IHSG anjlok 2,87% ke 5.434 di sesi I Senin (8/6), top losers: saham TLKM, HRTA, ISAT

Scoot.co.id JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) jatuh mendekati 3% pada perdagangan sesi pertama Senin (8/6/2026), seiring meningkatnya tekanan di pasar keuangan global.

Mengutip data RTI hingga pukul 12.00 WIB, IHSG terkoreksi 2,87% atau 160,459 poin ke level 5.434,306. Sebanyak 646 saham melemah, 88 saham menguat, dan 79 saham bergerak stagnan.

EMAS Tetapkan Sumber Daya Perdana Kolokoa, Inventaris Emas Pani Jadi 7,4 Juta Ons

Total volume perdagangan mencapai 20,4 miliar saham dengan nilai transaksi sebesar Rp 12,9 triliun.

Seluruh 11 indeks sektoral berada di zona merah. Tiga sektor dengan pelemahan terdalam adalah IDX Health yang turun 6,01%, disusul IDX Infrastructure sebesar 4,72%, dan IDX Cyclicals yang melemah 3,99%.

Kencana Energi (KEEN) Bakal Bagi Dividen Tunai Final Rp 8,22 per Saham, Cek Jadwalnya

Di jajaran saham LQ45, pelemahan terbesar terjadi pada:

  • PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) yang turun 11,96% ke Rp 2.430
  • PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA) yang merosot 7,14% ke Rp 2.080
  • PT Indosat Tbk (ISAT) yang terkoreksi 6,12% ke Rp 1.765

IHSG Ambles Lebih dari 3% di Awal Perdagangan Senin (8/6), Sentimen Global Menekan

Sementara itu, beberapa saham masih mampu mencatatkan penguatan, antara lain:

  • PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) yang naik 5,99% ke Rp 460
  • PT Alamtri Minerals Indonesia Tbk (ADMR) yang menguat 4,64% ke Rp 1.465
  • PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) yang naik 1,22% ke Rp 3.330

Rupiah Anjlok, Dibuka Tembus ke Rp 18.107 Per Dolar AS Hari Ini (8/6)

Tekanan terhadap IHSG sejalan dengan pelemahan pasar saham dan mata uang di kawasan Asia. Investor global cenderung menghindari aset berisiko setelah dolar Amerika Serikat (AS) menguat dan ekspektasi kenaikan suku bunga bank sentral AS kembali meningkat.

Saham-saham teknologi di Korea Selatan dan Taiwan mencatat penurunan terbesar dalam tiga bulan terakhir setelah reli berbasis kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) kehilangan momentum.

Di saat yang sama, mata uang negara-negara berkembang Asia juga tertekan terhadap dolar AS, sehingga mendorong sejumlah otoritas moneter melakukan langkah stabilisasi pasar.

Sentimen tersebut turut membebani pasar keuangan Indonesia, yang menghadapi tekanan dari pelemahan nilai tukar rupiah dan meningkatnya kekhawatiran investor terhadap prospek ekonomi domestik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *