
Dayabumi Energi menjalin kerja sama strategis dengan PT Anvita Pharma Indonesia (Anvita) dan PT Etana Biotechnologies Indonesia (Etana) untuk memasang Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) atap dengan total kapasitas 1 MWp. Pembangunan PLTS atap ini dilakukan secara bertahan di fasilitas produksi kedua perusahaan.
Kerja sama ini menjadi contoh konkret bagaimana industri farmasi dan bioteknologi mulai mengintegrasikan strategi keberlanjutan dalam operasional mereka. Anvita dan Etana memiliki kebutuhan tinggi terhadap keandalan energi, konsistensi operasional, serta kepatuhan terhadap standar Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB), serta keselamatan yang ketat. Karena itu, implementasi energi terbarukan menjadi tantangan teknis sekaligus peluang strategis.
Pada tahap pertama, Dayabumi Energi berhasil menyelesaikan pembangunan PLTS di fasilitas produksi Anvita. Proyek ini menjadi perhatian karena dilakukan di lingkungan industri dengan tingkat sensitivitas tinggi. Proses produksi harus beroperasi nonstop dan harus memenuhi standar CPOB dan keselamatan yang ketat.
Dayabumi Energi menerapkan metode “live installation with zero shutdown” di mana proses instalasi PLTS atap dilakukan tanpa menghentikan aktivitas produksi. Pendekatan ini membutuhkan perencanaan teknis yang matang, koordinasi lintas tim yang presisi, serta penerapan standar kualitas dan keselamatan yang ketat.
Baca juga:
- Pemerintah Targetkan Bangun 17 GW PLTS Tahun Ini
- Kapasitas PLTS Atap Capai 1,3 GW, Tumbuh Hampir 10 Kali Lipat Sejak 2024
- Makin Diminati, Kapasitas Terpasang PLTS Atap Naik 508 Kali Lipat Sejak 2018
Proyek ini memiliki kompleksitas yang sebanding dengan pembangunan infrastruktur energi di fasilitas kritikal, seperti data center. Fokus utamanya pada kontinuitas pasokan listrik tanpa gangguan, pengendalian kebersihan lingkungan kerja, serta kepatuhan terhadap standar keselamatan operasional.
Gamma A. Thohir, Chairman Dayabumi Group, mengatakan keberhasilan proyek ini tidak terlepas dari disiplin dalam menjaga standar operasional di lapangan.
“Membangun standar operasional yang baik menjadi kunci dalam proyek pembangunan ini. Proyek berjalan dengan baik tanpa adanya penhentian aktivitas produksi farmasi, sekaligus tetap menjaga keselamatan para pekerja,” ujar Gamma dalam keterangan resmi, Senin (27/4).
Ia mengatakan inisiatif ESG (environment, social, and governance) yang dilakukan perusahaan di proyek ini tidak hanya berbicara tentang lingkungan, tetapi juga memenuhi standar kualitas dan keselamatan.
PLTS Atap di Fasilitas Etana Butuh Keandalan dan Presisi Tinggi
Selanjutnya, Dayabumi Energi akan memasuki tahap selanjutnya dengan pembangunan PLTS di fasilitas operasional Etana. Proyek ini dirancang dengan pendekatan yang serupa, mengingat karakteristik operasional yang membutuhkan tingkat keandalan dan presisi tinggi.
Pengembangan PLTS atap ini memberikan dampak ekonomi maupun lingkungan. Sistem yang dibangun diproyeksikan mampu menghemat biaya listrik hingga Rp 70 juta per tahun, serta menurunkan emisi karbon sebesar 573,17 ton CO2e per tahun.
Efisiensi ini menjadi nilai tambah bagi perusahaan dalam meningkatkan daya saing, sekaligus memperkuat komitmen terhadap target pengurangan emisi yang semakin menjadi perhatian global. Selain itu, penggunaan energi Surya sebagai sumber listrik juga membantu mengurangi ketergantungan terhadap energi berbasis fosil. Proyek ini juga mendukung agenda transisi energi nasional menuju system yang lebih berkelanjutan.