RoA 7%, emiten Boy Thohir BFIN kunci laba Rp 354 miliar di kuartal I 2026

PT BFI Finance Indonesia Tbk (BFIN) melalui tiga bulan pertama tahun ini dengan kinerja yang relatif solid di tengah ketidakpastian global yang masih membayangi.

Emiten terafiliasi pengusaha nasional Garibaldi Thohir atau Boy Thohir itu berhasil mencatatkan pertumbuhan piutang pembiayaan selama periode tersebut. Perseroan juga mampu menjaga kualitas aset tetap sehat, meski tekanan geopolitik dan perlambatan konsumsi domestik saat ini turut memengaruhi industri multifinance.

Hingga akhir Maret 2026, total aset BFIN tercatat sebesar Rp 25,3 triliun. Sementara itu, piutang pembiayaan yang dikelola mencapai Rp 26,8 triliun, tumbuh 5,5% secara tahunan atau year on year (YoY). Pertumbuhan itu ditopang oleh penyaluran pembiayaan ke berbagai segmen, terutama untuk kebutuhan modal kerja.

Sebagai gambaran, dari total piutang tersebut, sekitar 57,8% atau setara Rp 15,5 triliun dialokasikan untuk pembiayaan modal kerja bagi berbagai skala usaha. Komposisi itu mencerminkan fokus perseroan dalam mendukung sektor produktif sekaligus menjaga keseimbangan portofolio.

Baca juga:

  • Kartini BISA Fest, Telkom Beri Dukungan Legalitas Hingga Pasar ke UMKM Perempuan
  • DPR akan Panggil Kemenhub hingga KemenPU Bahas Prioritas Perlintasan Sebidang
  • Roblox Hapus Fitur Chat Anak, Komdigi Sebut Indonesia Jadi yang Pertama di Dunia

Sepanjang kuartal I 2026, BFI Finance menyalurkan pembiayaan baru sebesar Rp 5,5 triliun. Nilai tersebut relatif stabil dibandingkan dengan kuartal sebelumnya, sekaligus mencerminkan konsistensi strategi ekspansi yang selektif di tengah kondisi pasar yang fluktuatif.

Presiden Direktur BFIN Sutadi mengatakan, perseroan tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian dalam menjaga kualitas portofolio. “Pendekatan selektif dan disiplin menjadi kunci dalam mengantisipasi volatilitas pasar serta menjaga fondasi keberlanjutan bisnis kami,” ungkap Sutadi dalam keterangan resminya di Jakarta, Kamis (30/4).

Dari sisi portofolio, pembiayaan kendaraan roda empat masih mendominasi dengan porsi 68,1%, baik untuk refinancing maupun pembelian unit. Adapun pembiayaan alat berat dan mesin menyumbang 15%, disusul pembiayaan roda dua sebesar 8%, serta pembiayaan beragun properti dan lainnya sebesar 8,9%.

Kualitas pembiayaan perseroan masih terjaga. Itu tercermin dari rasio non-performing financing (NPF) bruto sebesar 1,57% dan neto 0,25% per akhir Maret 2026. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan rata-rata industri multifinance yang berada di level 2,78% per Februari 2026.

Selain itu, tingkat pencadangan BFIN masih terjaga secara memadai dengan rasio coverage terhadap NPF bruto mencapai 2,71 kali. Hal ini menunjukkan kemampuan perseroan dalam mengantisipasi potensi risiko kredit di tengah ketidakpastian ekonomi.

Dari sisi profitabilitas, BFI Finance membukukan pendapatan sebesar Rp 1,7 triliun atau tumbuh 3,1% YoY. Laba bersih tercatat sebesar Rp 354,3 miliar, dengan rasio return on assets (RoA) 7,0% dan return on equity (RoE) 13,0%.

Struktur permodalan BFIN juga tetap konservatif, tercermin dari rasio gearing di level 1,2 kali, jauh di bawah batas maksimum regulator. Di sisi lain, likuiditas perseroan tetap kuat, didukung pengelolaan arus kas yang efektif.

Pada awal tahun ini, perseroan juga telah melunasi kewajiban obligasi tepat waktu, serta mempertahankan peringkat kredit nasional di level AA-(idn) dengan outlook stabil dari Fitch Ratings Indonesia. Manajemen menyatakan akan terus memperkuat diversifikasi pendanaan dan kolaborasi strategis guna menjaga pertumbuhan berkelanjutan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *