Intip Rekomendasi Saham dan Prospek Indo Tambangraya (ITMG) di Tengah Tant

Scoot.co.id JAKARTA. Peluang bagi PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) untuk mencatatkan pertumbuhan kinerja positif pada tahun 2026 tampak cukup menjanjikan, meskipun sektor batubara secara keseluruhan masih menghadapi berbagai tantangan yang kompleks.

Saat ini, para emiten batubara, termasuk ITMG, tengah menanti dampak dari kebijakan pemerintah yang berencana memangkas target produksi batubara nasional menjadi sekitar 600 juta ton pada tahun 2026. Kebijakan ini diperkirakan akan memiliki implikasi signifikan terhadap dinamika industri.

Menanggapi hal tersebut, Direktur Indo Tambangraya Megah, Yulius Gozali, menjelaskan bahwa pihak perusahaan masih menunggu penetapan dan persetujuan resmi Rencana Kerja dan Anggaran Belanja (RKAB) 2026 dari pemerintah. Oleh karena itu, ITMG belum dapat membeberkan proyeksi produksi dan penjualan batubara untuk tahun 2026.

“Pada prinsipnya, ITMG akan selalu menyesuaikan rencana operasionalnya sesuai dengan kebijakan pemerintah dan kondisi industri yang berlaku,” tegas Yulius, Kamis (22/1/2026). Sebagai catatan, pada tahun 2025, ITMG menargetkan produksi batubara sebesar 21,1 juta ton.

Musim Dingin Dongkrak Harga Gas Alam, Batubara Masih Bergerak Terbatas

Lebih lanjut mengenai strategi keuangan, manajemen ITMG juga belum mengungkapkan besaran capital expenditure (capex) atau dana belanja modal untuk tahun 2026. Kendati demikian, Yulius mengindikasikan bahwa sejauh ini tidak ada perubahan signifikan pada rencana capex 2026 dibandingkan tahun sebelumnya. Fokus utama capex ITMG tahun ini tetap diarahkan untuk mendukung keberlanjutan operasional dan peningkatan efisiensi perusahaan.

Selain itu, ITMG konsisten menjalankan strategi diversifikasi bisnis, terutama di sektor tambang nikel yang telah digeluti sejak tahun lalu. Sebagai informasi, ITMG telah menguasai 585 juta atau 9,62% saham PT Adhi Kartiko Pratama Tbk (NICE), sebuah entitas yang bergerak di industri pertambangan nikel.

“Investasi di NICE masih terus dievaluasi secara cermat, dan belum ada keputusan final untuk menambah porsi kepemilikan dalam waktu dekat,” imbuh Yulius, menggambarkan pendekatan hati-hati perusahaan dalam ekspansi investasi.

Secara terpisah, Kepala Riset Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI), Muhammad Wafi, menyatakan bahwa prospek kinerja ITMG cenderung stabil pada tahun 2026. Menurutnya, rencana pemangkasan produksi batubara nasional justru dapat bertindak sebagai katalis positif yang mampu menahan risiko pelemahan harga batubara di pasar global.

Di samping itu, ITMG masih memiliki peluang besar untuk memperkuat kinerja penjualan ekspornya di tahun 2026. “Spesialisasi ITMG pada batubara kalori tinggi masih sangat diminati dan dibutuhkan oleh pasar utama seperti Tiongkok dan India,” terang Wafi, Kamis (22/1/2026).

Wafi menambahkan, pasar domestik tidak dapat menjadi substitusi yang ideal bagi ITMG jika terjadi kelesuan permintaan batubara dari mancanegara. Hal ini disebabkan oleh margin penjualan batubara di dalam negeri yang jauh lebih rendah, terutama akibat adanya kebijakan Domestic Market Obligation (DMO).

Oleh karena itu, strategi utama yang harus diperkuat ITMG adalah efisiensi biaya operasional dan optimalisasi stripping ratio. Wafi juga menyarankan, “Capex tahun ini sebaiknya dievaluasi untuk dialihkan ke percepatan diversifikasi non-batubara, bukan semata-mata untuk ekspansi tambang lama.”

  ITMG Chart by TradingView

Wafi juga berpandangan bahwa investasi ITMG di saham NICE merupakan pintu masuk strategis bagi emiten tersebut menuju transisi energi. Ia menyarankan agar ITMG meningkatkan perannya dari sekadar pemegang saham menjadi mitra strategis dalam pengolahan atau hilirisasi nikel, memperkuat posisinya di ekosistem energi baru.

Atas dasar analisis tersebut, Wafi merekomendasikan “beli” saham ITMG dengan target harga di level Rp 26.500 per saham, menunjukkan keyakinan terhadap potensi pertumbuhan perusahaan.

Sementara itu, Analis MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, memberikan perspektif dari sisi teknikal. Ia menyebutkan bahwa pergerakan saham ITMG masih berada dalam fase uptrend dan berhasil menembus MA200. Indikator MACD juga masih menunjukkan penguatan di area positif, sedangkan Stocastic berada di area overbought atau jenuh beli, menandakan momentum yang kuat.

Berdasarkan indikator teknikal tersebut, Herditya merekomendasikan “buy on weakness” untuk saham ITMG, dengan level support di Rp 22.475 per saham dan resistance di Rp 22.775 per saham. Ia menetapkan target harga di kisaran Rp 22.900 per saham hingga Rp 23.025 per saham.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *