Kenaikan BI rate belum langsung dorong bunga kredit, bank pilih naikkan bertahap

Scoot.co.id – JAKARTA. Kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate) sebesar 50 basis poin (bps) menjadi 5,25% diperkirakan belum akan langsung ditransmisikan penuh ke bunga kredit perbankan.

Di tengah permintaan kredit yang masih lemah dan daya beli masyarakat yang belum sepenuhnya pulih, perbankan cenderung memilih menaikkan bunga kredit secara bertahap dibanding langsung mengikuti kenaikan BI Rate.

BI Rate Naik 50 Bps Jadi 5,25%, Perbankan Masih Tahan Kenaikan Bunga KPR Floating

Berdasarkan data BI, rata-rata tertimbang suku bunga kredit rupiah justru turun menjadi 8,73% pada April 2026 dari 8,76% pada Maret 2026. Penurunan tersebut didorong oleh turunnya suku bunga kredit baru menjadi 8,95%.

Bank BUMN Jadi Penopang Penurunan Bunga Kredit

Penurunan bunga kredit baru terutama ditopang kelompok bank BUMN. Suku bunga kredit baru bank-bank Himbara tercatat turun menjadi 7,31% pada April 2026 dari sebelumnya 7,84% pada Maret 2026.

Kondisi tersebut didukung tambahan likuiditas Rp 100 triliun kepada Himbara pada Maret 2026.

Kenaikan BI Rate Jadi Pedang Bermata Dua bagi Perbankan

Sebaliknya, kelompok bank pembangunan daerah (BPD), bank swasta nasional (BUSN), dan kantor cabang bank asing (KCBA) justru mencatat kenaikan bunga kredit baru masing-masing menjadi 9,54%, 10,94%, dan 8,35%.

Sementara itu, kredit perbankan pada April 2026 tercatat tumbuh 9,98% secara tahunan (YoY), lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan Maret 2026 sebesar 9,49% YoY.

Pertumbuhan tersebut ditopang kredit investasi yang naik 19,48% YoY, kredit modal kerja 6,04% YoY, serta kredit konsumsi sebesar 6,13% YoY.

Transmisi BI Rate Butuh Waktu

Global Markets Economist Maybank Indonesia Myrdal Gunarto mengatakan, transmisi kenaikan BI Rate ke bunga kredit umumnya membutuhkan waktu sekitar tiga hingga enam bulan atau setara satu hingga dua kuartal.

“Transmisi dari BI Rate ke suku bunga kredit tidak terjadi seketika dan hampir tidak pernah tersalurkan secara penuh. Prosesnya bersifat gradual dan asimetris,” ujar Myrdal kepada Kontan.co.id, Minggu (24/5/2026).

NPL Properti Naik, OJK Wanti-Wanti Tekanan terhadap Asuransi Kredit

Menurutnya, kenaikan BI Rate sebesar 50 bps biasanya hanya diteruskan sekitar 25 bps hingga 35 bps ke bunga kredit dalam jangka panjang.

Ia menjelaskan, perbankan cenderung berhati-hati menaikkan suku bunga dasar kredit (SBDK) demi menghindari payment shock terhadap debitur existing yang berpotensi meningkatkan rasio kredit bermasalah atau non performing loan (NPL).

“Suku bunga simpanan biasanya merespons lebih cepat dalam satu sampai tiga bulan, baru kemudian diikuti penyesuaian bunga kredit,” katanya.

Likuiditas dan Persaingan Jadi Pertimbangan

Myrdal menambahkan keputusan bank menaikkan bunga kredit juga sangat dipengaruhi biaya dana (cost of fund), biaya operasional, margin keuntungan, hingga premi risiko debitur.

Dalam kondisi likuiditas mengetat, persaingan penghimpunan dana pihak ketiga (DPK) antarbank dinilai akan mendorong kenaikan bunga deposito yang pada akhirnya ikut mengerek bunga kredit.

Amartha: Pendanaan dari Perbankan Dominasi 60% Total Penyaluran

Meski begitu, bank-bank besar dengan basis dana murah atau current account saving account (CASA) yang kuat masih memiliki ruang untuk menahan kenaikan bunga kredit demi menjaga pangsa pasar.

“Bank besar kadang rela memangkas margin sementara waktu agar tetap kompetitif, terutama untuk debitur korporasi prime,” ujarnya.

Permintaan Kredit Masih Lemah

Chief Economist Bank Central Asia David Sumual berpendapat transmisi BI Rate ke bunga kredit umumnya berlangsung bertahap dan membutuhkan waktu sekitar enam bulan.

Menurut David, lemahnya permintaan kredit saat ini lebih dipengaruhi kondisi permintaan domestik yang belum pulih ketimbang faktor bunga tinggi semata.

Hal itu tercermin dari besarnya angka undisbursed loan atau kredit yang sudah disetujui tetapi belum ditarik debitur yang masih mencapai sekitar Rp 2.500 triliun atau setara 23% dari total kredit perbankan.

“Artinya dunia usaha sebenarnya sudah memiliki plafon kredit, tetapi belum berani ekspansi karena permintaan pasar masih lemah,” ujarnya.

Prudential Bentuk Dewan Penasihat Medis untuk Perkuat Review Klaim Kesehatan

KB Bank Naikkan Bunga Secara Selektif

Presiden Direktur KB Bank Kunardy Darma Lie mengatakan, perseroan akan melakukan penyesuaian bunga kredit dan deposito secara bertahap serta selektif.

Menurutnya, penyesuaian tetap mempertimbangkan profil risiko debitur, daya saing pasar, dan prinsip kehati-hatian.

“Secara umum, ruang penyesuaian suku bunga berada pada kisaran 10 basis poin hingga 15 basis poin,” katanya.

KB Bank juga berupaya menekan dampak kenaikan suku bunga terhadap cost of fund dengan memperkuat dana murah atau CASA.

Kunardy menyebut, kenaikan suku bunga acuan akan berdampak pada pertumbuhan kredit, terutama segmen wholesale atau korporasi yang menggunakan Compounded IndONIA sebagai reference rate.

“Kenaikan suku bunga berpotensi meningkatkan biaya pendanaan debitur sehingga dapat memengaruhi appetite ekspansi,” ujarnya.

Hingga kuartal I-2026, kredit KB Bank tercatat mencapai Rp 43,19 triliun atau tumbuh 2,61% YoY. Tahun ini, perseroan menargetkan pertumbuhan kredit sekitar 10%–11%.

OJK Catat 59,03 Juta Rekening Tabungan Pelajar pada Kuartal I-2026

Allo Bank dan BCA Pilih Pendekatan Terukur

Digital Strategy Head Allo Bank Destya D. Pradityo mengatakan, pihaknya belum melihat kebutuhan menaikkan bunga kredit maupun deposito secara agresif dalam jangka pendek.

“Kami memilih pendekatan yang lebih terukur karena kondisi likuiditas industri masih relatif memadai,” katanya.

Ia menambahkan bunga kredit digital sangat dipengaruhi profil risiko nasabah dan skema risk based pricing sehingga penyesuaiannya tidak bisa disamaratakan.

Sementara itu, Executive Vice President Corporate Communication & Social Responsibility Bank Central Asia Hera F. Haryn mengatakan, kenaikan BI Rate tidak otomatis membuat BCA langsung menaikkan bunga kredit.

“BCA senantiasa melakukan penyesuaian suku bunga dengan mempertimbangkan kondisi pasar dan likuiditas bank,” ujar Hera.

Pada kuartal I-2026, kredit BCA tumbuh 5,6% YoY menjadi Rp 994 triliun. Sepanjang tahun ini, BCA tetap membidik pertumbuhan kredit di kisaran 8%–10% dengan harapan perbaikan ekonomi domestik mampu mendorong permintaan pembiayaan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *