
Bursa saham Wall Street Amerika Serikat (AS) ditutup turun pada perdagangan Rabu (4/6), di tengah tekanan kenaikan harga minyak dan imbal hasil obligasi pemerintah AS. Sentimen pasar juga tertekan kekhawatiran dari eskalasi konflik AS–Iran yang dapat memicu tekanan inflasi.
Dow Jones Industrial Average yang berisi 30 saham utama turun 619 poin atau 1,21%. S&P 500 terkoreksi 0,73% dan Nasdaq Composite melemah 0,89%.
Di pasar komoditas, harga minyak melonjak setelah terjadi aksi saling serang antara AS dan Iran. Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) naik 2,41% menjadi US$ 96,02 per barel, sedangkan Brent menguat 1,89% ke level US$ 97,81 per barel.
Kenaikan harga minyak turut diikuti oleh tekanan pada saham-saham berbasis teknologi, khususnya sektor kecerdasan buatan (AI). Nvidia melemah lebih dari 3%, Dell Technologies turun sekitar 3%, Oracle merosot lebih dari 5%, dan Microsoft ikut terkoreksi sekitar 3%.
Baca juga:
- Kejagung Sebut Dadan Hindayana Mark Up Harga Motor Listrik – Sepatu Program MBG
- Moody’s, S&P dan Fitch Soroti Obligasi Danantara, Analis Singgung Ketidakpastian
- Eks Bos Modal Ventura BRI Pertanyakan Kerugian Negara dalam Investasi di TaniHub
Dari sisi geopolitik, Presiden Donald Trump menyebut Iran telah menyetujui untuk tidak mengembangkan senjata nuklir, meski ia juga mengingatkan bahwa situasi tersebut masih bisa berubah. Pernyataan ini muncul di tengah meningkatnya ketegangan di Timur Tengah yang mendorong kenaikan harga minyak global.
Sebelumnya, militer Kuwait melaporkan adanya upaya pencegatan target musuh oleh sistem pertahanan udaranya. Komando Pusat AS (Centcom) kemudian menyatakan pasukan AS berhasil menangkis rudal balistik dan drone Iran, hingga melakukan serangan balasan di Pulau Qeshm sebagai respons atas ancaman di kawasan tersebut.
Di pasar obligasi, imbal hasil US Treasury pun naik seiring kenaikan harga energi dan data ekonomi yang lebih kuat dari perkiraan. Imbal hasil obligasi tenor 10 tahun mendekati 4,5%, sementara tenor 30 tahun berada di sekitar 5%.
Ahli strategi ekonomi di Potomac Fund Management, Shawn Snyder, menyebut turunnya pasar saham saat ini merupakan bentuk penyesuaian ekspektasi investor. Sebelumnya, pasar cenderung optimistis pemangkasan suku bunga akan segera dilakukan.
Namun, optimisme tersebut mulai terkoreksi karena data ekonomi AS justru menunjukkan tanda-tanda penguatan.
Sementara itu, berdasarkan CME FedWatch Tool, pelaku pasar masih memperkirakan The Fed berpotensi menaikkan suku bunga setidaknya sebesar 25 basis poin atau 0,25% hingga akhir tahun.
“Belum terlihat penurunan suku bunga seperti yang diperkirakan investor,” kata Snyder dikutip CNBC International, Kamis (4/6).