IHSG anjlok ke level terendah 5 tahun, revisi outlook dari S&P jadi pemicu

Scoot.co.id JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan hebat, tergelincir ke titik terendah sejak 30 Juni 2021. Pada penutupan perdagangan Rabu, 3 Juni 2026, IHSG anjlok 4,11% dan berakhir di level 5.941,07.

Penurunan drastis ini menandai titik terendah dalam lima tahun terakhir, sebuah periode yang banyak diwarnai oleh pandemi COVID-19. Akibatnya, sepanjang tahun ini, kinerja IHSG tercatat merosot signifikan sebesar 32,09%.

Menurut Analis BRI Danareksa Sekuritas, Erindra Krisnawan, dalam risetnya per 2 Juni 2026, tekanan yang dialami IHSG ini disebabkan oleh pasar yang sedang melakukan penilaian ulang terhadap risiko investasi di Indonesia.

Risk Off Global dan Anjloknya IHSG Tekan Rupiah ke Rp 17.967 per Dolar AS

“Pasar saham Indonesia tertekan sepanjang 2026. Tekanan ini bukan sekadar dampak aksi jual di pasar negara berkembang (emerging markets), melainkan mencerminkan kenaikan premi risiko Indonesia di mata investor global,” jelas Erindra dalam riset tersebut.

Ia menambahkan bahwa aksi jual yang masif ini mengindikasikan peningkatan premi risiko spesifik untuk Indonesia, bukan hanya bagian dari tren pelemahan pasar secara umum di negara-negara berkembang. Tercatat, hingga 2 Juni 2026, investor asing telah melakukan aksi jual bersih yang mencapai Rp 55,37 triliun sepanjang tahun ini.

Salah satu risiko utama bagi pasar saham di Indonesia adalah potensi revisi outlook oleh S&P pada Juli 2026. Namun, Erindra berpendapat bahwa potensi tersebut sebagian besar telah terakomodasi dalam harga saham saat ini.

Adapun skenario terburuk, yakni penurunan peringkat utang, dinilai belum menjadi ancaman jangka pendek. Hal ini mengingat proses evaluasi peringkat utang biasanya membutuhkan waktu 12 hingga 18 bulan. Bahkan jika terjadi penurunan satu tingkat, peringkat Indonesia masih akan tetap berada dalam kategori investment grade BBB.

Harum Energy (HRUM) Siapkan Capex US$ 310 Juta, Mayoritas untuk Ekspansi Bisnis Nikel

Erindra mengidentifikasi empat faktor utama yang saling berkaitan dan secara kolektif mendorong kenaikan premi risiko ini:

Pertama, meningkatnya risiko fiskal yang dipicu oleh lonjakan harga minyak global. Konflik di Iran dan potensi gangguan di Selat Hormuz menyebabkan rata-rata harga minyak mentah Indonesia (ICP) sepanjang tahun berjalan mencapai US$ 88 per barel.

Kedua, melemahnya prediktabilitas kebijakan pemerintah. Hal ini terlihat dari perubahan kebijakan royalti pertambangan yang berulang serta rencana ekspor tunggal melalui Badan Usaha Milik Negara (BUMN).

Ketiga, prospek negatif terhadap peringkat utang Indonesia yang telah disampaikan oleh lembaga pemeringkat Moody’s dan Fitch.

Keempat, proses peninjauan MSCI yang berujung pada penghapusan enam saham berkapitalisasi besar Indonesia dari indeks global mereka.

Kombinasi faktor-faktor ini secara signifikan memicu arus keluar dana asing dari pasar saham Indonesia. Erindra menjelaskan, ini mencerminkan langkah investor global untuk mengurangi eksposur risiko mereka di tanah air.

Hartadinata Abadi (HRTA) Bakal Tebar Dividen Tunai Rp 40 per Saham

Katalis Penopang Potensi Pemulihan

Meskipun sentimen pasar masih menantang, BRI Danareksa melihat adanya peluang pemulihan dalam enam hingga delapan minggu ke depan, didorong oleh beberapa katalis kunci.

Katalis pertama adalah berakhirnya tekanan teknikal akibat rebalancing MSCI pada 29 Mei lalu. Saham-saham berkapitalisasi besar, khususnya empat bank terbesar nasional, diyakini telah menyerap sebagian besar tekanan jual yang terjadi.

Sebagai ilustrasi, arus keluar dana asing di saham BBCA telah mencapai US$ 162,6 juta, hampir menyamai estimasi agresif BRI Danareksa sebesar US$ 176 juta untuk keseluruhan proses rebalancing tersebut.

Kedua, tekanan terhadap nilai tukar rupiah diperkirakan akan mereda dan berangsur pulih memasuki kuartal III-2026. Selama kuartal II, rupiah biasanya menghadapi tekanan musiman yang disebabkan oleh repatriasi dividen dan meningkatnya kebutuhan valuta asing untuk musim haji.

Ketiga, narasi perang dan lonjakan harga minyak dinilai telah mendekati puncaknya. Meskipun harga minyak masih berpotensi bertahan tinggi, premi risiko terhadap negara pengimpor minyak seperti Indonesia diperkirakan mulai berkurang secara bertahap.

“Faktor-faktor tersebut memang belum menyelesaikan risiko terkait peringkat utang maupun ketidakpastian kebijakan, namun cukup untuk mendorong rebound pasar dalam jangka pendek,” ujar Erindra.

IHSG Ambruk 4,11% ke 5.941, Top Losers LQ45: AMMN, MDKA, DEWA, Rabu (3/6)

BRI Danareksa menilai bahwa valuasi pasar saat ini telah memperhitungkan sebagian besar risiko jangka pendek yang ada.

Selisih antara earnings yield IHSG dan imbal hasil obligasi pemerintah kini mencapai 242 basis poin, jauh di atas rata-rata 11 tahun yang berada di level negatif 31 basis poin. Angka ini mengindikasikan bahwa investor saat ini menuntut kompensasi risiko yang jauh lebih besar untuk berinvestasi di saham Indonesia.

Sementara itu, proyeksi pertumbuhan laba emiten tahun 2026 dari konsensus pasar sebesar 14% masih relatif sejalan dengan estimasi BRI Danareksa sebesar 13,4%.

Selain itu, tinjauan MSCI terkait aksesibilitas pasar Indonesia pada Juni 2026 juga masih menjadi faktor risiko yang bersifat biner bagi pasar, dengan potensi dampak signifikan.

Sejalan dengan meningkatnya premi risiko, BRI Danareksa telah memangkas target IHSG akhir 2026 menjadi 7.200 dari target sebelumnya 9.440.

IHSG Ambruk 4,11% ke 5.941, Top Losers LQ45: AMMN, MDKA, DEWA, Rabu (3/6)

Penurunan target ini terutama disebabkan oleh dihapuskannya premi valuasi sebesar 40% yang sebelumnya diberikan kepada kelompok saham konglomerasi. Menurut Erindra, setelah MSCI melakukan peninjauan pasar Indonesia, dasar pemberian premi tersebut tidak lagi relevan.

Target baru 7.200 didasarkan pada proyeksi pertumbuhan laba per saham (EPS) 2026-2027 sebesar 13%-14%, dengan asumsi pertumbuhan sektor perbankan yang lebih konservatif di kisaran 4%-5%.

Meski target diturunkan, level tersebut masih menawarkan potensi kenaikan sekitar 17% dibandingkan posisi IHSG saat ini. Dalam skenario optimistis, IHSG berpeluang mencapai 8.600, sedangkan skenario pesimistis berada di level 6.550.

“Kami menilai profil risiko dan imbal hasil dari level saat ini masih cukup menarik dan bersifat asimetris ke arah positif,” tulis Erindra.

Pilihan Saham Unggulan

Adapun saham yang dipasang dalam posisi overweight oleh BRI Danareksa terbagi menjadi dua kelompok strategi investasi.

Kelompok pertama adalah saham dengan bantalan valuasi kuat, meliputi sektor perbankan dan kesehatan. Pilihan ini terdiri dari BBCA dengan target harga Rp 10.900 serta MIKA dengan target harga Rp 3.300.

Kelompok kedua adalah saham yang mengandalkan pertumbuhan kinerja yang solid, meliputi ISAT dengan target harga Rp 3.000, ANTM Rp 4.900, dan TINS Rp 4.500.

Sementara itu, saham-saham di sektor konsumsi seperti ICBP (target Rp 10.500), INDF (Rp 9.400), serta sektor perunggasan CPIN (Rp 5.900) dinilai masih berada pada valuasi yang wajar. Ini karena premi risiko ekuitasnya relatif sejalan dengan IHSG secara keseluruhan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *