
Scoot.co.id JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan berat pada perdagangan Rabu (3/6/2026). Bursa saham Indonesia ditutup melemah tajam seiring meningkatnya kekhawatiran investor terhadap berbagai sentimen negatif, baik dari luar negeri maupun domestik.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia, IHSG ditutup turun 4,11% atau terkoreksi 254,36 poin ke level 5.941,07. Pelemahan paling dalam terjadi pada sektor basic materials yang merosot hingga 9,05%, mencerminkan tingginya tekanan jual di pasar.
Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus, mengatakan bahwa pelemahan IHSG dipengaruhi oleh kombinasi faktor global dan domestik yang mendorong investor bersikap lebih hati-hati.
“Bursa Asia bergerak mixed seiring meningkatnya kekhawatiran pasar setelah rencana tarif baru dari Amerika Serikat. Selain itu, pelaku pasar juga mencermati eskalasi konflik AS–Iran yang kembali memanas,” kata Nico kepada Kontan, Rabu (3/6/2026).
IHSG Masih Rawan Koreksi pada Kamis (4/6), Simak Rekomendasi Analis
Menurut Nico, sentimen eksternal tersebut menambah ketidakpastian di pasar keuangan global dan meningkatkan kecenderungan investor untuk mengurangi eksposur terhadap aset berisiko, termasuk saham di negara berkembang.
Dari sisi domestik, pasar juga dihadapkan pada sejumlah data ekonomi yang kurang menggembirakan. Nico menyebut penyusutan surplus neraca perdagangan dan kenaikan inflasi menjadi faktor tambahan yang membebani pergerakan IHSG.
“Surplus perdagangan April menyusut ke level terendah sejak 2020, sementara inflasi tahunan naik menjadi 3,08% pada Mei, didorong harga pangan dan transportasi,” jelasnya.
Selain itu, pelaku pasar juga mencermati perkembangan terbaru terkait penilaian lembaga pemeringkat terhadap entitas investasi pemerintah yang dinilai berpotensi memengaruhi persepsi risiko investor.
“Penetapan outlook negatif dapat memengaruhi persepsi investor terhadap risiko, terutama di tengah tekanan eksternal,” tambahnya.
IHSG Berpotensi Melanjutkan Pelemahan
Secara teknikal, Nico menilai tekanan terhadap IHSG masih belum sepenuhnya mereda. Ia memperkirakan indeks masih berpotensi bergerak melemah dalam jangka pendek dengan volatilitas yang tetap tinggi.
“IHSG diperkirakan bergerak di kisaran 5.880-6.060 dengan potensi penurunan lanjutan, sementara level support terdekat berada di area 5.740,” katanya.
Pandangan serupa disampaikan Senior Market Chartist Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta. Menurutnya, pelemahan nilai tukar rupiah dan meningkatnya risiko arus keluar modal asing turut menjadi faktor yang menekan pasar saham domestik.
Kebijakan Fiskal Disorot, Begini Prospek Rupiah pada Semester II – 2026
“Outlook negatif dari Moody’s berpotensi memicu persepsi risiko di kalangan investor, sehingga dapat mendorong terjadinya capital outflow,” ujarnya.
Nafan menambahkan, faktor teknikal yang berasal dari proses penyesuaian bobot indeks global juga berpotensi memperbesar tekanan jual di pasar saham Indonesia.
“Proses rebalancing MSCI yang telah berjalan serta FTSE yang akan efektif dalam waktu dekat berpotensi menambah tekanan jual di pasar,” jelasnya.
Proyeksi IHSG untuk Perdagangan Kamis
Untuk perdagangan Kamis (4/6/2026), Nafan memperkirakan IHSG akan bergerak dalam rentang support pada level 5.839 hingga 5.733. Sementara itu, area resistance diperkirakan berada di kisaran 6.075 hingga 6.287.
Dengan masih kuatnya sentimen negatif dari faktor global maupun domestik, investor disarankan untuk tetap mencermati perkembangan pasar secara cermat. Volatilitas diperkirakan masih tinggi dalam jangka pendek, terutama di tengah ketidakpastian geopolitik, tekanan terhadap nilai tukar rupiah, serta kekhawatiran mengenai aliran dana asing keluar dari pasar keuangan Indonesia.