Scoot.co.id JAKARTA. PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) mengumumkan rencana strategis dengan mengalokasikan belanja modal atau capital expenditure (capex) sebesar Rp 1,4 triliun untuk tahun 2026. Angka ini menunjukkan kenaikan signifikan 79% secara tahunan, dibandingkan dengan realisasi capex pada tahun 2025 yang tercatat sebesar Rp782 miliar.
Presiden Direktur Astra Agro Lestari, Djap Tet Fa, merinci bahwa mayoritas dana tersebut, sekitar 63,8%, akan diprioritaskan untuk sektor perkebunan. Alokasi ini mencakup agenda penting penanaman kembali (replanting), sebuah langkah krusial untuk menjaga produktivitas tanaman agar tetap optimal di tengah tantangan tingginya biaya input produksi.
Gelar RUPS, Astra Agro Lestari (AALI) Ubah Susunan Direksi
Selain itu, Djap Tet Fa dalam public expose AALI pada Rabu (15/4) menjelaskan bahwa 19,8% dari total capex akan dialokasikan untuk pengembangan mill (pabrik) dan port (pelabuhan). Sisanya, 16,4%, akan diarahkan untuk sektor non-plantation, mencakup pengadaan kendaraan angkut dan aset-aset pendukung operasional lainnya.
Alokasi untuk kendaraan angkut dan infrastruktur pendukung ini ditekankan sebagai bagian yang sangat krusial. Pasalnya, kenaikan biaya logistik merupakan dampak langsung dari krisis energi global saat ini. Dengan memiliki infrastruktur angkut yang lebih mumpuni, perseroan berharap dapat mengendalikan dan meningkatkan efisiensi operasional dengan lebih efektif.
Volatilitas harga minyak dunia diakui telah menyebabkan lonjakan harga solar non-subsidi hingga hampir dua kali lipat dalam waktu singkat. Eskalasi tensi geopolitik global di Timur Tengah turut memberikan tekanan signifikan pada struktur biaya operasional perusahaan secara keseluruhan.
“Harga solar non-subsidi itu sudah meningkat. Sampai bulan April ini, peningkatannya sudah mencapai hampir 90% dari sebelumnya,” ungkap Djap Tet Fa. Ia menambahkan, “Biasanya di kisaran Rp14.000 – Rp15.000, sekarang mungkin sudah hampir Rp25.000 per liter.”
Djap Tet Fa menegaskan bahwa lonjakan harga ini adalah realitas yang tidak dapat dihindari bagi para pelaku industri komoditas global. Selain memicu kenaikan harga bahan bakar, konflik di Timur Tengah juga berdampak pada melonjaknya harga pupuk yang berbahan dasar urea dan amonia. “Tidak hanya itu, biaya logistik juga ikut membengkak drastis akibat kenaikan tarif angkut,” pungkasnya.
Surge (WIFI) Masuk Ekosistem KAI Bersama Huawei, Begini Skemanya