Buyback jadi penopang saham Buma Internasional (DOID), cek rekomendasinya

Scoot.co.id – JAKARTA. PT Buma Internasional Grup Tbk (DOID) berencana membeli kembali maksimal 320,76 juta saham atau sekitar 4,36% dari modal ditempatkan dan disetor penuh. Nilai buyback tersebut mencapai sekitar Rp 104,25 miliar.

Manajemen menyebut pelaksanaan buyback akan dilakukan secara bertahap hingga paling lambat 24 Juni 2027. Rencana tersebut juga akan dimintakan persetujuan pemegang saham dalam RUPSLB pada 24 Juni 2026.

Berdasarkan keterbukaan informasi DOID di BEI pada Selasa (19/5/2026) , dana buyback akan berasal dari kas internal DOID dan sudah termasuk biaya transaksi, biaya perantara perdagangan efek, serta biaya lainnya yang terkait dengan pelaksanaan aksi korporasi tersebut.

Hasil Pertemuan BEI, Pemerintah & DPR: Free Float 20%–30% Diusul Dapat Insentif Pajak

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menyebut langkah buyback tersebut menjadi sinyal positif dari manajemen bahwa harga saham DOID saat ini berada pada level yang relatif murah atau undervalued.

“DI sini buyback oleh DOID itu tujuannya adalah memberi sinyal bahwasannya harga saham DOID saat ini undervalued. Artinya, prospek perusahaan masih dinilai solid,” terang Nafan kepada Kontan, Selasa (19/5/2026).

Menurutnya, aksi buyback berpotensi meningkatkan nilai laba per saham (earning per share/EPS) sehingga valuasi saham DOID menjadi lebih menarik di mata investor. Selain itu, buyback juga dinilai berfungsi menjaga stabilitas harga saham di tengah tekanan pasar serta menahan aksi jual yang berlebihan.

Dari sisi fundamental, Nafan melihat prospek DOID ke depan masih cukup menjanjikan. Optimisme tersebut ditopang oleh keberlanjutan kontrak pertambangan yang dimiliki perusahaan, termasuk melalui entitas operasionalnya di sektor batu bara.

Ia menilai kontrak jangka panjang, baik di pasar domestik maupun ekspansi bisnis di Australia, dapat menjadi penopang kinerja perseroan dalam jangka menengah hingga panjang.

Konsensus Ekonom Memprediksi BI Rate Akan Naik Jadi 5%, Pasar Saham Bisa Bergejolak

“BUMA memiliki kontrak produksi batubara jangka panjang, terutama di Indonesia dan juga fokus ekspansi ke Australia. Ini bisa menjadi motor penggerak pertumbuhan,” jelasnya.

Di saat yang sama, upaya efisiensi operasional dan pengelolaan biaya yang dilakukan perusahaan diperkirakan dapat menopang profitabilitas di tengah dinamika industri tambang. 

Pada Selasa (19/5), saham DOID ditutup melemah 3,54% menjadi Rp 218 per saham. Dengan kombinasi tersebut, Nafan menilai prospek saham DOID masih menarik untuk dicermati investor. Namun, ia belum merinci rekomendasi maupun target harga saham DOID

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *