
Scoot.co.id JAKARTA. Bank Indonesia (BI) terus mendorong perbankan memperluas penyaluran kredit ke sektor-sektor produktif yang masih memiliki ruang pertumbuhan besar. Di saat bersamaan, bank juga diminta lebih kreatif mencari sumber pendanaan di luar dana pihak ketiga (DPK).
Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Destry Damayanti mengatakan, penguatan Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM) dan Rasio Intermediasi Makroprudensial (RIM) tidak hanya ditujukan untuk mendorong kredit, tetapi juga memacu inovasi pendanaan di industri perbankan.
“Di samping ingin mendorong kredit, kita juga ingin mendorong kreativitas bank dalam mencari sumber pendanaan,” ujar Destry dalam konferensi pers RDG BI, Rabu (20/5/2026).
Menurutnya, BI kini mulai memperkenalkan skema baru yang mengaitkan pembiayaan (financing) dengan sumber pendanaan (funding) bank. Nantinya, bank yang mampu memperoleh pendanaan di luar DPK akan mendapatkan insentif berupa pengurangan giro wajib minimum (GWM), seperti dalam skema KLM.
“Mayoritas funding bank selama ini berasal dari DPK. Nah, kalau mereka bisa mendapatkan funding di luar itu, akan diberikan insentif,” jelasnya.
BI Mencatat Kredit Perbankan Tumbuh 9,98% pada April 2026
Tak hanya itu, BI juga ingin mendorong bank memperluas bentuk pembiayaan, tidak hanya melalui kredit langsung tetapi juga melalui instrumen surat berharga.
Destry menilai langkah tersebut penting agar intermediasi perbankan lebih fleksibel sekaligus mampu menopang pertumbuhan ekonomi yang lebih merata.
BI juga telah memetakan sejumlah sektor ekonomi yang masih memiliki ruang besar untuk penyaluran kredit melalui asesmen credit gap.
Destry menjelaskan, credit gap merupakan selisih antara realisasi kredit yang diterima suatu sektor dibandingkan potensi pertumbuhan sektor tersebut.
“Kalau negatif artinya kredit yang diberikan masih lebih rendah dibandingkan potensi sektornya,” katanya.
Dari hasil asesmen BI, sektor pertanian menjadi salah satu sektor yang dinilai masih memiliki ruang besar untuk ekspansi kredit. Padahal, sektor tersebut mencatat pertumbuhan yang cukup impresif terhadap produk domestik bruto (PDB).
“Pertanian itu kreditnya masih relatif rendah, padahal potensinya besar,” ujar Destry.
Bank Ramai-Ramai Parkir Dana di SRBI Saat Penyaluran Kredit Masih Tertahan
Selain pertanian, sektor perdagangan juga dinilai masih kekurangan pembiayaan dari perbankan. Menurut dia, konsumsi rumah tangga yang masih tumbuh di atas 5% belum sepenuhnya diikuti pertumbuhan kredit perdagangan.
“Kredit ke sektor perdagangan ini masih relatif rendah, baru sekitar 3,9%,” ungkapnya.
Karena itu, BI mendorong perbankan lebih agresif menyalurkan kredit ke sektor-sektor yang memiliki multiplier effect besar terhadap perekonomian dan penciptaan lapangan kerja.
“Nah ini yang ingin kita dorong supaya bank bisa menyalurkan kredit ke sektor-sektor tersebut,” tandas Destry.
Daya Beli Melemah, Pertumbuhan Kredit Multiguna Perbankan Kian Melambat