Iran disebut mengajukan syarat balasan berupa pencabutan sanksi, penghentian kehadiran angkatan laut AS di sekitar Selat Hormuz, jaminan keamanan, serta pengakuan hak Iran untuk tetap menjalankan sebagian aktivitas nuklir.
Kondisi tersebut membuat investor terus mencermati situasi di Selat Hormuz yang hingga kini sebagian besar masih tertutup sejak awal konflik berlangsung.
Di sisi lain, pasar juga menanti kunjungan Trump ke China akhir pekan ini untuk bertemu Presiden China Xi Jinping di Beijing.
Dyandra Tak Tebar Dividen Tahun Ini, Ini Alasannya
Menurut Ibrahim, pertemuan tersebut diperkirakan akan membahas isu perdagangan, Taiwan, hingga konflik Iran, dengan China dipandang sebagai salah satu pemain diplomatik penting karena hubungan ekonominya dengan Teheran.
Dari dalam negeri, sentimen datang dari hasil Survei Konsumen Bank Indonesia (BI) yang menunjukkan keyakinan masyarakat terhadap kondisi ekonomi nasional masih berada di zona optimistis.
Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) April 2026 tercatat di level 123,0, sedikit meningkat dibandingkan Maret 2026 sebesar 122,9. Sementara Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) naik menjadi 116,5 dari sebelumnya 115,4, yang mencerminkan persepsi masyarakat terhadap penghasilan, lapangan kerja, dan daya beli mengalami perbaikan.
Untuk perdagangan Selasa (12/5/2026), Ibrahim menilai pelaku pasar akan mencermati rilis data inflasi AS periode April, baik Indeks Harga Konsumen (CPI) maupun Indeks Harga Produsen (PPI).
Selain itu, data penjualan ritel AS dan pidato sejumlah pejabat bank sentral AS The Federal Reserve (The Fed) juga akan menjadi perhatian investor.
Ibrahim memproyeksikan rupiah pada Selasa (12/5/2026) akan bergerak di kisaran Rp 17.410 hingga Rp 17.460 per dolar AS.