
Scoot.co.id Pasar saham di kawasan Asia-Pasifik mencoba bergerak stabil pada perdagangan Selasa (9/6/2026). Pemulihan ini terjadi seiring mendinginnya harga minyak mentah setelah Iran dan Israel menyatakan menghentikan sementara aksi saling serang.
Momentum ini dimanfaatkan oleh para investor yang optimistis untuk kembali memburu saham-saham sektor semikonduktor yang sempat anjlok (buy the dip).
Daftar Harga Emas Antam Hari Ini (9/6): Turun Rp 10.000 Jadi Rp 2.733.000 Per Gram
Namun, para analis memperingatkan bahwa pemulihan (bounce) ini masih sangat rapuh dan berbasis sempit.
Sebagai cerminan, meski indeks acuan Wall Street ditutup menguat semalam, nyatanya 60% saham di dalam indeks S&P 500 justru berakhir di zona merah.
Di sisi lain, kontrak berjangka (futures) saham Wall Street dan Eropa terpantau melemah pada sesi awal perdagangan hari ini.
Yield SBN 10 Tahun Tembus 7%, Investor Cermati Risiko Fiskal dan Gejolak Global
Performa Bursa Utama Asia Selama Sesi Berjalan
Penurunan tajam pada hari Senin kemarin memicu aksi beli teknis (technical rebound) di sejumlah bursa utama regional:
- Korea Selatan (KOSPI): Melonjak 3,0%, memulihkan sebagian kerugian setelah ambles lebih dari 8% pada hari Senin akibat maraknya posisi transaksi margin ritel yang terlikuidasi.
- Jepang (Nikkei 225): Menguat tipis 0,3% setelah sempat terkapar minus 3,9% pada perdagangan sesi sebelumnya.
- MSCI Asia-Pasifik (di luar Jepang): Mencatatkan kenaikan agregat sebesar 0,9%.
Sebaliknya, bursa Eropa justru dibayangi tren koreksi di mana kontrak berjangka EUROSTOXX 50 dan DAX Jerman kompak melemah 0,6%, disusul FTSE Inggris yang turun 0,4%.
Kontrak berjangka S&P 500 dan Nasdaq juga ikut tergelincir 0,3% sembari menanti rilis laporan keuangan raksasa teknologi Oracle pada hari Rabu esok.
OJK Lirik Stablecoin dan RWA, Dinilai Punya Manfaat Ekonomi Lebih Luas
Analisis Bank of America: Suku Bunga Ketat dan Valuasi Jenuh Beli
Kenaikan imbal hasil (yield) obligasi terus menguji ketahanan valuasi pasar saham yang sudah dianggap terlalu mahal (stretched), terutama dengan kondisi jalur pelayaran Selat Hormuz yang masih dibatasi secara ketat.
“Inflasi global saat ini masih sangat lengket (sticky). Faktanya, 46 dari 68 bank sentral dunia mencatatkan realisasi inflasi yang melampaui target mereka,” tulis analis Bank of America (BofA) dalam nota risetnya.
BofA menambahkan bahwa kondisi inilah yang menjelaskan mengapa pasar obligasi terus bersiap menghadapi kebijakan moneter yang lebih ketat, yang pada gilirannya menekan aset-aset berdurasi panjang, kredit swasta, dan sejumlah mata uang negara berkembang (emerging markets).
“Indikator Global Breadth Rule kami menunjukkan bahwa hampir setengah dari pasar saham dunia sudah memasuki area jenuh beli (overbought), yang dipimpin oleh bursa Korea Selatan, Taiwan, dan Finlandia,” tambah pihak BofA.
Harga Anjlok 14% Sehari, Saham Blue Chip Ini Akan Bagi Dividen Jumbo, Yield 9%
Pasar Bersiap Hadapi Kenaikan Suku Bunga AS dan Eropa
Pasar obligasi masih terus berjuang keras menyusul rilis data tenaga kerja (payrolls) AS bulan Mei yang sangat kuat.
Hal ini memaksa para pelaku pasar mengalkulasi ulang risiko bahwa Bank Sentral AS (The Fed) kemungkinan besar akan menaikkan suku bunga acuannya tahun ini.
Fokus pasar kini tertuju pada rilis data Indeks Harga Konsumen (IHK) AS pada hari Rabu, yang diperkirakan akan menunjukkan lonjakan biaya energi yang terus mengerek angka inflasi utama sepanjang Mei.
Indikator Moneter / Pasar Posisi Saat Ini / Estimasi Proyeksi & Taruhan Pasar Peluang Kenaikan Suku Bunga Fed ~60% Probabilitas Pasar bertaruh The Fed akan menaikkan suku bunga paling cepat pada Oktober 2026, dan kenaikan seperempat poin (25 bps) sudah diantisipasi penuh untuk bulan Desember. Yield US Treasury 2 Tahun Bertengger di 4,158% Sempat menyentuh level tertinggi sejak awal tahun 2025 di posisi 4,201% pada sesi sebelumnya. Suku Bunga Acuan Eropa (ECB) Ekspektasi naik ke 2,25% Pasar mengantisipasi penuh kenaikan 25 bps dalam pertemuan ECB hari Kamis ini, dan memproyeksikan suku bunga Eropa bertengger di level 2,5% hingga 2,75% pada akhir tahun.
Dua Saham GUNA & JTPE Cum Dividen Hari Ini (9 Juni 2026), Yield Tembus 5%
Di pasar valuta asing, keperkasaan ekonomi AS menjaga kekuatan Dolar AS di level 160,17 yen, tipis di bawah level tertingginya semalam di 160,395.
Investor kini bersikap waspada karena jika angka tersebut menembus level psikologis 160,725 (rekor April lalu), Otoritas Moneter Jepang diprediksi akan melakukan intervensi pasar secara agresif.
Sementara itu, mata uang Euro tertahan di US$1,1527 dan Poundsterling berada di kisaran US$1,3334.
Harga Emas Antam (8/6) Naik Jadi Rp 2.743.000 Per Gram, Waspadai Selisih Buyback
Harga Komoditas Energi dan Emas Mulai Mereda
Meredanya ketegangan militer di Timur Tengah langsung berdampak pada penurunan harga di sektor komoditas strategis dunia:
- Minyak Mentah Brent: Turun tipis 0,2% ke level US$94,08 per barel, setelah sempat meroket hingga menyentuh US$98,00 per barel pada perdagangan semalam.
- Minyak Mentah WTI (AS): Melemah 0,3% menuju posisi US$91,06 per barel.
- Emas Fisik (Spot): Terkoreksi 0,3% menjadi US$4.316 per ons troi, menjauh dari titik terendah dua bulannya di level US$4.268,39 yang sempat tersentuh pada hari Senin kemarin.