JAKARTA – Scoot.co.id – PT Energi Mega Persada Tbk. (ENRG), emiten minyak dan gas (migas) dari Grup Bakrie, berencana untuk meningkatkan target produksi dalam lima tahun mendatang. Guna mendukung ambisi ekspansif ini, perseroan telah menyiapkan belanja modal (capital expenditure) yang signifikan.
Dalam proyeksi terbarunya, ENRG memperkirakan kebutuhan belanja modal untuk periode 2025-2030 mencapai US$1,4 miliar, setara dengan Rp23,32 triliun (dengan asumsi kurs Rp16.655 per dolar AS). Untuk tahun 2026 saja, alokasi capex yang disiapkan perusahaan mencapai US$200 juta atau sekitar Rp3,33 triliun.
Salah satu strategi pendanaan yang ditempuh ENRG adalah melalui penerbitan surat utang. Saat ini, perseroan tengah mempersiapkan Obligasi Berkelanjutan I Energi Mega Persada Tahap I Tahun 2025 dengan nilai sebesar Rp500 miliar.
Penerbitan obligasi tahap I ini didasarkan pada kondisi neraca keuangan ENRG pada semester I/2025. Per 30 Juni 2025, perseroan tercatat memiliki total liabilitas sebesar US$926,48 juta, yang terdiri dari liabilitas jangka pendek sebesar US$452,15 juta dan liabilitas jangka panjang sebesar US$474,32 juta. Sebelumnya, ENRG juga mengumumkan penemuan cadangan gas baru sebesar 0,2 triliun kaki kubik di Blok Sengkang, Sulawesi.
Pada paruh pertama tahun 2025, debt to equity ratio (DER) ENRG tercatat sebesar 0,36 kali, hampir setara dengan DER sepanjang tahun 2024 yang berada di level 0,43 kali. Sementara itu, interest coverage ratio (ICR) mencapai 12,80 kali, melampaui ICR sepanjang tahun 2024 yang sebesar 10,21 kali. Adapun return on asset (ROA) perseroan berada di level 4,41%, mendekati ROA sepanjang tahun 2024 yang sebesar 4,76%.
Berdasarkan laporan keuangan terbaru yang dirilis perseroan, total liabilitas ENRG hingga sembilan bulan pertama 2025 meningkat menjadi US$947,45 juta, terdiri dari liabilitas jangka pendek sebesar US$469,82 juta dan liabilitas jangka panjang sebesar US$477,64 juta.
Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), Iman Gunadi, mencatat bahwa selama sembilan bulan pertama 2025, ENRG berhasil membukukan kenaikan pendapatan dan laba dengan margin laba bersih sekitar 15%. Namun, ia menyoroti bahwa struktur permodalan perusahaan masih menunjukkan tingkat leverage yang tinggi, dengan debt-to-equity ratio (DER) sekitar 1,29 kali dan current ratio sekitar 0,54 kali.
“Rasio ini mengindikasikan perlunya pengelolaan likuiditas yang ketat, terutama karena sebagian besar kewajibannya berada pada jangka pendek,” jelas Iman.
Dalam konteks ekspansi yang didanai melalui utang, Iman menekankan bahwa efektivitas pengelolaan neraca keuangan menjadi faktor kunci dalam keberlanjutan pertumbuhan perusahaan. Menurutnya, ENRG, dengan current ratio kurang dari satu kali, perlu memastikan bahwa perputaran arus kas operasi, belanja modal (capex), dan strategi refinancing berjalan efisien agar mampu menjaga rasio likuiditas pada level yang mendukung aktivitas bisnis.
Dari sudut pandang investor, Iman berpendapat bahwa pasar cenderung memberikan apresiasi kepada emiten yang mampu menjaga disiplin struktur modal serta menunjukkan indikator eksekusi jangka pendek yang konkret.
“Proyeksi jangka panjang biasanya baru dihargai pasar apabila didukung oleh tren perbaikan rasio keuangan, seperti penurunan DER, peningkatan ICR, perbaikan arus kas operasi, atau kenaikan produksi,” jelasnya.
Dalam konteks ini, Iman melihat bahwa ENRG berpotensi mendapatkan penilaian yang lebih positif dari pasar apabila perusahaan mampu menunjukkan konsistensi dalam memperbaiki leverage dan likuiditas di tengah strategi pertumbuhan yang berbasis utang.
Pada penutupan perdagangan Selasa (2 Desember 2025), saham ENRG mengalami penurunan sebesar 0,42% ke level Rp1.190. Meskipun demikian, harga ini mencerminkan lonjakan signifikan sebesar 417,39% secara year to date (YtD), serta kenaikan sebesar 44,24% dalam sebulan terakhir.
Harga saham ENRG saat ini bahkan telah melampaui target harga konsensus. Berdasarkan data dari Bloomberg Terminal, sebanyak 5 analis (100%) memberikan rekomendasi buy untuk saham ENRG dengan target harga Rp1.165. Data riset sekuritas terbaru dari UOB Kay Hian, yang juga memberikan rating buy, menetapkan target harga yang lebih tinggi, yaitu Rp1.600.
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya berada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab atas segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.
Ringkasan
PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) berencana meningkatkan target produksi migas dalam lima tahun ke depan dan menyiapkan belanja modal sebesar US$1,4 miliar untuk periode 2025-2030. Pendanaan salah satunya dilakukan melalui penerbitan Obligasi Berkelanjutan I Energi Mega Persada Tahap I Tahun 2025 senilai Rp500 miliar. Analis menyoroti pentingnya pengelolaan likuiditas yang ketat karena struktur permodalan perusahaan menunjukkan tingkat leverage yang tinggi.
Saham ENRG mengalami penurunan tipis pada perdagangan terakhir, namun mencatatkan lonjakan signifikan 417,39% secara year to date. Meskipun harga saham ENRG saat ini telah melampaui target harga konsensus, UOB Kay Hian memberikan rating buy dengan target harga yang lebih tinggi, yaitu Rp1.600. Pasar akan memberikan apresiasi jika perusahaan konsisten memperbaiki leverage dan likuiditas di tengah strategi pertumbuhan berbasis utang.