Upaya restrukturisasi dan divestasi aset yang gencar dilakukan oleh PT Kimia Farma Tbk (KAEF) kini mulai membuahkan hasil positif yang signifikan. Langkah strategis ini secara luas dinilai krusial untuk memperbaiki struktur keuangan perusahaan dan memulihkan kinerja bisnisnya yang sempat tertekan akibat beban utang dan bunga yang tinggi.
Alrich Paskalis Tambolang, Analis Riset Ekuitas Phintraco Sekuritas, menggarisbawahi bahwa penjualan aset non-core dan efisiensi keuangan yang diterapkan manajemen merupakan langkah realistis di tengah tantangan likuiditas. Menurut Alrich, restrukturisasi dan divestasi ini esensial untuk memperkuat posisi kas perusahaan dan menekan tingkat leverage. Dampak dari upaya tersebut mulai terlihat jelas, terutama dari penurunan beban keuangan dan mengecilnya angka kerugian.
Kinerja Keuangan Kimia Farma (KAEF) Membaik Drastis di Kuartal III-2025
Berdasarkan laporan keuangan per September 2025, beban keuangan KAEF berhasil dipangkas menjadi Rp 364,8 miliar, turun signifikan dari Rp 442,4 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya. Tidak hanya itu, kerugian bersih perusahaan juga menyusut tajam menjadi Rp 234,1 miliar, dibandingkan kerugian Rp 550,8 miliar pada sembilan bulan pertama tahun 2024. Penurunan kerugian bersih ini menunjukkan perbaikan sebesar 57,39%, sebuah sinyal positif bagi prospek Kimia Farma.
Alrich menilai, tren perbaikan ini sangat jelas terlihat, meskipun profitabilitas penuh belum sepenuhnya pulih. Dari sisi operasional, penjualan bersih tercatat sekitar Rp 7 triliun, dengan margin kotor yang meningkat menjadi 34,9% dari sebelumnya 32,2%. Penurunan beban pokok penjualan menjadi indikasi kuat bahwa efisiensi produksi dan distribusi KAEF mulai membuahkan hasil yang positif.
Jika tren efisiensi dan restrukturisasi ini terus berlanjut, Alrich memperkirakan kerugian KAEF dapat ditekan hingga di bawah Rp200 miliar pada akhir tahun 2025. Bahkan, ia melihat adanya potensi bagi Kimia Farma untuk kembali mencetak laba pada tahun 2026. Prospek pertumbuhan tahun depan juga diperkirakan akan semakin kuat, didorong oleh penurunan leverage pascadivestasi, peningkatan permintaan obat generik melalui program kesehatan pemerintah, serta sinergi yang lebih optimal dengan Bio Farma Group sebagai induk holding BUMN farmasi.
Dengan langkah-langkah strategis ini, KAEF akan mampu lebih fokus pada lini bisnis utamanya, seperti obat generik dan distribusi kesehatan, yang memiliki potensi margin keuntungan lebih baik. Meskipun demikian, Alrich mengingatkan bahwa tantangan dalam efisiensi rantai pasok dan pengelolaan modal kerja masih perlu menjadi perhatian serius. Kelebihan Kimia Farma terletak pada jaringan distribusi nasionalnya yang luas dan sinergi kuat antar-BUMN, namun produktivitas aset perlu terus ditingkatkan untuk mencapai kinerja yang lebih optimal.
Dari perspektif pasar modal, saham KAEF berpotensi mengalami re-rating dalam jangka menengah apabila restrukturisasi berhasil menekan beban bunga dan kerugian bersih secara signifikan. Tren penurunan kerugian dari Rp550 miliar menjadi Rp234 miliar merupakan arah yang sangat positif. Jika laporan keuangan tahun 2025 menunjukkan perbaikan berkelanjutan, saham KAEF diprediksi akan kembali menarik perhatian investor.
Alrich Paskalis Tambolang merekomendasikan Spekulatif Buy untuk Saham Kimia Farma (KAEF) di Tengah Upaya Restrukturisasi. Ia memberikan rekomendasi spekulatif buy dengan target harga konservatif di kisaran Rp 650 – Rp 700 per saham. Namun, untuk mencapai valuasi di atas Rp1.000 per saham, perusahaan harus menunjukkan kemampuan untuk mencetak laba positif dan arus kas operasi yang stabil pada tahun 2026.
Ringkasan
PT Kimia Farma Tbk (KAEF) menunjukkan perbaikan kinerja keuangan berkat restrukturisasi dan divestasi aset. Langkah ini dinilai krusial untuk memperbaiki struktur keuangan perusahaan yang sebelumnya tertekan beban utang dan bunga. Analis Phintraco Sekuritas, Alrich Paskalis Tambolang, menyoroti penurunan beban keuangan dan kerugian bersih KAEF sebagai indikasi positif, di mana kerugian bersih menyusut 57,39% menjadi Rp 234,1 miliar pada kuartal III-2025.
Tren perbaikan ini diharapkan berlanjut, dengan potensi KAEF menekan kerugian di bawah Rp200 miliar pada akhir 2025 dan mencetak laba pada 2026. Prospek pertumbuhan didorong oleh penurunan leverage, peningkatan permintaan obat generik, dan sinergi dengan Bio Farma Group. Alrich merekomendasikan Spekulatif Buy untuk saham KAEF dengan target harga Rp 650 – Rp 700 per saham, dengan potensi mencapai valuasi di atas Rp1.000 jika mampu mencetak laba positif dan arus kas operasi yang stabil.