
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Laba bersih emiten rumah sakit, PT Medikaloka Hermina Tbk (HEAL) tercatat menurun pada 2025 meski pendapatan masih tumbuh di tengah tantangan dari sistem Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) dan upaya perseroan mengurangi ketergantungan pada pasien BPJS.
HEAL membukukan laba bersih sebesar Rp 430 miliar pada 2025, turun dari Rp 536 miliar pada tahun sebelumnya. Di sisi lain, pendapatan HEAL pada 2025 masih tumbuh 6,19% secara tahunan menjadi Rp 7,13 triliun.
Seluruh rumah sakit HEAL saat ini melayani pasien JKN dan telah terintegrasi penuh ke dalam sistem layanan kesehatan nasional sejak diperkenalkan pada 2014. Kondisi ini membuat HEAL memiliki eksposur besar terhadap pasien BPJS dengan tarif layanan yang relatif kompetitif dibandingkan rumah sakit swasta lain.
Analis Ciptadana Sekuritas Asia, Alif Ihsanario, menilai terdapat sejumlah tantangan struktural yang perlu dicermati, terutama terkait implementasi Kelas Rawat Inap Standar (KRIS) dan sistem Indonesian Diagnosis Related Group (iDRG).
Menurutnya, tekanan keuangan BPJS berpotensi mendorong pengetatan volume rujukan ke rumah sakit, di tengah cakupan JKN yang sudah hampir universal.
“Kondisi ini dapat membatasi pertumbuhan volume pasien hingga 2026,” tulis Alif dalam risetnya tertanggal 2 April 2026.
Sebagai respons, manajemen HEAL berupaya menurunkan ketergantungan pada BPJS dengan meningkatkan porsi pasien non-BPJS menjadi sekitar 40%, dari posisi saat ini yang masih di kisaran 20%–30%.
Hermina (HEAL) Raih Kenaikan Pendapatan di Tengah Turunnya Laba Bersih pada 2025
Strategi ini ditempuh melalui penguatan kemitraan korporasi serta penerapan skema zonasi di jaringan rumah sakitnya. Namun, Alif mengingatkan bahwa upaya memperbesar basis pasien swasta tidak akan instan.
Selain membutuhkan penguatan ekuitas merek, langkah ini juga dihadapkan pada persaingan yang semakin ketat di industri rumah sakit swasta.
“Kami memandang proyeksi pertumbuhan dua digit pada 2026 perlu dicermati, karena peralihan ke pasien swasta kemungkinan berlangsung bertahap,” kata Alif.
Sementara itu, analis Maybank Sekuritas Indonesia, Paulina Margareta, memproyeksikan HEAL dapat mencatatkan pertumbuhan pendapatan dan EBITDA masing-masing dengan CAGR 9% dan 11% pada periode 2026–2028.
Pertumbuhan tersebut didorong oleh peningkatan volume pasien dengan proyeksi CAGR rawat jalan sebesar 7% dan hari rawat inap 8% seiring ekspansi kapasitas dan permintaan layanan.
Selain itu, margin laba kotor diperkirakan meningkat sejalan dengan kenaikan intensitas perawatan dan average selling price (ASP) layanan.
Efisiensi juga diharapkan membaik, tercermin dari penurunan rasio beban penjualan, umum, dan administrasi (SG&A) terhadap pendapatan, didukung oleh skala ekonomi yang lebih besar, meskipun kapasitas tempat tidur diproyeksikan tumbuh dengan CAGR 6% pada periode yang sama.
Di sisi lain, Analis Fundamental BRI Danareksa Sekuritas, Abida Massi Armand, melihat kinerja HEAL pada kuartal II-2026 berpotensi solid.
Ekspansi Jaringan & Perkuat Layanan Eksekutif, Hermina (HEAL) Siapkan Capex Besar
“Musim pancaroba yang meningkatkan kasus penyakit menular, tren gaya hidup sehat pasca pandemi, serta mulai beroperasinya rumah sakit baru akan menopang pertumbuhan volume pasien,” ujar Abida kepada Kontan, Kamis (16/4/2026).
Dengan implementasi KRIS dan normalisasi iuran BPJS, Abida memperkirakan industri rumah sakit dapat tumbuh sekitar 6% secara tahunan pada 2026. Sementara itu, operator rumah sakit besar, termasuk HEAL, berpotensi mencatat pertumbuhan pendapatan di atas 10% per tahun.
Senada, Muhammad Wafi, Head of Research KISI Sekuritas prospek HEAL pada kuartal II-2026 positif didorong peningkatan volume kunjungan pasien dan kontribusi operasional rumah sakit baru, termasuk fasilitas di IKN.
Ia menambahkan, strategi lain yang dapat dilakukan HEAL untuk meningkatkan margin adalah memperkuat centre of excellenets untuk menarik pasien asuransi komersial dan mandiri.
Dari sisi rekomendasi, Paulina memberikan rekomendasi buy dengan target harga Rp 1.700 per saham. Adapun, Alif dan Wafi juga merekomendasikan buy dengan target masing-masing harga Rp 1.530 dan Rp 1.500 per saham.
Saham Terus Turun, Hermina (HEAL) Anggarkan Dana Buyback Rp 200 Miliar