Meski kinerja tersendat pada kuartal I, prospek AADI pada tahun 2026 masih menarik

Scoot.co.id – JAKARTA. Prospek kinerja PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) pada 2026 dinilai masih cukup positif meskipun perusahaan membukukan kinerja yang lebih lemah pada kuartal I-2026 akibat penurunan volume produksi di tengah ketidakpastian persetujuan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) batu bara.

Mengutip laporan keuangan di Bursa Efek Indonesia (BEI), pendapatan usaha AADI terkoreksi 10,34% year on year (yoy) menjadi US$ 1,04 miliar pada kuartal I-2026. Bersamaan dengan itu, laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk AADI juga menurun 27,02% yoy dari US$ 196 juta pada kuartal I-2025 menjadi US$ 143,04 juta pada kuartal I-2026.

Di tengah kondisi itu, Managing Director Research Samuel Sekuritas Indonesia, Harry Su, memperkirakan kinerja AADI sepanjang tahun ini masih berpotensi ditopang oleh tren kenaikan harga batu bara global. 

PMI Manufaktur Indonesia Naik, Prospek Emiten Masih Menantang

“Kinerja sepanjang tahun 2026 akan ditopang oleh harga batu bara dunia yang sedang dalam tren naiknya. Terlebih nanti pada kuartal IV yang memiliki seasonality cenderung lebih kuat didorong oleh China yang memasuki musim dingin,” ungkap Harry kepada Kontan, Rabu (3/6/2026).

Selain ditopang oleh harga batu bara yang membaik, AADI juga berpotensi memperoleh tambahan pendapatan non-operasional dari divestasi kepemilikannya di tambang batu bara metalurgi Kestrel di Australia. 

Diketahui, AADI melalui Adaro Capital Limited (ACL) akan menjual 720.385.220 saham atau mewakili 47,99% kepemilikannya di perusahaan pengelola tambang batu bara metalurgi asal Australia, Kestrel Coal Group Pty Ltd, kepada pihak ketiga dengan total nilai transaksi mencapai US$ 2,4 miliar. Kestrel merupakan tambang batu bara metalurgi bawah tanah yang berlokasi di Bowen Basin, Queensland, Australia.

Kepemilikan tersebut dijual kepada Yancoal Australia. Transaksi tersebut dijadwalkan rampung pada September 2026 dan berpotensi memberikan keuntungan satu kali (one-off gain) bagi perseroan.

Tetapi di sisi lain Analis Maybank Sekuritas, Hasan Barakwan, mencermati pendapatan maupun laba operasional AADI tidak akan terpengaruh secara langsung oleh divestasi ini. Pasalnya, Kestrel dicatat menggunakan metode ekuitas sebagai perusahaan patungan (joint venture), bukan dikonsolidasikan ke dalam laporan keuangan perusahaan.

“Dengan demikian, dampak negatif terhadap laba berulang (recurring earnings) relatif sangat kecil, yakni hanya sekitar 2% dari laba bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk tahun 2025,” jelas Hasan dalam riset 16 April 2026.

Lebih dalam, Harry mengingatkan bahwa sektor batubara masih dibayangi sejumlah ketidakpastian yang berpotensi memengaruhi kinerja perusahaan.

Salah satu risiko yang menjadi perhatian adalah rencana pemerintah membentuk entitas baru bernama PT Danantara Sumber Daya Indonesia (DSI), yang akan direncakan untuk menggantikan seluruh aktivitas ekspor.

Selain itu, pasar juga menanti revisi RKAB yang akan menjadi penentu arah produksi sektor pertambangan batu bara nasional. Jika pemerintah meningkatkan kuota produksi secara signifikan, kondisi tersebut berpotensi menambah pasokan global dan menekan harga batu bara dunia.

Analis Ciptadana Sekuritas Asia, Ryan Santoso, dalam riset 4 Mei 2026 justru menyebut pelemahan produksi AADI saat ini hanya akan bersifat sementara. Katanya, aktivitas pengupasan lapisan tanah penutup (pre-stripping) yang agresif menunjukkan bahwa perusahaan sedang mempersiapkan kapasitas produksi yang lebih besar ketika kejelasan kuota produksi telah diperoleh.

“Menurut pandangan kami, pemerintah berpotensi menaikkan kuota produksi batu bara nasional dari target saat ini sebesar 600 juta ton, terutama jika didukung oleh lingkungan harga batu bara yang lebih kondusif,” ujar Ryan.

Dengan demikian, meskipun volume pada kuartal I 2026 relatif lemah, kondisi operasional saat ini mendukung potensi peningkatan kinerja produksi pada semester II 2026.

Dari sisi pendapatan, Ryan memproyeksikan AADI dapat membukukan pendapatan sebesar US$ 5,81 miliar pada 2026, meningkat dibandingkan realisasi 2025 yang sebesar US$ 4,91 miliar. Dengan demikian, pendapatan AADI tahun ini diperkirakan tumbuh sekitar 18,4% secara tahunan (yoy).

Sementara itu, laba bersih diperkirakan meningkat lebih signifikan. Setelah mencatat laba bersih sebesar US$ 760 juta pada 2025, AADI diproyeksikan meraih laba bersih sebesar US$ 1,05 miliar pada 2026. Artinya, laba bersih berpotensi tumbuh sekitar 38% yoy.

Di tengah berbagai peluang dan risiko tersebut, Harry masih mempertahankan pandangan positif terhadap saham AADI. Ia merekomendasikan buy saham AADI dengan target harga Rp 14.000 per saham.

Kemudian Ryan juga memberikan rekomendasi kepada investor untuk buy saham AADI dengan target harga Rp 13.400 per saham. Pun juga Hasan merekomendasikan buy dengan target harga Rp 12.500 per saham.

Valuasi Saham Tanah di BEI Terdiskon, Tapi Investor Masih Hitung Ulang Risiko

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *