Nadiem: Rajin lapor SPT dan LHKPN, dari mana logika saya korupsi?

Mantan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, Nadiem Anwar Makarim, berkeyakinan dirinya tidak mungkin melakukan korupsi. Alasannya, selama menjadi pejabat negara, ia secara disiplin mengunggah laporan harta kekayaan penyelenggara negara (LHKPN) ke Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Berdasarkan laman resmi KPK, Nadiem memang tercatat melaporkan LHKPN setiap tahun pada periode 2019-2025. Dari dokumen tersebut, total harta Nadiem tercatat susut hampir 51% dari Rp 1,22 triliun pada Desember 2019 menjadi Rp 600,64 miliar pada Februari 2025.

Di samping itu, Nadiem mengaku disiplin melaporkan kekayaannya dalam bentuk surat pemberitahuan (SPT) pajak ke Kementerian Keuangan. “Di mana logikanya bahwa saya akan melakukan korupsi lalu mengumumkan korupsi itu dalam SPT pajak maupun LHKPN yang saya paparkan sendiri secara mandiri,” kata Nadiem di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta, Senin (11/5).

Dia menjelaskan, mayoritas kekayaannya berasal dari surat berharga di PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO). Secara terperinci, Nadiem mendapatkan saham GOTO dari mendirikan PT Aplikasi Karya Anak Bangsa atau induk usaha Gojek pada 2015.

Baca juga:

  • Optimistis Nadiem Diputus Bebas, Pengacara: Jaksa Gagal Buktikan Dakwaan
  • Menkeu Purbaya Tutup Pintu Tax Amnesty, Pilih Perluas Basis Pajak
  • Kemenhut Gunakan Drone Thermal, Regenerasi Gajah Sumatra Terekam di Bengkulu

Nadiem mengakui kekayaannya sempat naik menjadi Rp 4,87 triliun pada 2022. Namun, dia menegaskan kenaikan tersebut disebabkan oleh melonjaknya harga surat berharganya menjadi sekitar Rp 300 per lembar setelah GOTO melakukan penawaran publik perdana atau IPO.

Dengan kata lain, Nadiem berargumen kekayaan yang dimilikinya tidak riil lantaran tidak direalisasikan. Hal tersebut sesuai dengan laporan SPT pajak maupun LHKPN Nadiem selama 2019-2025.

“Bisa dihitung dengan kalkulator bahwa semua kekayaan saya bergantung pada satu angka, yakni nilai saham GOTO di Bursa Efek Jakarta,” katanya.

Karena itu, Nadiem sebelumnya menekankan tidak ada aliran dana ilegal kepada dirinya. Hal tersebut disampaikan setelah mendengarkan kesaksian konsultan pajak yang mengisi SPT pajak dan LHKPN miliknya.

Nadiem lantas menantang jaksa penuntut umum (JPU) untuk melakukan pembuktian terbalik terkait dakwaan penerimaan dana Rp 809 miliar yang dialamatkan kepadanya. Dia menjelaskan, seluruh perubahan aliran dana yang tercatat dalam SPT maupun LHKPN-nya berasal dari penawaran publik perdana atau IPO PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk.

“Sekarang terbukti bahwa tidak ada aliran dana ilegal dalam bentuk apa pun yang saya terima. Semua itu adalah fitnah belaka, dan itu yang sangat menghina bagi saya,” kata Nadiem di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta, Senin (4/5) pekan lalu.

Seperti diketahui, Nadiem didakwa memperkaya diri sendiri akibat lonjakan nilai surat berharga senilai Rp 5,59 triliun dalam LHKPN 2022. Namun Nadiem menyampaikan angka tersebut terjadi akibat gabungan dari aksi pemecahan saham oleh GOTO pada 2021 dan IPO pada 2022.

Di samping itu, Nadiem mengaku telah memiliki saham GOTO sejak 2015. Nadiem mengklaim baru menjual saham GOTO pada 2023 atau setahun setelah pengadaan laptop Chromebook berakhir pada 2022.

Senior Manager PB Taxand, Ashadi Bunjamin, mengaku telah mengisi SPT maupun LHKPN Nadiem sejak 2018 sampai saat ini. Menurutnya, Nadiem memiliki 58.416 saham GOTO senilai Rp 1,22 triliun pada 2020.

Ashadi mencatat jumlah lembar saham GOTO milik Nadiem berubah pada 2021 menjadi sekitar 15 miliar unit akibat pemecahan saham. Namun Ashadi menekankan nilai total saham milik Nadiem tidak berubah pada tahun tersebut, yakni senilai Rp 1,2 triliun.

Adapun harga saham GOTO milik Nadiem tercatat naik 327,86% menjadi Rp 5,22 triliun pada 2023. Ashadi menjelaskan hal tersebut terjadi karena nilai saham GOTO milik Nadiem berubah menjadi Rp 338 per lembar akibat IPO.

“Yang saya tekankan, peningkatan ini dari Rp 1,2 triliun ke Rp 5,2 triliun tidak ada penambahan uang dari Pak Nadiem,” katanya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *