Update: Wall Street hijau Selasa (21/4), optimisme AI redam kekhawatiran Timur Tengah

Scoot.co.id  Indeks utama Dow Jones Industrial Average dan S&P 500 dibuka menguat pada perdagangan Selasa (21/4/2026), didorong optimisme terhadap kecerdasan buatan (AI) serta kinerja emiten yang solid, di tengah ketidakpastian konflik Timur Tengah.

Melansir Reuters hingga pukul 09.45 waktu setempat, indeks Dow Jones naik 309,83 poin atau 0,63% ke 49.752,39. Sementara S&P 500 menguat 0,17% ke 7.121,44 dan Nasdaq Composite naik 0,14% ke 24.438,49.

Wall Street Dibuka Menguat Selasa (21/4), Dipicu Optimisme AI dan Laba Emiten

Data menunjukkan 87,5% dari perusahaan dalam indeks S&P 500 yang telah merilis laporan keuangan melampaui ekspektasi analis, jauh di atas rata-rata jangka panjang sebesar 67,4%. Hal ini memperkuat sentimen positif di pasar saham.

Sentimen positif datang setelah JPMorgan Chase menaikkan target akhir tahun indeks S&P 500, dengan alasan kuatnya kontribusi sektor teknologi dan AI terhadap pertumbuhan laba.

Sementara itu, Amazon mengumumkan rencana investasi hingga US$ 25 miliar ke perusahaan AI Anthropic, menegaskan komitmen Big Tech dalam mengembangkan teknologi tersebut.

Begini Respon OJK Soal Keputusan MSCI

Saham Amazon naik sekitar 2% dan mendorong sektor consumer discretionary dalam S&P 500 menguat hampir 1%, menjadi penopang utama indeks.

Namun, pelemahan sektor kesehatan sekitar 0,5% menahan laju kenaikan lebih lanjut.

Pelaku pasar juga mencermati sidang konfirmasi Senat untuk Kevin Warsh, kandidat Ketua Federal Reserve yang diusulkan Presiden Donald Trump.

Proses ini dinilai krusial karena berpotensi memengaruhi arah kebijakan moneter AS ke depan.

Dari sisi saham individual, UnitedHealth Group melonjak 9,2% setelah menaikkan proyeksi laba tahunan. Saham sektor kesehatan lainnya seperti CVS Health dan Humana juga menguat.

Rupiah Melemah Tekan Margin, Seleksi Saham Kesehatan Jadi Kunci

Sebaliknya, GE Aerospace turun 3,1% setelah memperingatkan tekanan dari harga minyak yang tinggi, keterbatasan pasokan bahan bakar, dan perlambatan ekonomi global.

Di sisi lain, ketegangan geopolitik masih membayangi pasar. Konflik antara AS dan Iran kembali memicu volatilitas, terutama setelah insiden di Selat Hormuz yang sempat mengganggu jalur distribusi minyak global.

Meski demikian, optimisme terhadap AI dan kuatnya kinerja emiten sejauh ini mampu meredam kekhawatiran pasar, membuat investor tetap bertahan di aset berisiko.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *