Adu kinerja 12 emiten grup Bakrie: BUMI, DEWA, BNBR hingga UNSP, siapa terkuat?


Gurita bisnis Grup Bakrie akhir-akhir ini menarik perhatian investor setelah menunjukkan peningkatan kinerja yang signifikan sepanjang tahun lalu. Perbaikan ini tidak hanya tercermin dari fundamental perusahaan dalam laporan keuangan, tetapi juga dari pergerakan harga sahamnya di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Keluarga Bakrie dikenal memiliki kerajaan bisnis yang membentang luas di berbagai sektor, meliputi pertambangan, kendaraan listrik, kontraktor, media, hingga perkebunan. Secara keseluruhan, terdapat 12 perusahaan yang terafiliasi dengan grup konglomerasi ini dan telah resmi melantai di BEI. Cikal bakal bisnis Bakrie sendiri bermula dari sebuah perusahaan perdagangan umum yang didirikan pada tahun 1942, sebelum kemudian berkembang pesat menjadi konglomerasi lintas sektor seperti saat ini, dengan PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) sebagai induk perusahaannya.

Berdasarkan laporan keuangan tahunan, sebanyak sembilan emiten dari Grup Bakrie telah merilis kinerja keuangannya ke publik. Namun, tiga perusahaan lainnya masih belum menyampaikan laporan, meskipun batas waktu penyampaian laporan keuangan emiten BEI telah terlampaui. Ketiga emiten tersebut adalah PT Intermedia Capital Tbk (MDIA), PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL), dan PT Visi Media Asia Tbk (VIVA). Hingga saat ini, belum ada penjelasan resmi dari masing-masing perusahaan mengenai alasan keterlambatan tersebut, berdasarkan keterbukaan informasi di BEI.

Dari emiten yang sudah melaporkan kinerjanya, hasilnya cukup beragam. Beberapa perusahaan mencatat lonjakan kinerja yang luar biasa sepanjang tahun lalu, seperti PT Darma Henwa Tbk (DEWA) yang berhasil membukukan laba bersih melonjak hingga 7.697%. Di sisi lain, ada pula perusahaan yang menghadapi tekanan kinerja. PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk (VKTR) misalnya, tercatat berbalik dari laba menjadi rugi. Sementara itu, PT Graha Andrasentra Propertindo Tbk (JGLE) justru mencatatkan rugi yang kian membengkak sebesar 74,2% dibandingkan periode sebelumnya.

Bagaimana detail kinerja keuangan Grup Bakrie secara keseluruhan? Berikut adalah ulasan singkat mengenai beberapa emiten kunci dari Grup Bakrie.

Laba Bersih DEWA Meroket 7.700% Jadi Rp 4,3 Triliun

PT Darma Henwa Tbk (DEWA) menjadi emiten Grup Bakrie yang paling bersinar sepanjang tahun 2025. Perseroan berhasil meraup laba bersih sebesar Rp 4,30 triliun, angka yang terbang 7.697% secara tahunan (yoy) dibandingkan tahun 2024 yang hanya Rp 55,23 miliar. Emiten yang bergerak di sektor pertambangan ini juga membukukan pendapatan sebesar Rp 6,39 triliun sepanjang 2025, meningkat 5,98% yoy dari periode yang sama sebelumnya, yakni Rp 6,03 triliun.

Menurut Analis Investasi Stockbit Sekuritas, Everson Sugianto, laba bersih DEWA sepanjang 2025 jauh melampaui ekspektasi, bahkan setara dengan 1.324% dari estimasi konsensus 2025F. Lonjakan laba bersih ini terutama ditopang oleh pengakuan *negative goodwill* sebesar Rp 4,5 triliun yang berasal dari akuisisi PT Gayo Mineral Resources (GMR). Kenaikan ini juga berhasil menutupi sejumlah kerugian yang timbul dari penghapusan piutang dan persediaan, hilangnya pengendalian atas entitas anak, serta penjualan dan penghapusan aset tetap yang totalnya mencapai sekitar Rp 724 miliar.

Meskipun kontribusi dari konsolidasi GMR bersifat *one-off*, Stockbit menilai prospek kinerja DEWA tetap positif ke depan. “Core profit meningkat signifikan menjadi Rp 573 miliar selama 2025 (vs 2024: Rp 65 miliar) didukung ekspansi margin laba kotor,” terang Everson dalam analisisnya, Jumat (27/3).

Di pasar saham, kinerja saham DEWA tak kalah cemerlang. Harga saham DEWA melonjak 503,60% dari Rp 118 per saham pada 2 Januari 2025, kemudian ditutup di level Rp 670 per saham pada 30 Desember 2025. Namun, jika mengacu pada perdagangan hari ini, Senin (13/4), harga saham DEWA naik 0,97% ke level 520, setelah anjlok 22,39% sepanjang tahun 2026.

Laba Bersih ENRG Melonjak 21% yoy

Perusahaan Grup Bakrie selanjutnya yang mencatatkan lonjakan kinerja keuangan adalah PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG). Emiten ini merupakan perusahaan minyak dan gas hulu independen yang memiliki operasi tersebar di seluruh kepulauan Indonesia, mulai dari Sumatra bagian utara, Kalimantan Timur, Jawa, hingga Indonesia bagian Timur. Saat ini, kegiatan bisnis ENRG meliputi eksplorasi, pengembangan, dan produksi minyak mentah, gas alam, dan gas cair.

Sepanjang tahun 2025, ENRG berhasil mencetak laba bersih sebesar US$ 91,53 juta atau setara Rp 1,53 triliun (dengan kurs Rp 16.720 terhadap dolar AS). Nilai ini melonjak 21,40% dari laba bersih ENRG pada tahun sebelumnya yang sebesar US$ 75,39 juta. Penjualan neto perseroan tercatat sebesar US$ 498,12 juta atau Rp 8,32 triliun, naik 6,56% dari penjualan tahun sebelumnya sebesar US$ 467,42 juta. Perseroan juga telah menginvestasikan lebih dari US$ 250 juta untuk program eksplorasi dan pengembangan di seluruh aset produksinya.

“Hasilnya, Perseroan mampu meningkatkan keandalan lapangan-lapangan Perseroan serta memperluas kapasitas produksi aset di masa mendatang,” ungkap Direktur Utama ENRG Syailendra S. Bakrie dalam keterangan resmi, dikutip Senin (13/4).

Emiten Transportasi VKTR Rugi Rp 11,36 Miliar

Sementara itu, VKTR adalah emiten Grup Bakrie yang berfokus pada pengembangan elektrifikasi transportasi berbasis energi hijau. Perusahaan ini bermula dari PT Bakrie Steel Industries yang berdiri pada tahun 2007 sebagai distributor kendaraan komersial dan komponen logam. Pada Maret 2022, perseroan bertransformasi menjadi PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk untuk memperkuat arah bisnis di sektor transportasi rendah emisi, sejalan dengan transisi energi di Indonesia.

Namun, VKTR membukukan rugi bersih sebesar Rp 11,36 miliar, berbalik dari catatan laba yang ditorehkan perseroan pada tahun sebelumnya sebesar Rp 7,56 miliar. Meskipun mencatatkan kerugian, VKTR berhasil membukukan kenaikan pendapatan, meski dengan persentase yang sangat tipis.

Baru-baru ini, VKTR meresmikan pabrik kendaraan listrik atau *electric vehicle* (EV) pertama di Indonesia dengan nilai investasi Rp 5 triliun di Magelang, Jawa Tengah. Peresmian tersebut langsung dihadiri oleh Presiden RI Prabowo Subianto. Melalui anak usahanya, PT VKTR Sakti Industries (VKTS) menilai langkah ini demi memperkuat industri kendaraan listrik nasional, khususnya di segmen kendaraan komersial seperti bus dan truk, dalam mendorong ekosistem otomotif berbasis energi bersih. Presiden Prabowo berharap agar VKTR dapat tumbuh menjadi salah satu “national champion” Indonesia di sektor otomotif hingga mampu bersaing dan berdiri sejajar dengan perusahaan global.

“Kalau Jepang punya Isuzu, punya Hino, kalau Korea punya Hyundai, Daewoo, saya berharap berapa tahun lagi kami akan menganggap, melihat VKTR sebagai salah satu *champion* dari Indonesia,” ujar Prabowo pada Kamis (9/4).

Daftar Kinerja Keuangan dan Saham 12 Bisnis Grup Bakrie

No Emiten Laba 2025 Laba 2024 Selisih (%) Harga saham 2 Januari 2025 (per saham) Harga Saham 30 Januari 2025 (per saham) Selisih (%)
1. PT Darma Henwa Tbk (DEWA) Rp 4,30 triliun Rp 55,23 miliar 7.697% Rp 118 Rp 670 503,60%
2. PT Bumi Resources Minerals Tbk (BMRS) Rp 836,16 miliar Rp 408,09 miliar 104,89% Rp 402 Rp 1.100 217,92%
3. PT Bakrie Sumatera Plantations Tbk (UNSP) Rp 16,15 miliar Rp 138,88 miliar 88,37% Rp 93 Rp 436 349,48%
4. PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) Rp 493,85 miliar Rp 327,59 miliar 50,75% Rp 32 Rp 127 262,86%
5. PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) Rp 1,53 triliun Rp 1,24 triliun 23,38% Rp 242 Rp 1.600 595,65%
6. PT Bumi Resources Tbk (BUMI) Rp 1,37 triliun Rp 1,14 triliun 21% Rp 123 Rp 366 210,17%
7. PT Graha Andrasentra Propertindo Tbk (JGLE) (Rp 46,42 miliar) (Rp 26,65 miliar) 74,2% Rp 5 Rp 41 583,33%
8. PT Bakrieland Development Tbk (ELTY) (Rp 16,69 miliar) (Rp 68,52 miliar) -75,7% Rp 11 Rp 45 275%
9. PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk (VKTR) (Rp 11,36 miliar) Rp 7,56 miliar -250,3% Rp 129 Rp 845 550%
10. PT Intermedia Capital Tbk (MDIA) Rp 10 Rp 88 780%
11. PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL) Rp 50 Rp 50 0%
12. PT Visi Media Asia Tbk (VIVA) Rp 6 Rp 48 700%

(Sumber: laporan keuangan masing-masing emiten serta data perdagangan BEI, dikutip Senin (13/4).

Catatan: Beberapa perusahaan menggunakan dolar AS untuk mencatatkan kinerja keuangannya. Penyesuaian telah dilakukan dengan kurs Rp 16.720 terhadap Dolar AS.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *