BI pastikan kredit perbankan tetap tumbuh meski BI-rate naik

Scoot.co.id – , JAKARTA — Bank Indonesia (BI) memastikan aliran kredit perbankan tetap terjaga meski suku bunga acuan naik menjadi 5,25 persen. Bank sentral menilai pembiayaan dunia usaha tetap perlu didorong agar pertumbuhan ekonomi nasional tidak melemah di tengah tekanan global.

Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan kebijakan moneter yang lebih ketat akan diimbangi dengan pelonggaran makroprudensial. Langkah tersebut dilakukan agar perbankan tetap leluasa menyalurkan kredit ke sektor riil.

“Sementara itu, kebijakan makroprudensial dan kebijakan sistem pembayaran tetap diarahkan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi atau pro-growth,” ujar Perry dalam Taklimat Media yang digelar secara daring, Rabu (20/5/2026).

BI mencatat kredit perbankan pada April 2026 tumbuh 9,98 persen secara tahunan, lebih tinggi dibandingkan Maret 2026 yang sebesar 9,49 persen. Pertumbuhan tersebut ditopang oleh kredit investasi, kredit modal kerja, dan kredit konsumsi.

Untuk menjaga momentum tersebut, BI memperkuat kebijakan insentif likuiditas makroprudensial (KLM). Hingga awal Mei 2026, nilai insentif yang telah disalurkan mencapai Rp 424,7 triliun. Dana tersebut diarahkan ke sektor prioritas seperti pertanian, industri, hilirisasi, perumahan, hingga UMKM.

 

BI juga memperluas kebijakan Rasio Intermediasi Makroprudensial (RIM) agar bank lebih fleksibel dalam mengelola likuiditas dan pembiayaan. Selain kredit, BI ingin sumber pendanaan non-dana pihak ketiga (DPK) ikut diperkuat.

Di tengah kenaikan suku bunga, BI memperkirakan pertumbuhan kredit perbankan sepanjang 2026 masih berada pada kisaran 8 persen hingga 12 persen. Optimisme tersebut didukung likuiditas perbankan yang dinilai masih memadai serta pertumbuhan dana pihak ketiga yang tetap tinggi.

Menurut Perry, ketahanan perbankan Indonesia juga masih kuat. Rasio kecukupan modal (capital adequacy ratio/CAR) perbankan pada Maret 2026 tercatat sebesar 25,09 persen, sedangkan rasio kredit bermasalah (non-performing loan/NPL) tetap rendah di level 2,14 persen secara bruto.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *