
Scoot.co.id ,PALEMBANG — Bank Indonesia memprakirakan pertumbuhan ekonomi Sumatra Selatan (Sumsel) berada pada level positif di kisaran 5,00–5,80% (year-on-year/yoy) sepanjang tahun 2026.
Optimisme tersebut didorong oleh meningkatnya investasi, penguatan daya beli masyarakat, hingga tren kenaikan harga komoditas unggulan daerah.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sumsel Bambang Pramono mengatakan prospek ekonomi wilayah ini ke depan masih cukup kuat meski dibayangi sejumlah risiko global dan domestik.
“Pertumbuhan ekonomi Sumsel diprakirakan tetap terjaga dengan dukungan konsumsi rumah tangga, investasi proyek strategis, serta penguatan sektor industri pengolahan,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Jumat (8/5/2026).
Menurutnya, salah satu pendorong ekonomi Sumsel yakni kenaikan Upah Minimum Provinsi (UMP) Sumsel sebesar 7,1% pada 2026. Kondisi ini diharapkan mampu menjaga daya beli masyarakat dan mendorong konsumsi rumah tangga.
Selain itu, pembukaan rute internasional Singapura–Palembang oleh maskapai Scoot juga dinilai berpotensi meningkatkan sektor pariwisata, mobilitas masyarakat, dan aktivitas ekonomi daerah.
: : Rakor TPIDâTP2DD BI Sumsel: Jaga Prestasi, Kendalikan Inflasi
“Dari sisi investasi, pembangunan proyek strategis seperti Pelabuhan Tanjung Carat turut diperkirakan menjadi pendorong Sumsel mencapai level pertumbuhan ekonomi diatas 5%,” katanya.
Bambang menambahkan, tren kenaikan harga komoditas unggulan Sumsel seperti batu bara dan crude palm oil (CPO), juga masih menjadi faktor pendukung pertumbuhan ekonomi, terutama melalui peningkatan aktivitas industri pengolahan.
Melansir laporan Badan Pusat Statistik, ekonomi Sumsel pada triwulan I 2026 tercatat tumbuh sebesar 5,34% (yoy). Angka itu menjadikan Sumsel sebagai provinsi dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi ketiga di Pulau Sumatra.
Berdasarkan lapangan usaha, industri pengolahan menjadi sektor dengan andil terbesar terhadap pertumbuhan ekonomi, yakni sebesar 1,29%. Kinerja tersebut didorong meningkatnya produksi CPO dan industri pulp and paper.
Kemudian, sektor perdagangan besar dan eceran turut tumbuh positif dengan andil sebesar 1,19% seiring meningkatnya aktivitas masyarakat selama momentum Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) seperti Imlek, Ramadan, dan Idulfitri.
Namun demikian, Bambang menekankan bahwa masih ada sejumlah risiko yang perlu diantisipasi, antara lain potensi El Nino pada semester II, risiko kebakaran lahan, gangguan produksi pangan akibat bencana hidrometeorologi, hingga potensi penurunan produksi batu bara akibat kendala logistik dan pengurangan RKAB 2026.
“Ke depan, Bank Indonesia akan terus memperkuat sinergi bersama pemerintah daerah dan seluruh pemangku kepentingan guna menjaga stabilitas dan mendorong pertumbuhan ekonomi Sumsel yang inklusif dan berkelanjutan,” katanya.