Scoot.co.id – , JAKARTA — Nilai tukar rupiah menembus level Rp 17.300 per dolar AS pada perdagangan Kamis (23/4/2026). Pengamat memprediksi pergerakan Mata Uang Garuda berpotensi mencapai Rp 17.400 per dolar AS pada akhir 2026.
Mengutip Bloomberg, sekitar pukul 11.16 WIB, rupiah melemah 123 poin atau 0,72 persen menuju posisi Rp 17.304 per dolar AS. Pada perdagangan sebelumnya, rupiah berada di level Rp 17.181 per dolar AS.
“Hari ini rupiah tembus di atas Rp 17.300 per dolar AS. Artinya, ekspektasi Rp 17.300 per dolar AS sudah tercapai pada Kamis, dan kemungkinan besar pada akhir April, yaitu pekan depan, akan tembus level Rp 17.400 per dolar AS,” kata Pengamat Mata Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi dalam keterangannya kepada wartawan, Kamis (23/4/2026).
Ibrahim menuturkan, sebenarnya proyeksi rupiah di level Rp 17.400 per dolar AS merupakan ekspektasi sepanjang tahun. Namun kenyataannya, pada bulan keempat (April) sudah tercapai.
“Salah satu penyebabnya yang pertama adalah masalah eksternal, yakni dalam pertemuan pekan ini antara AS dan Iran yang difasilitasi Pakistan, Iran tidak ikut dalam perundingan tersebut karena AS sudah menyalahi aturan dalam kebijakan senjata dengan melakukan penangkapan atau penguasaan terhadap kapal tanker Iran yang melewati Selat Hormuz,” terangnya.
Di sisi lain, lanjutnya, Iran siap untuk melakukan perang panjang dan sudah tidak percaya lagi terhadap AS. AS sendiri membuat kebijakan senjata sepihak untuk mencapai suatu kesepakatan.
Kesepakatan yang diinginkan AS ialah Selat Hormuz tidak boleh dikenakan tarif oleh Iran. Kemudian, penghentian pengayaan uranium dan diambil alih atau disimpan di AS.
“Dua hal ini kemungkinan besar tidak akan bisa diterima oleh Iran karena itu adalah salah satu hak suatu negara. Sehingga Iran tidak mau diintervensi oleh AS,” jelasnya.
Sentimen Internal
Warga menukarkan uang rupiah terhadap uang dollar AS di Money Changer, Jakarta. – (Republika/Thoudy Badai)
Ibrahim melanjutkan, adapun sentimen internal yang memengaruhi tertekannya nilai tukar rupiah, di antaranya adalah potensi dampak kenaikan harga minyak terhadap anggaran negara.
“Dari segi internal sendiri, dengan kenaikan harga minyak Brent crude oil saat ini sudah di 103 dolar AS per barel, kemudian WTI crude oil 98 dolar AS per barel membuat anggaran, defisit anggaran Indonesia kemungkinan besar akan kembali melebar,” jelasnya.
Ibrahim menuturkan, impor minyak dunia ke Indonesia ialah 1,5 juta barel per hari. Adapun kebutuhan minyak mentah di Indonesia mencapai 2,1 juta barel per hari. Sehingga pemerintah harus menyiapkan anggaran yang cukup besar untuk memenuhi kebutuhan konsumsi minyak.
Di sisi lain, kapal tanker Pertamina yang ada di Selat Hormuz sampai sekarang belum bisa keluar dari Selat Hormuz karena permasalahan gejolak politik yang memanas di Timur Tengah.
“Kemudian, utang pemerintah saat ini mendekati jatuh tempo yang begitu besar. Ini pun juga memengaruhi kinerja dari pemerintah sendiri,” ujarnya.
Ibrahim menambahkan, pemerintah baru-baru ini juga menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi, di antaranya Pertamax Turbo. Sedangkan Pertamax tidak dinaikkan. Hal itu dinilai bisa menyebabkan beban subsidi pemerintah akan semakin besar. Sebab, pengguna Pertamax bisa saja beralih ke Pertalite (BBM subsidi).
Harga minyak di APBN 2026 diketahui dipatok di angka 70 dolar AS per barel, dan batas maksimalnya yakni 92 dolar AS per barel.
“Rupiah di APBN 2026 dipatok sebesar Rp 16.500 per dolar AS. Di sinilah pemerintah memerlukan dana besar untuk menutupi kebocoran-kebocoran terutama di impor minyak mentah dunia. Ini mungkin salah satu yang menyebabkan rupiah kembali mengalami pelemahan di atas Rp 17.300,” tutupnya.
IHSG Berpotensi Melemah
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Kamis berpotensi bergerak melemah dipicu dominasi sentimen global. Dibuka menguat, IHSG bergerak melemah 51,79 poin atau 0,69 persen ke posisi 7.489,82 pada pukul 09.55 WIB. Sementara itu, kelompok 45 saham unggulan atau Indeks LQ45 turun 6,49 poin atau 0,88 persen ke posisi 729,48.
“Secara keseluruhan, IHSG diperkirakan bergerak dalam rentang terbatas dengan kecenderungan defensif, di mana faktor global (harga minyak, dolar AS, dan geopolitik) akan lebih dominan dalam menentukan arah jangka pendek dibandingkan katalis domestik,” sebut Tim Riset Lotus Andalan Sekuritas dalam kajiannya di Jakarta, Kamis.
Dari mancanegara, meskipun masih terdapat risiko geopolitik yang tercermin dari kenaikan harga minyak akibat gangguan di Selat Hormuz, pelaku pasar cenderung mengabaikan faktor tersebut dan lebih fokus terhadap fundamental domestik.
Namun demikian, valuasi yang semakin tinggi membuat risiko koreksi jangka pendek mulai meningkat seiring pergeseran risk-reward yang menjadi kurang menarik.
Pengunjung mengamati layar digital yang menampilkan data pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta. – (Republika/Thoudy Badai)
Dari dalam negeri, dari sisi makro, keputusan Bank Indonesia (BI) untuk mempertahankan BI-Rate di level 4,75 persen masih gagal menopang rupiah, sementara kenaikan yield SBN ke level 6,64 persen mengindikasikan adanya capital outflow lanjutan dari pasar obligasi.
Secara keseluruhan, kombinasi faktor eksternal dan domestik, termasuk sentimen MSCI, arus keluar asing, serta tekanan di pasar obligasi, menunjukkan outlook jangka pendek pasar keuangan Indonesia masih cenderung defensif dengan potensi volatilitas yang tinggi.
Pada perdagangan Rabu (22/4/2026), bursa saham Eropa kompak melemah, di antaranya Euro Stoxx 50 turun 0,49 persen, indeks FTSE 100 Inggris melemah 0,21 persen, indeks DAX Jerman melemah 0,31 persen, serta indeks CAC 40 Prancis melemah 0,96 persen.
Sementara itu, bursa AS Wall Street kompak menguat pada Rabu (22/4/2026), di antaranya Indeks Dow Jones Industrial Average menguat 0,69 persen ke 49.490,03, indeks S&P 500 menguat 1,05 persen ke 7.137,90, dan indeks Nasdaq Composite menguat 1,73 persen ke 26.937,28.
Bursa saham regional Asia pagi ini, antara lain indeks Nikkei melemah 637,86 poin atau 1,07 persen ke 58.948,00, indeks Shanghai melemah 17,79 poin atau 0,43 persen ke 4.088,47, indeks Hang Seng melemah 237,74 poin atau 0,91 persen ke 25.925,50, dan indeks Strait Times melemah 49,60 poin atau 0,99 persen ke 4.953,12.