Kuota hampir habis! ST016 diserbu investor di tengah gejolak pasar

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Sukuk Tabungan seri ST016  menunjukkan daya tarik di tengah kondisi pasar keuangan yang berfluktuasi. Hal ini tercermin dari sisa kuota yang semakin menipis menjelang penutupan masa penawaran.

Melansir data Bibit pada hari Rabu (3/6/2026) pukul 11.30 WIB, ST016-T2 tersisa 1,2% dari target atau sekitar Rp 187 miliar.

Kepala Ekonom Bank Central Asia (BCA) David Sumual menilai, minat investor terhadap instrumen ini tetap kuat di tengah ketidakpastian global yang belum mereda.

IHSG Anjlok 4,13% Tembus 5.939, Terburuk di Asia dan Masuk Zona Bearish

“Sisa kuota yang menipis jelang penutupan siang ini menunjukkan ST016 cukup diminati investor. Dengan kondisi ketidakpastian global yang belum mereda dan kebutuhan pembiayaan APBN yang besar, prospek SBN ritel diperkirakan masih positif selama spread imbal hasil masih menarik dan stabilitas fiskal terjaga,” kata David kepada Kontan, Rabu (3/6/2026).

Dengan kupon yang ditetapkan sebesar 6,05% dan 6,25%, ST016 dinilai masih kompetitif, terutama bagi investor yang mencari instrumen dengan imbal hasil stabil.

Di tengah tekanan pasar saham, SBN ritel seperti ST016 juga dinilai menjadi alternatif menarik untuk diversifikasi portofolio. David menyebut, karakteristik floating with floor serta tenor yang relatif pendek membuat instrumen ini lebih fleksibel di tengah ketidakpastian arah suku bunga.

“SBN ritel terutama dengan karakteristik floating with floor dan tenor pendek menjadi pilihan yang menarik untuk diversifikasi portofolio investasi. Terlebih dengan kondisi pasar saham yang tengah tertekan dan BI rate yang mengalami kenaikan,” tambahnya.

Meski demikian, investor saat ini cenderung lebih berhati-hati dalam menentukan pilihan investasi, khususnya terkait durasi penempatan dana.

Rupiah Anjlok ke Rp 17.928 per Dolar AS, Dipicu Kenaikan Harga Minyak Mentah

“Investor cenderung menghindari lock in terlalu panjang karena masih wait and see terhadap arah BI rate, yield SBN, dan kondisi global ke depan,” jelas David.

Ia menilai, instrumen SBN ritel seperti ST016 lebih cocok bagi investor dengan profil risiko konservatif hingga moderat yang mengutamakan stabilitas imbal hasil serta kepastian arus kas.

“Dengan kondisi tersebut, instrumen SBN cukup cocok untuk investor yang mengutamakan stabilitas imbal hasil dan kepastian arus kas dibandingkan potensi capital gain dalam jangka pendek,” tutupnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *