
Scoot.co.id JAKARTA. PT Eagle High Plantations Tbk (BWPT) berencana melakukan rencana kuasi reorganisasi dengan menggunakan laporan posisi keuangan konsolidasian tanggal 31 Desember 2025.
Melansir keterbukaan informasi di laman Bursa Efek Indonesia (BEI), rencana ini dilandasi keyakinan BWPT untuk bisa mempertahankan status kelangsungan usaha dan terus berkembang dengan baik di masa mendatang.
Oleh karena itu, emiten CPO ini pun berencana menggelar Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada tanggal 29 Juni 2026. Manajemen BWPT menjabarkan sejumlah alasan rencana kuasi reorganisasi ini.
Cermati Rekomendasi Teknikal Saham BRPT, ESSA, BWPT untuk Kamis (2/4)
Pertama, pada tanggal 31 Desember 2025, perseroan masih mencatatkan saldo defisit sebesar Rp 3,70 triliun yang merupakan akumulasi rugi tahun-tahun sebelumnya.
Kondisi tersebut dipengaruhi oleh tekanan keuangan akibat ekspansi usaha, peningkatan kewajiban keuangan dan beban bunga, dinamika kondisi eksternal, dampak pandemi COVID-19, serta optimalisasi portofolio usaha perseroan.
Kedua, sejak tahun 2022 hingga tahun 2025, perseroan telah menunjukkan pemulihan kinerja dan peningkatan laba secara berkelanjutan.
Ketiga, perseroan memandang perlu melakukan penataan struktur ekuitas dan laporan posisi keuangan agar lebih mencerminkan kondisi keuangan saat ini secara wajar.
Selain itu, ada beberapa tujuan rencana ini. Pertama, memperbaiki struktur ekuitas.
Laba dan Pendapatan Eagle High Plantations (BWPT) Kompak Naik di Tahun 2025
Kedua, memperoleh laporan posisi keuangan konsolidasian yang menunjukkan posisi keuangan dan struktur modal yang lebih baik tanpa dibebani defisit masa lalu, sehingga kondisi keuangan Perseroan menjadi lebih sehat dan mencerminkan posisi keuangan yang wajar.
Ketiga, dengan tidak adanya saldo defisit maka akan memunculkan harapan bahwa Perseroan mampu untuk membagikan dividen ke Pemegang Saham sesuai dengan peraturan yang berlaku.
“Terakhir, meningkatkan kepercayaan pemangku kepentingan, termasuk pemegang saham, investor, kreditor, dan mitra usaha, terhadap prospek usaha Perseroan di masa mendatang,” tulis manajemen dalam keterbukaan informasi tersebut.
Selama tiga tahun terakhir, BWPT mengaku menunjukkan tren performa positif yang tercermin dari peningkatan laba tahun berjalan secara berturut-turut, masing-masing sebesar Rp159,97 miliar pada tahun 2023, Rp 272,13 miliar pada tahun 2024, dan Rp 379,10 miliar pada tahun 2025, dengan rata-rata laba tahun berjalan dibandingkan pendapatan usaha sebesar 5,69%.
Peningkatan laba ini tidak hanya mencerminkan efektivitas strategi manajemen, tetapi juga dipengaruhi oleh kondisi eksternal yang lebih mendukung.
Faktor utama yang mendorong pertumbuhan ini antara lain kenaikan harga minyak nabati global, termasuk minyak sawit, yang berdampak positif terhadap pendapatan.
Cek Rekomendasi Saham AALI, BWPT, dan LSIP untuk Perdagangan Senin (2/2/2026)
“Selain itu, Perseroan melaksanakan berbagai inisiatif strategis untuk meningkatkan produktivitas operasional, antara lain melalui perbaikan fasilitas produksi, peningkatan infrastruktur pendukung termasuk jalan dan jembatan, penyelesaian pembangunan extension pabrik kelapa sawit untuk meningkatkan kapasitas produksi, serta investasi dalam peremajaan dan pengadaan alat berat guna meningkatkan efisiensi operasional,” ungkap manajemen.
Oleh karena itu, BWPT bermaksud melakukan rencana Kuasi Reorganisasi dengan mengeliminasi saldo laba negatif sebesar Rp 3,70 triliun dan hasil pengeliminasian akumulasi rugi (saldo laba negatif) Perseroan saat merencanakan kuasi reorganisasi adalah sebesar nol (0).
Caranya, dengan melakukan eliminasi antara akumulasi rugi (saldo negatif) dengan agio saham (yang disajikan merupakan bagian dari tambahan modal disetor) yang dimiliki oleh perseroan.
“Dampak positif dari pelaksanaan Rencana Kuasi Reorganisasi terhadap posisi ekuitas Perseroan adalah Perseroan dapat memulai awal yang baru dengan menunjukkan posisi keuangan yang lebih baik tanpa dibebani oleh defisit masa lalu,” paparnya.
Lebih lanjut, manajemen BWPT memandang prospek industri kelapa sawit tetap positif, sejalan dengan kebijakan Pemerintah dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025-2029 yang mendorong hilirisasi serta penguatan ketahanan pangan dan energi.
Kebijakan tersebut diharapkan mendukung pertumbuhan industri sawit nasional secara berkelanjutan, mengingat Indonesia merupakan salah satu produsen kelapa sawit terbesar di dunia.
Rekomendasi Saham Pilihan Hari Ini (25/11): MEDC, BWPT, MLPL di Tengah Penguatan IHSG
Untuk mendukung pertumbuhan usaha, perseroan terus meningkatkan produktivitas dan efisiensi operasional melalui digitalisasi pemantauan produksi, pengelolaan dan peremajaan tanaman secara berkala, serta pengembangan program petani plasma sebagai bagian dari komitmen keberlanjutan dan pertumbuhan bersama masyarakat.
Perseroan juga telah menyelesaikan pembangunan extension pabrik kelapa sawit pada tahun 2025 dan merencanakan pembangunan Pabrik Pengolahan Inti Sawit (Kernel Crushing Plant/KCP) yang ditargetkan selesai pada tahun 2026.
“Fasilitas ini akan mendukung program hilirisasi dengan menghasilkan Palm Kernel Oil (PKO) dan Palm Kernel Meal (PKM), meningkatkan nilai tambah produk perkebunan, dan mendukung praktik keberlanjutan yang diterapkan oleh perseroan,” kata manajemen.