Indeks Bisnis-27 ditutup melemah, saham BBCA hingga BMRI jadi pemberat

Scoot.co.id , JAKARTA — Indeks Bisnis-27 menutup perdagangan hari ini, Senin (9/2/2026), di zona merah sejalan dengan pelemahan yang dipimpin oleh saham BBCA hingga BMRI.

Berdasarkan data IDX Mobile, Indeks kerja sama dengan harian Bisnis Indonesia ini ditutup melemah 0,29 basis point atau sebesar 0,05% pada level 531,37. Sepanjang perdagangan hari ini, indeks Bisnis-27 bergerak fluktuatif pada level terendah 524,58 hingga level tertinggi 536,06.

Sebanyak 14 saham melemah, 12 saham menguat, dan 1 saham stagnan, mencerminkan pergerakan pasar yang cenderung selektif.

Sejumlah saham konstituen yang memimpin koreksi adalah PT Dharma Satya Nusantara Tbk. (DSNG) turun sebesar 3,13% menuju level Rp1.395 disusul saham PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) melemah sebesar 2,28% menuju level Rp7.500, PT Kalbe Farma Tbk. (KLBF) terkoreksi sebesar 1,34% ke level Rp1.105, selanjutnya saham PT Mitra Adiperkasa Tbk. (MAPI) turun sebesar 1,23% hingga ke level Rp1.200.

Berikutnya, saham PT Bank Mandiri (persero) Tbk. (BMRI) ikut melemah sebesar 0,99% ke level Rp5.000 dan saham PT Telkom Indonesia (persero) Tbk. (TLKM) memerah sebesar 0,89% ke level Rp3.350.

: Saham BBCA, BBTN, hingga TLKM Terkoreksi Usai Moody’s Revisi Outlook jadi Negatif

Sebaliknya saham konstituen yang mendorong laju penguatan adalah saham PT Indah Kiat Pulp & Paper Corp Tbk. (INKP) menghijau sebesar 3,67% ke level Rp9.175, saham PT Alamtri Minerals Indonesia Tbk. (ADMR) menguat sebesar 3,16% ke level Rp1.795, saham PT Mayora Indah Tbk. (MYOR) juga naik sebesar 2,89% ke level Rp2.490.

Selanjutnya, saham PT Vale Indonesia Tbk. (INCO) naik sebesar 2,87% ke level Rp6.275 dan saham PT Barito Pacific Tbk. (BRPT) naik 2,57% ke level Rp1.995.

Tim Riset Sinarmas Sekuritas mengatakan rilisnya data makroekonomi domestik akan menjadi perhatian pasar pada pekan ini. 

Dari dalam negeri, investor menanti data penjualan ritel Indonesia yang dijadwalkan rilis pada 10 Februari, serta Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Januari yang berpotensi menjadi penopang sentimen pasar jika menunjukkan perbaikan.

Dari eksternal, perhatian investor akan tertuju pada sejumlah data ekonomi Amerika Serikat, antara lain penjualan ritel Desember, tingkat pengangguran Januari, Nonfarm Payrolls (NFP) Januari, serta inflasi konsumen (CPI) Januari. Rangkaian data ini krusial untuk membaca kondisi fundamental ekonomi AS dan arah kebijakan suku bunga The Fed ke depan.

Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *