Kurangi ketergantungan pada dolar, BI catat LCT meningkat 300 persen pada Januari-April 2026

Scoot.co.id – , MAKASSAR – Bank Indonesia (BI) terus melakukan penguatan Local Currency Transaction (LCT) sebagai salah satu langkah mengurangi ketergantungan pada dolar AS, di tengah kondisi tingginya ketidakpastian ekonomi global. BI mencatatkan, transaksi LCT mengalami peningkatan yang signifikan pada empat bulan pertama tahun 2026.

“Sampai dengan April 2026, transaksi LCT telah mencapai 22,61 miliar dolar AS, meningkat sebesar 309 persen (yoy) dari 7,33 miliar dolar AS pada Januari-April 2025,” ujar Direktur Departemen Pendalaman Pasar Keuangan BI Ruth A. Cussoy Intama dalam acara Pelatihan Wartawan BI bertajuk ‘Penguatan Kebijakan Valas Dan Intermediasi Untuk Stabilitas Rupiah Dan Pertumbuhan Kredit’ di Makassar, Sulawesi Selatan, Jumat (22/5/2026).

Negara-negara mitra utama Indonesia dalam implementasi LCT adalah China, Jepang, dan Malaysia. Masing-masing kontribusinya yakni 89 persen (China terbesar), 6 persen, dan 3 persen.

BI juga mencatatkan, jumlah pelaku LCT terus meningkat mencapai 5.265 pelaku per bulan pada 2026. Hal itu menunjukkan dampak positif LCT secara nyata kepada pelaku usaha. Tercatat terjadi tren peningkatan dari tahun ke tahun. Pada 2021 angkanya 497 pelaku per bulan, 2022 menjadi 1.741 pelaku per bulan, 2023 (2.602 pelaku per bulan), dan 5.020 pelaku per bulan, yang terus melonjak pada sepanjang 2025 sebanyak 9.720 pelaku per bulan.

Ruth menuturkan, kenaikan volume transaksi LCT serta peningkatan jumlah pelaku LCT mencerminkan semakin luasnya diversifikasi penggunaan mata uang dalam transaksi ekonomi dan keuangan internasional. Langkah tersebut juga bertujuan mengurangi dampak gejolak global, terutama di tengah tren penguatan dolar AS terhadap transaksi perdagangan dan keuangan antarnegara.

“Bukan berarti kita menghindari dolar AS, karena kita tahu transaksi global masih dominan menggunakan dolar AS. Tetapi untuk negara-negara yang memang memiliki volume transaksi besar dan bisa langsung menggunakan mata uang domestik, kenapa harus lewat dolar dulu?” tuturnya.

Bank Sentral memastikan bakal terus melakukan upaya penguatan LCT. Diharapkan transaksi LCT bisa terus meningkat, sehingga penggunaan dolar AS bisa diminimalisasi dan berdampak positif bagi rupiah.

 

BI menilai skema LCT mampu meningkatkan efisiensi biaya transaksi karena pelaku usaha tidak perlu lagi menggunakan dolar AS sebagai mata uang perantara dalam perdagangan bilateral. Selain itu, LCT juga dinilai mendorong diversifikasi eksposur mata uang, memperdalam pasar keuangan regional, serta memperluas akses partisipasi pelaku pasar di kawasan.

“Local Currency Transaction ini menurut kami merupakan salah satu inisiatif yang perlu terus dikembangkan, apalagi sejak Presiden AS menerapkan Liberation Day. Jadi sudah saatnya kita memperkuat kerja sama bilateral melalui skema LCT,” ujar dia.

Menurut pandangan Ruth, berbagai negara kini mulai mempercepat kerja sama bilateral penggunaan mata uang lokal dalam transaksi perdagangan dan investasi melalui bank Appointed Cross Currency Dealer (ACCD). Indonesia disebut menjadi salah satu negara yang cukup agresif mendorong implementasi LCT, serta mulai mendapat pengakuan dari negara-negara mitra.

Implementasi LCT Indonesia diketahui dimulai sejak 2018. Mulanya kerja sama dilakukan bersama Malaysia dan Thailand, yang kemudian berkembang ke Jepang, China, dan Korea Selatan, serta UAE. Implementasi LCT akan segera dilakukan dengan Singapura, India, dan Arab Saudi. 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *